Ibu, Cintamu Mengakar Dalam Hatiku (Lomba 1000 Kisah Tentang Ibu Gery Chocholatos dan Ungu)


Banyak orang yang mengatakan, ada surga di telapak kaki sang ibu. Dalam hadits Nabi, ketika ada seseorang yang bertanya pada sang Nabi, “Siapakah yang harus pertama kali aku hormati?” kemudian Nabi menjawab “Ummuka” begitu seterusnya hingga kali ketiga, dan ke empat kalinya Nabi menjawab dengan “Abuka”.

Lantas, dengan alasan apakah yang membuat aku tak taat padamu wahai ibu…

***

Mengingat kembali ceritamu, aku teringat pada kisah seorang guru di pulau Belitong sana. Seorang guru perempuan yang menjadi inspirasi Andrea Hirata menulis novel fenomenalnya, Laskar Pelangi. Kurasa kisahmu tak kalah dengan kisah bu Muslimah ibuku, mengingatmu sangat menginspirasi hidupku.

Ibuku adalah seorang yang pekerja keras, dengan teguh pendirian yang sangat. Sejak sekolah telah mengasah bakat entrepeunernya dengan membantu nenek, yang memang berjualan berbagai macam kue gorengan. Sambil sekolah juga menjajakan ke warung-warung yang telah menjadi langganan tempat penitipan. Begitu seterusnya hingga beliau menginjak bangku SPG (Sekolah Pendidikan Guru).

Setelah lulus SPG juli 1986, di bulan oktobernya beliau menjadi sukwan di SD Bataan 1, sebuah sekolah dasar di pelosok sana. Di karenakan jumlah guru di SD itu lengkap semua, maka waktu itu beliau hanya masuk tiga hari dalam seminggu, hanya untuk mengajar keterampilan dan mengganti guru yang tidak hadir. Sesuai dengan perjanjian di karenakan waktu itu tidak ada jatah gaji untuk guru sukwan, maka beliau harus rela datang dan mengajar ke SD yang cukup jauh itu tanpa mendapatkan gaji. Untungnya beliau mempunyai keterampilan yang ulet, hasil dari pesanan orang taplak meja kristik akhirnya ada ongkos jalan dan terkadang diberi kakek. Nah, untuk ongkos pulangnya ibu diberi oleh guru sana, yang kebetulan adalah tetangga kakek, yang kemungkinan ada membayar budi kakek yang membantu dia mencari sekolah.

Menjadi sukwan di SD Bataan 1 ibu hanya sembilan bulan, di bulan juni 1987 ibu pindah ke SD Muhammadiyah, atas lamaran lima pengurus Muhammadiyah waktu itu, untuk mau mengajar di SD Muhammadiyah. Tepat tanggal 20 Juli 1987, ibu resmi menjadi guru di SD Muhammadiyah dengan seorang guru dan kepala sekolah. Hanya bertiga sebagai pioneer berkembangnya SD Muhammadiyah Bondowoso.

Lokasi gedung SD Muhammadiyah berada dalam satu tempat dengan gedung SMP Muhammadiyah. Saat ibu telah menginjak tahun ketiga mengajar di SDM, ada sebuah peristiwa yang menyebabkan pengurus Muhammadiyah meninggalkan SDM. Namun, ibu masih tetap bertahan untuk terus memperjuangkan SDM, karena kasihan anak orang yang dominan dari keluarga tidak mampu lalu bagaimana mereka akan mendapatkan asupan ilmu jika berhenti dari sekolah ini dan mengakibatkan mereka tidak sekolah.

Sampai suatu ketika ada dua orang guru SMPM yang menghadang ibu, dengan bermaksud menanyakan mengapa ibu masih mau mengajar sedangkan para pengurusnya meninggalkan SDM ini, lalu mereka mengatakan

“Kenapa anak saya tidak saya sekolahkan di sini, iya kalo terus. Kalo nanti berhenti di tengah jalan lalu gimana sekolah anak saya?” mendengar perkataan itu ibu spontan mengangkat telunjuk.

“Demi Allah, jika saya diberi umur, saya yang akan mempertahan SDM” begitu jawab ibu, dengan tetap keukeuh dengan pendiriannya.

Ternyata dari SDM itulah ibu menemukan separuh jiwanya, ayahku. Saat itu ibu masih muda dan cantik-cantiknya yang menjadi idaman anak remaja masjid Muhammadiyah waktu itu. Ditambah lagi dengan kebaikan, kepintaran, tanggung jawab, rajin ibadah dan berbagai macam hal baik dalam dirinya yang cukup membuat banyak pemuda menginginkannya.

