Engkaulah Harapan Itu, Nak (Lomba Surat Untukmu, Nak : Dari Ayahmu)

Bermula dengan basmalah, dengan mengucap asma-Nya bapak memulai rangkaian kata yang tercipta hanya untukmu, ini surat cinta untukmu, nak. Semoga keberkahan itu mengalir dari awal hingga akhir nantinya nak, hingga kau lahir ke menatap dunia sampai kau menutup mata meninggalkan dunia.

Alhamdulillah, syukur bapak selalu pada-Nya nak, Dzat yang memberi bapak kesempatan menghirup nafas sampai sekarang, sampai bapak tahu bahwa kau juga telah berkembang di rahim ibumu. Betapa senangnya bapakmu ini mendengar kabar tentang itu, nak.

Kau harus tahu, nak. Dialah juga yang memberi ruh ke dalam rahim ibumu, kemudian berkembang dan terus berkembang semakin hari. Tumbuhlah mata, telinga, bibir, kedua tangan dan kaki. Itulah engkau nak, sadarkah kau bahwa itu dirimu?

Semoga bapak masih merasakan nikmat-Nya nak, ketika kau telah hadir ke alam ini, menghirup udara pertama kali dan menjadi generasi pertama keluarga kami. Sepanjang malam dan lima waktu yang mustajabah, di atas sajadah kusut ini sebagai saksi. Bapak selalu mengharap pada-Nya nak, engkau lahir dengan selamat dan bapak pun masih ada berpijak di bumi ini. Itu yang selalu bapak pinta pada-Nya nak, tentang hidupku dan hidupmu nak. Tentang keinginanku bertemu denganmu.

Ada alasan kenapa hasrat bapak begitu menggebu untuk bertemu denganmu, nak. Bapak selalu ingat nasehat nabimu, bahwa bapak mempunyai kewajiban untuk merawatmu, membimbingmu, mengajarimu, memberimu ilmu. Tentang kebenaran, tentang jalan menuju kehidupan yang menggembirakan.

Nak, itu adalah tentang kehidupanmu nanti. Ingin sekali bapak mengajarkan padamu siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, kitab apa milikmu, apa kewajibanmu di dunia ini dan apa yang terlarang untukmu di dunia dan segala hal tentang syari’at-Nya. Dan ini adalah kewajiban bapak nak, menunjukkanmu akan keberadaan-Nya benar-benar ada.

Nak, bapak takut akan ancaman dari-Nya. Agar supaya setiap bapak berhati-hati menghindarkan setiap keluarganya dari neraka yang panas. Oleh karenanya bapak selalu meminta kepadanya untuk diperpanjang umur sampai engkau hadir, atau kau hadir di dunia ini. Ya, sebuah kesempatan yang mempertemukan kita di dunia-Nya, nak.

Nak, dengan surat ini bapak ingin berkisah tentang dunia yang mungkin kau dambakan selama ini. Karena bapak tahu, di dalam rahim ibumu kau merasa gelap, sendiri dan sesak sekali. Maka, bapak tahu bahwa engkau begitu merindukan akan dunia ini, yang lebih terang, yang lebih indah, yang lebih nyaman, oleh kehangatan peluk ibumu juga aku, bapakmu.

Nak, inilah kisah tentang dunia yang engkau dambakan itu. Andai kau tahu cuaca saat ini tak terkendali, kadang panas sepenuh hari atau sebaliknya dingin tak terperi. Di negerimu nak, keadaan Negara semakin kacau balau tak terkendali, politik menjadi ajang mencari rezeki, tak peduli itu halal atau haram, itu dianggapnya adalah rezeki. Berbagai institusi juga latah mengekor mencari rezeki dari arah manapun seenaknya saja, walau dengan cara paling kejam sekalipun rasanya tak apa, artinya manusia saat ini sangat tamak, nak. Jika sudah seperti itu keadaannya, maka yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin nak.

Nanti, kau akan melihat kelaparan dan kemiskinan merajalela di mana-mana, orang pengangguran berkeliaran tak tentu arah. Akibatnya kemerosotan moral dan kekacauan kehidupan yang ada, nak. Terus bukalah matamu nak, pengamen, gombel, gepeng, pengemis, pencopet, pencuri, penjambret akan bertambah nantinya, semakin tak nyaman dipandang dunia rasanya.

Itu bentuk ketidakadilan dan kedzoliman, nak. Belum lagi rasa menyayangi, saling menolong, saling menghormati, dan mencintai antar sesama rasanya telah pudar atau bahkan hilang dalam diri manusia. Yang ada hanya sifat-sifat syaitan yang merajainya, iri, dengki, sombong, pemarah, pemberontak, tukang buat onar, pembangkang kini yang ada.

