Puisi-Puisi Dimuat Di Radar Surabaya 2 September 2012

Mawar Merah Dari Surga

Di tanah yang konon gersang

Taman sepanjang mata memandang

Elok tumbuh macam bebunga

berkat simbah darah syuhada

 

Adakah kau tahu?

Benih yang kau tanam waktu itu

Kini berlimpah ruah mekarnya

Ke bumi. Ke langit.

Jauh dari wajahmu

 

Adalah peluh :

matari terik terbasuh

Adalah lelah :

matari tanpa istirah

 

Kini ia menjelma seikat mawar merah

Turun dari surga

Sebab wanginya baka

Waktu. Tanah. Air.

Suara. Rasa. Napas.

laksana hamparan firdaus

: adakah kau rasa?

 

Ayat-Ayat Bening

Kehidupan laksana samudra

bergelombang keras

membawa seluruhnya terhempas

bergelombang lembut

menari mendayu-dayu

lantaran itu aku, kau dan mereka

mesti dalam siap siaga

menantang hantaman mendatang

merasai nikmat bertubi-tubi

dengan senyum dan

ketenangan semesta diri

bersama ayat-ayat bening

dalam setiap hening

rukuk dan sujud jiwamu

Malang, 1 Juli 2012

 

 

Khatam

Sudahkah ayat-ayatnya khatam

terlafazkan berayun-ayun

di bibirmu penuh kesyahduan

 

Sedangkan pagi, siang, malam

musala, langgar, surau, masjid

jalanan, bis, rumah, pasar, warung

melambungkan cinta ke singgasana

 

: lafaz-lafaznya yang mulia tiada bandingnya

Bondowoso, 15 Agustus 2012

Negeri Arakan

“Arakan;
Apa itu Arakan?

Jenis makanan, minuman,

atau hewan?”

kau penuh tanya,

di dahi mereka bertanda tanya

 

Ini tentang sebuah negeri kawan

konon bersumber daya alam besar

sampai kini jadi rebutan

sepanjang jalan penjajahan

 

Bagai daging segar

tubuh-tubuh bangsanya dibakar

santapan lezat pagi dang siang

manusia serakah tak berprikemanusiaan

 

Betapa rindu akan pembebasan

bernafas tanpa hambatan

tak ada peluru menerjang berhamburan

detik bayang-bayang kematian

 

Ini memang asing bagimu

namun jika sampai padamu

jangan sangsikan penderitaannya

karena memang mereka butuh merdeka

 

: di tiap-tiap syahadat dalam fardu yang merindu

lelaku menyayangi segala saudara

Bondowoso, Agustus 2012

Satu Purnama Cahaya

Seiring munculnya sabit di angkasa

kita memulai perjalanan penuh suka cita

mendaki keseriusan mencapai puncaknya

menghalau penyakit segala

dan terus berjalan

kelana bersama pelana

: sudahkah kau temukan cahaya bersama pelana yang kau tunggangi hampir satu purnama?

Bondowoso, Agustus 2012.

Roadshow Keffiyeh Merah Ke Jawa Timur

#pernah dimuat di Harian Surya 20 Juni 2012, klik!

                Sore itu daerah Tirto kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, tetap bernafas seperti adanya, selalu ramai. Ya, daerah ini berjejeran dengan rumah makan, café, toko, warnet, counter, foto kopi, dan semua yang berkaitan dengan kehidupan dengan mahasiswa yang bersifat materi. Maka, tak heran jalan-jalan hampir selalu penuh dengan anak-anak muda yang tak lain mahasiswa-mahasiswi, baik yang berjalan di pinggir jalan atau menaiki sepeda motor dan mobil yang meramaikan arus Jalan Tirto.

Di sebuah café, tepatnya Green Camp Us. Ada kumpulan orang yang sedang asyik ngobrol ringan, kumpulan mahasiswa namun serius dan antusias mendengarkan dan menanyakan apa-apa yang ingin diketahui. Ya, sore itu Journalistic Club Ilmu Komunikasi UMM sedang kehadiran tamu dari negeri yang cukup jauh di Timur Tengah tepatnya Saudi Arabia. Yakni dari Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Saudi Arabia.

Dalam rangka roadshow buku yang diterbitkan perdana oleh penerbit FLP Saudi, mereka mengadakan diskusi bedah buku dengan gratis. Buku itu berjudul Keffiyeh Merah, kumpulan tulisan novelette dan cerpen yang pernah dimuat di majalah Islam Annida Online. Buku ini langsung dibedah oleh penulisnya sendiri yaitu Maryam Qonitat. Sedangkan, perwakilan dari FLP Saudi adalah Taqi yang saat ini juga menjabat sebagai ketua FLP Saudi.

Diceritakan, antara Taqi dan Maryam belum pernah bertemu. Mereka hanya bertemu di dunia maya. Karena apa? Mereka berbeda tempat domisili, Taqi yang melanjutkan studi di Ummul Quro’ Saudi sedangkan Maryam setelah menyelesaikan Strata satunya di Al-Azhar Mesir, melanjutkan magisternya di International Islamic University Malaysia. Setelah cukup akrab di dunia maya, Taqi meminta naskah Maryam untuk dijadikan buku perdana yang diterbitkan  Cahaya Publishing (yang dikelola FLP Saudi Arabia).

Mereka baru bertemu pada acara yang mereka sepakati untuk mengisi liburan, yaitu safari cahaya roadshow Keffiyeh Merah di Jawa Timur selama 15-24 Juni 2012. Di Malang dilakukan di berbagai tempat seperti Pondok Pesantren Babul Khoirot di Lawang pada tanggal 16 Juninya, sore sampai sehabis maghrib menjelang isya dilakukan di Green Camp Us cafe, bersama JC UMM.

Maryam menceritakan bagaimana proses kreatifnya menulis buku pertamanya itu. Termasuk mengapa ia mengambil judul Keffiyeh Merah. Menurut dia, keffiyeh itu sebagai symbol. Lihat saja bagaimana keffiyeh atau biasa kita sebut sorban itu tak hanya dipakai oleh orang-orang Timur Tengah. Tapi kali ini juga menjadi fashion, insan nasyid atau band religi yang hadir pada saat Ramadhan. Namun bagi penulis yang mengaku memulai karir kepenulisannya sejak 2010 ini, mengatakan bahwa keffiyeh itu sebagai simbol kebangkitan. Sebagaimana cerita di dalamnya bergenre epik romantis, yang tak bercerita romantisme picisan namun cinta yang memberikan kekuatan.

Menjelang akhir pertemuan, Maryam memberikan satu ekslempar Keffiyeh Merah sebagai kenang-kenangan untuk JC UMM, dan diteruskan dengan foto-foto. Sampai rombongan kembali melanjutkan perjalanan cahayanya menuju tempat yang akan mereka kunjungi setelah itu yakni Ponpes Ar-Rahmah Hidayatullah dan daerah Jatim lainnya.