Ketika SDM membutuhkan sebuah papan nama di depannya, hal ini menjadi sebuah taruhannya. Maka para pemuda masjid semua berusaha mencari perhatian, dan ternyata pemuda yang gentleman adalah ayahku. Untuk menyatakan obsesinya ayah mengatakan pada ibu “Kalau ada izin Allah, saya ingin berumah tangga dengan bu Menik” begitu kata beliau. Dan akhirnya itu menjadi jalan menuju hari paling sakral bagi beliau berdua, di tanggal 19 Maret 1990, tepatnya ketika tahun ke empat ibu mengajar di SDM.

Namun lagi-lagi karena hal yang menyangkut gaji, memang sebuah lembaga swasta sulit sekali mencari penghasilan untuk memeberikan gaji buat para pegawainya. Ditambah lagi siswa yang menjadi murid di SDM tidak semua yang membayar, karena mereka adalah anak-anak keluarga menengah ke bawah. Setelah menikah, bukannya gaji mungkin bertambah naik, eh ternyata ibu tidak mendapatkan gaji selama satu tahun sejak satu bulan setelah pernikahan, saat April 1990.

Tidak digajinya ibu itu sampai beliau hamil anak pertamanya dan melahirkannya, yaitu aku. Dari mana membiayai hidup? Dari gaji menagajar ayah yang tak seberapa, karena mengajar di SMP swasta, ditambah lagi juga dengan jualan snack, biji kacang panjang yang di goreng sebagai penambah rezeki.

Bahkan malamnya sebelum esoknya ibu melahirkan anak pertamanya, aku. Ibu masih menyempatkan diri untuk memasukkan biji kacang panjang yang telah di goreng ke dalam plastik yang mau di jual besok pagi. Esoknya, sakit yang telah terasa sejak dua hari sebelumnya, akhirnya ibu benar-benar melahirkan anaknya. Tepatnya pada 3 Januari 1991 M/ 17 Jumadil tsani 1411 pukul 09.30, Alhamdulillah lahirlah aku dengan selamat dan sehat, dengan berat tiga kg.

Di usia tiga bulan anak pertamanya, aku. Ibu telah menyekolahkannya di SD, dalam artian membawanya ke sekolah tiap hari. Jadi setiap beliau mengajar tentu anak pertamanya itu di bawa ke dalam kelas, di taruh di lantai dengan di beri triplek yang dilapisi dengan sebuah lamak (alas). Namun hal itu tak membuatnya semakin rumit mengajar karena sang anak pun turut memperhatikan penjelasan ibunya pada murid-muridnya. Tak hanya itu, karena hampir semua murid menyukai anak pertama gurunya itu, karena lucu dan gembul. Sering menggendongnya bahkan sampai-sampai si bayi membuang air, triplek yang biasa menjadi alasnya juga di bersihkan oleh murid-murid.

Sejak ditinggal oleh pengurus lembaga juga kepala sekolahnya, ibu pun mengangkat dirinya sendiri menjadi kepala sekolah, ya bisa dibilang KS-KSan karena memang tidak ada surat keputusan dari pengurus Muhammadiyah, sebagai pemimpin perusahaan, juga pedagang yang menjual snack di koperasi kecil-kecilan di SDM. Akhirnya kira-kira setelah kelahiranku ibu mendapatkan gaji kembali walau itu tak cukup untuk hidup namun, tetap disyukurinya sebagai penambah. Oleh karenanya, ibu masih mencari peluang-peluang lain untuk menambah pengahasilannya.

Kehadiran anak pertama tentunya menjadikan kebutuhan keluarga semakin bertambah, maka ibu berusaha terus mencurahkan bakat entreupreuanernya. Dagangan ibu merambah ke berbagai macam snack, tetapi di bagian ini ibu lebih konsentrasi dalam penjualan kacang telur. Nama produksi kacang telur itu, di sesuaikan dengan nama anak pertamanya, kacang telur “Ridho”.

Alhamdulillah, dari kacang telur itu rezeki keluarga semakin bertambah. Banyak warung-warung yang menjadi pelanggan untuk menjualkan kacang telur itu. Ayah menjualnya ke warung-warung yang ke arah ke timur, karena arah mengajar ayah dari rumah adalah ke timur. Sedangkan ibu menjualnya ke warung-warung arah barat, sampai SDM.