Kerusuhan terjadi dimana-mana, pembunuhan, dan pembantaian sadis sepertinya menjadi hal yang biasa. Perjudian dan kemaksiatan lainnya, sudah biasa menjadi konsumsi masyarakat. Jadi, itulah yang akan engkau hadapi nantinya, nak.

Nak, dari surat cinta ini engakau telah tahu bagaimana keadaan dunia yang menurutmu indah itu. Namun, walaupun begitu mau tidak mau kau pun harus lahir ke dunia ini. Sesuai tugasmu, sebagai kholifatul fil ardhi. Kau harus ada sebagai warna bagi duniamu.

Ya, warna dengan keislamanmu, dengan agamamu. Inilah agamamu nak, Islam. Dan Rabb yang menciptakanmu adalah Allah SWT. Engkau mempunyai Nabi, beliaulah teladanmu dalam hidup Rasulullah Muhammad saw. Dan kitab yang menjadi pedoman hidupmu adalah Al-Qur’anul Karim.

Nak, dengan tugasmu sebagai kholifah di bumi Allah ini, bukanlah suatu yang mudah dan juga tidak sulit. Maka, bapakmu melalui surat ini, menginginkanmu menjadi Al-Amin seperti Nabimu, menjadi terhormat seperti Abu Bakar, kuat, pemberani dan hebat seperti Umar, lemah lembut seperti Utsman, dan baik hati seperti Ali. Semoga dengan itu engkau bisa menjadi sebaik-baik ummat.

Nak, sebagai akhir dari surat cinta untukmu ini, bapak selalu berdo’a semoga Allah memberikan kesehatan hingga engkau besar nanti dan menunjukkan jalan terbaik untukmu, dan bapak berpesan jadilah anak sholeh yang berbakti pada orang tua, Agama dan Negara. Salam cinta dan rindu selalu dari bapakmu, nak. Sungguh, bapak rindu mencium keningmu kali pertama nanti. Engkaulah harapan itu, Nak.

*Ditulis dalam rangka mengikuti lomba menulis “Surat Untukmu, Nak: Dari Calon Ibu/ Ayamu” dan saya persembahkan untuk semua calon anak Indonesia, lahirlah kau dengan selamat dan bawalah negeri pada keselamatan..

Monggo teman-teman ikutan lomba ini, tidak di pungut biaya koq, gratis..
Untuk Info lebih lanjut ada di Link URL ini, cekeidot : http://azkamadihah.wordpress.com/2010/lomba-surat

6 thoughts on “Engkaulah Harapan Itu, Nak (Lomba Surat Untukmu, Nak : Dari Ayahmu)

  1. kalo aku jadi anak Mas Ried & baca surat ini aku bakal nanya:”Pa, saya kan baru lahir mana bisa baca surat sepanjang ini?” ^_^”Pa, emang nabi kita ga sama ya? koq nulisnya ‘…Bapak selalu ingat nasehat nabimu,…’. bukan nabi kita ya Pa?”

  2. takedisaja said: kalo aku jadi anak Mas Ried & baca surat ini aku bakal nanya:”Pa, saya kan baru lahir mana bisa baca surat sepanjang ini?” ^_^”Pa, emang nabi kita ga sama ya? koq nulisnya ‘…Bapak selalu ingat nasehat nabimu,…’. bukan nabi kita ya Pa?”

    hehehe, ya mba ini khan cuma sebagai surat saja toh mungkin di bacakan nanti ketika sudah baca.. mungkin saja getaran ini bisa di rasakannya. Soal nabi, ya maksud saya itu nabi anak saya dan saya.. Btw terima kasih sudah mampir dan kritiknnya mba Takedi :)Kapan-kapan main lagi ya di blog saya, tulisan ini dalam rangka mengikuti lomba membuta surat untuk anak mba.. hmm, saya sih belum punya anak, baru kuliah juga hehhee..

  3. iya iya mas. hehe….bagus, tapi menurutku terlalu panjang dan berat. tapi namanya juga “surat cinta”, terserah yang nulis aja.iya, insyaallah main disini lagi. banyak tulisannya kan?! monggo main2 juga ke rumahku…^_^anyway, semoga suratnya sukses yaa…

  4. takedisaja said: iya iya mas. hehe….bagus, tapi menurutku terlalu panjang dan berat. tapi namanya juga “surat cinta”, terserah yang nulis aja.iya, insyaallah main disini lagi. banyak tulisannya kan?! monggo main2 juga ke rumahku…^_^anyway, semoga suratnya sukses yaa…

    Mba Takedi: Hehew, ya maksih mba.. Ya sih.. tapi pinginnya gituh isinya, ya bisanya cuma gitu hwehe..Monggo mapir lagi mba, alhmdulillah lumyan banyak mba. Ya, saya juga sudah main2.. tapi belum semp[at baca2 sih.. hehhe.. ntar mba Insya Allah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s