Ramadhan Penuai Makna

Ramadhan sungguh bulan paling indah bagiku. Bagaimana tidak? Selain sebagai bulan yang yang meyediakan diskon besar-besaran bagi yang menyambutnya dengan kegembiraan dan ibadah sebanyak-banyaknya. Bagiku yang seorang santri yang sudah lulus di KMI (Kulliyatul muballighien Al-Islamiyah) Pondok Pesantren Al-Ishlah, bulan ini juga adalah bulan safari, safari Ramadhan. Itu merupakan kewajiban bagi alumni yang masih berkewajiban mengabdi kepada pondok selama setahun, sebagai bentuk terima kasih pada pondok yang telah memberikan berbagai ilmu yang begitu banyak tak terhitung ada.
Meski tugas safari yang aku dapati tak seperti teman-teman yang lain, mereka ada yang bertugas safari di Bali, di Banyuwangi, dan tempat jauh lainnya dengan sebulan lamanya. Sedangkan aku cuma di daerah Bondowoso saja, hanya empat hari lagi. Ya, aku tak mau su’udzhon kepada pondok, mengapa aku tak di pilih untuk safari di daerah yang jauh seperti di Bali yang bisa da’wah sambil merefresh diri dengan memandang tempat-tempat yang eksotik. Karena memang tugas safari ramadhan ini, sebenarnya bukan tugas biasa yang hanya sekedar safari saja, tapi butuh persiapan dan ilmu yang mumpuni , aku harus husnudzhon pada pondok, mungkin ilmuku belum cukup untuk safari di daerah seperti Bali yang penuh tantangan, karena memang disana Islam menjadi agama minoritas. Akhirnya kusadari itu juga.
Alhamdulillah, syukur seharusnyalah aku lakukan. Ternyata aku juga terpilih untuk dapat tugas safari Ramadhan. Ternyata teman-teman yang lain, ada juga yang harus bertugas di pondok, pasti mereka merasakan boring yang sangat.
Tempat aku safari Ramadhan, bernama desa Pakem. Desa yang berada di pelosok kota Bondowoso, di bawah sebuah bukit pegunungan yang menawan indahnya. Sudah sangat jelas, Pakem adalah sebuah sebuah desa yang sangat desa, rumah-rumah gedhek (berdinding bambu) kecil penduduknya berejejeran dari arah timur ke barat kemudian sawah sepanjang satu kilometeran kemudian rumah-rumah kecil berderet hingga perbatasan desa itu, penduduknya pasti miskin-miskin . Begitu perkiraanku saat pertama kali datang ke desa ini. Ternyata dan ternyata, menilai seorang kaya atau tidak tidak bisa dilihat dari bagaimana bentuk rumahnya, bagaimana keadaan orangnya, tetapi harus tahu lebih dalam bagaimana orang itu, punya sawah nggak? Punya sapi nggak? Ya, mayoritas penduduk desa Pakem, memliki banyak sawah hingga berhektar-hektar, sapi peliharaannya pun banyak, tak cuma satu dua, tapi telah mencapai angka tiga sampai sepuluh tiap keluarga. Wahh!!. Jadi jangan heran bila anak-anak mereka bisa mereka manjai dengan sepeda motor mewah-mega pro, mio, dll- mesti terlihat jika mereka berangkat sekolah pagi, handphone mereka pun tak kalah sama anak kota, bermerek semualah, Hpku aja kalah.
Selama empat hari kuamati semua itu, keadaan desa, keadaan penduduknya. Sebenarnya penduduk Pakem begitu religius, hampir di setiap halaman rumah mereka ada mushallanya. Jadi setiap keluarga memiliki mushalla sendiri. Aku sempat kagum dengan suasana ini. Adik-adik smp 1 Pakem tempat aku safari Ramadhan-mengisi PesRom- pun ramah –ramah, antusias banget saat aku memberikan materi PesRom. Pokoknya asyik. Dan disini juga baru kusadari masih banyak orang awam di sekitar kita. Banyak kesalahan penduduk saat melakukan shalat, bukan dari khilafiyahnya yang sudah ada dalil sebagai dasar pelaksanaannya. Masih banyak penyelewengan yang dilakukan, salah satunya ketika salam tanda shalat akan berakhir, ketika menoleh ke kanan, tangan kanan mereka yang berada dilutut mereka balik terbuka, dan ketika menoleh ke kiri pun sebaliknya tangan kiri mer eka balik juga. Aku cukup khawatir dengan masalah ini, ini menyangkut dengan keberadaanku, sebagai pemuda yang bertanggung jawab. Aku sadar ternyata tantangan itu sangatlah besar.
Ramadhan ini benar-benar berharga, kusyukuri itu. Jika tidak Ramadhan kapan lagi aku akan menemukan semua makna ini. Dalam Ramadhan kutuai makna. Karena Ramadhan adalah bulan penuai makna.