Kacang telur “Ridho” laris manis di pasaran ternyata, alhasil penghasilan hidup dari usaha itu lebih banyak dari mengajar dan dari menjadi KS-an waktu itu. Bertambah tahun ternyata ummi terus berusaha mencari pengahsilan yang lebih. Apalagi ketika anak keduanya lahir dengan selamat mungil dan cantik tanggal 9 November 1994, adikku. Disusul di tahun 1996 anak ketiganya lahir pada tanggal 20 Maret, bayi laki yang besar dan gembul.

Namun ibu masih tetap, seorang ibu sekaligus istri yang tabah dan tegar dengan segala usahanya masih terus berusaha mencari pengahsilan yang lebih dan halal. Namun memang hidup itu memang tak bisa di anggap selalu mudah atau sebaliknya, ibu yang mengangkat sendirinya menjadi kepala sekolah dengan niat agar SDM tetap berdiri dan memberikan konstribusi untuk negeri khususnya melalui memberikan sekolah murah bahkan gratis untuk warga sekitar yang ekonominya di bawah rata-rata. Ternyata masih ada juga orang yang tidak suka dan berambisi untuk menjadi seorang kepsek dan berbagai motif lainnya.

Padahal ibu bersedia menjadi kepsek walau hasil yang didapatkan tak sebanding dengan yang di keluarkan, ya semua itu hanya untuk sebuah pengabdian. Ketika telah melampui sepuluh yahun menjadi kepsek ibu akhirnya harus mengundurkan diri dari jabatan kepsek karena hal yang berbagai macam motif di atas tadi.

Sehingga di tahun 1998 setelah sepuluh tahun menjadi kepsek, ibu membuat surat pengunduran diri dan kembali menjadi guru saja. Awalnya hal itu dirahasiakan pada ayah, tapi kemudian dengan sangat terpaksa ibu harus menunjukkan surat tersebut. Ayah merasa ada yang tak beres, sehingga tersulut emosi kenapa mesti mengundurkan diri, apa ibu punya salah yang besar. Selama empat jam ibu mempertahankan diri dengan kebenarannya sampai jam dua belas malam. Yang akhirnya memaksa ibu untuk bersumpah,

“Kalau memang saya, yang salah maka dua tahun ke depan saya akan keluar dari SDM, tapi kalau mereka yang salah nanti mereka yang akan keluar dari SDM” begitu sumpah ibu.

Ternyata benar beberapa tahun ke depan, orang-orang yang membenci ibu keluar dengan berbagai macam alasan, ada yang karena didemo, ada yang karena perusahaannya bangkrut, dan banyak alasan lainnya. Akhirnya, ayah mempercayai ibu kalau beliau itu benar.

Sebuah keluarga yang bisa dinamakan keluarga besar ini, dari bapak ibu dan tiga anaknya. Memang jelas kebutuhan semakin bertambah saja, Ditambah dengan keadaan ekonomi Negara yang anjlok, yang mengakibatkan krisis moneter pada tahun 1998. Akhirnya perusahaan kacang telur “Ridho” harus membanting setir, karena harga kacang semakin naik tak terarah di pasaran.

Sempat ibu kebingungan, dari manakah akan dapat tambahan penghasilan? akan diberi makan apa ketiga anaknya? Uang apa untuk membiayai anak pertamanya sekolah? Bahan pencarian yang dibina sejak yang telah menjadi tonggak hidup keluarga sudah hancur lebur, namun bukan ibu jika harus putus asa. Ibu tetap tabah dan terus berusaha serta tetap meminta kemudahan kepada Sang Maha Pemurah.

Ibu kembali membuka peluang-peluang lain yang memungkinkan bisa mendapatkan hasil yang cukup, dengan insting entreupreunernya ibu masih berkutat dengan yang namanya dagangan. Kali ini ibu mencoba menjual telur asin, krupuk puli, bumbu pecel, jamu ekstrak, dan kripik ketela. Namun masih saja terhimpit oleh pengaruh krisis moneter yang mencengkeram negeri ini.

Belasan tahun ibu mengajar ibu masih bersatus guru swasta, sempat mencoba mengikuti test untuk menjadi pegawai negeri, namun itu belum mendapatkan status pegawai negeri. Namun beliau yakin mungkin rezeki itu belum miliknya. Ibu terus mengajar demi sebuah pengabdian.

