Memoar yang menggetarkan (sebuah review)


Judul                                  : “De Liefde” Memoar Sekar Prembajoen

Penulis                               : Afifah Afra

Penerbit                            : Afra Publishing

Tahun Terbit                    : Januari 2010

Jumlah Halaman            : 456 Halaman

Kesepian cinta akan hadir bila kita terjauhkan dari yang dicinta.  Apalagi terjauhkan dengan cara pengasingan, yang begitu rumit ceritanya. Begitu Sekar Prembajoen, dalam negeri pengasingan, walau di asingkan di negeri Belanda. Meskipun lebih teramat enak daripada interinan lain, perasaan getir dan was-was selalu datang tanpa di undang, lebih-lebih kekhawatirannya karena negeri tempat ia di buang cenderung mendoktrinnya dengan pemahaman liberal. Ia semakin tak tahan, ingin lari, tapi tak akan tersanggupi.

Sebuah kisah perjuangan Indonesia saat masa penjajahan Belanda. Tentu sangat pahit, ketika idelisme antara perjuangan dan cinta di pertaruhkan. De Liefde, sebuah kisah besutan Afifah Afra yang satu ini merupakan sekuel kedua buku De Winst yang lebih dulu terbit dan hasilnya best seller. Merupakan kelanjutan, buku sebelumnya kisah-kisah di dalamnya tetap mengisahkan tokoh-tokoh terdahulu, di tambah dengan tokoh-tokoh baru yang kemudian menjadi munculnya kisah-kisah dalam novel ini. Karena ini adalah sebuah novel memoar Sekar Prembajoen, jadi kisah pembuangannya di negeri Belanda mendominasi.

Mba Afra -sapaan akrab Afifah Afra- memang termasuk penulis yang sangat perhatian dengan epik kemerdekaan. Dari trilogy sebelumnya Bulan Mati di Javanese Orange, sampe yang terbaru ini. Semua berlatar epik kemerdekaan Indonesia, namun di Novel ini Mba Afra lebih menonjolkan idealisme yang harus di pegang teguh. Hampir sama dengan buku sebelumnya De Winst, yang juga menonjolkan ini. Namun, ramuan-ramuan cinta tetep ada tentunya, tetapi bukan cinta picisan yang ada dalam novel-novel biasanya. Cinta yang ada antara idealisme dan perjuangan kemerdekaan. Perjalanan prembajoen dalam pengasingan yang terasa berat walaupun dalam keadaan yang bisa di bilang enak. Sebuah Novel mantap dan menggugah, memoar yang menggetarkan, so jempol untuk mba Afra.

21.06.2010, KMI Al-Ishlah Office

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s