Di saat akhir aku kelas enam SD, ada sebuah keluarga yang memberikan kesempatan buat kami sekeluarga untuk memakai rumahnya dengan alasan keluargaku Insya Allah shalih dan rajin ibadah. Kebetulan rumah itu cukup lebar dan si empunya jarang di rumah tetapi sering di rumah Jakarta. Kami sekeluarga yang awalnya bertempat tinggal bersama kakek nenek, akhirnya pindah ke rumah itu.

Saat tanggal 28 Oktober 2002, lahirlah anak keempat di keluarga ini laki lucu dan mirip denganku waktu kecil kata sebagian orang. Kehidupan keluarga tentunya lebih banyak pengeluaran tentunya. Di tahun 2003, aku lulus SD dan ibu ayahku memberi jalan agar aku melanjutkan studi menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Adik perempuanku sudah kelas 4 SD, sedangkan adikku yang ketiga telah kelas 2 SD.

Di saat itu pula dagangan ibu mulai menurun, tapi ibu tetaplah ibu yang dulu. Seorang ibu yang tabah dan tegar menyerahkan semuanya pada Allah saja. Alhamdulillah tahun itu ibu menjadi calon pegawai negeri (cpn). Dan ibu masih tetap bersahaja, dengan terus mengajar walau dengan gaji yang tak sesuai dengan perjuangannya.
Tahun terus berjalan, tahun 2005 ibu resmi menjadi pegawai negeri. Alhamdulillah Allah memberi kita rezeki selalu. Kemudian ayah pun menyusul menjadi pegawai juga bebarap tahun berikutnya. Namun, kehidupan masih terus berjalan tentu ujian tak akan sepi menerjang.

Namun ibu masih bisa saja melaluinya dengan keyakinan Allah selalu bersamanya. Saat SDM beberapa kali ganti guru karena alasan lebih karena gaji yang tak seperti seharusnya, ibu masih mampu bertahan dengan alasan untuk sebuah pengabdian. Sampai saat ini, aku menginjak bangku kuliah, adik perempuanku kelas 2 SMA, adik lakiku ketiga kelas 3 SMP, dan adikku yang terakhir telah kelas dua SD.

24 tahun kini usia mengajar ibu dan masih terus bertahan dengan jiwa entreupreunernya, masih berjualan di koperasi. Berbeda dengan tahun sebelumnya, saat ini ibu tak bisa menjual dagangan produksi sendiri, karena waktu yang sudah padat. Jadi, dagangannya berubah menjadi snack instan dari pabrik, Gery Chocholatos termasuk snack yang selalu dijual oleh beliau di koperasi sekolah, karena menjadi makanan yang sering ditanyakan oleh banyak siswa.

Terus merambah untuk menambah penghasilan karena kebutuhan tak akan berkurang pasti bertambah, ibu terus melanjutkan entreupreunernya ke Tupperware dan blue gas. Dalam perkataannya suatu ketika

“semua ini demi menjalankan kehidupan dunia menuju akhirat, jalani sesuai aturan Allah dan Rasulnya, semoga sukses”

Ya, aku yakin semua itu ibu lakukan untuk kehidupan yang baik bagi anak-anaknya, Tak ada alasan lain, ya hanya untuk itu. Sebagai anak pertama, Insya Allah aku akan memberikan yang terbaik untukmu ibu, sesuai keinginanmu dan mengikuti jejak baikmu. Juga membawa adik-adikku pada jalan kebaikan. Semoga Allah memudahkan niat baikku ini amien.

***

Dengan seluruh kebaikanmu, tentang ketulusanmu, tentang jiwa bertanggung jawabmu, tentang pengabdianmu sebagai seorang istri bagi suamimu dan ibu bagi anak-anakmu, tentang pengabdianmu untuk agama dan Negara ini, tak ada satupun yang membuat cintaku padamu gugur dari hatiku.

Lantas dengan alasan apakah yang membuat aku tak mencintaimu ibu. Ibu, cintamu mengakar dalam hatiku..

17 Syawal 1431, 20.20
Untuk seorang ibu yang aku cintai selalu

10 thoughts on “Ibu, Cintamu Mengakar Dalam Hatiku (Lomba 1000 Kisah Tentang Ibu Gery Chocholatos dan Ungu)

  1. qqcakep said: Itu yang di photo Ibunya apa kakaknya? Kok kayaknya usianya gak beda jauh.Semoga beliau peroleh tempat yang indah kelak di firdaus-Nya.

    Hehehe, itu ummi saya mba.. kalo nggak percaya tanya aja ma beliau.. masak sih ana mau bohong.. hehehe…Apa ibu saya awet muda ya? Ato malah saya yang muka tua y mba?? hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s