Mempertaruhkan Idealisme (Calon) Pemimpin Muda

Pernah dimuat di harian surya cetak 1 Oktober 2012, klik!

Sebuah keniscayaan, setiap bayi akan menjadi tua. Melalui semua prosesnya, dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan beranjak tua. Ketika para tetua mati, maka para bayi yang kelak akan menggantinya, begitu seterusnya hukum dalam kehidupan manusia. Tak luput juga, soal kepemimpinan, maka bayi-bayi yang lahir kelak akan menjadi pemuda pemegang estafet penerus pemimpin bangsa.

Inilah yang sempat didiskusikan dalam talk show Mata Najwa di Dome UMM, Kamis (27/9). Dihadiri Ketuka Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina sekaligus pelopor gerakan Indonesia Mengajar.

Najwa Shihab selaku host memulai acara dengan pertanyaan bersifat pribadi. seperti, IP yang pernah didapatkan pembicara? Jawabannya, Mahfud MD pada semester pertama semua mata kuliah yang diambilnya mendapat A kecuali satu saja, B. Mahfud mengaku memang rajin belajar, juga pacaran sewajarnya, sebagai jawaban atas pertanyaan Najwa yang menduga saking rajinnya sehingga mungkin Mahfud tak sempat pacaran.

Anis pun mengakui bila IP tinggi itu penting namun ada yang lebih penting lagi yaitu leadership. “Ip tinggi membuat Anda dipanggil wawanacara, leadership akan membuat Anda mendapatkan masa depan,” ingat Anis. Kepemimpinan, lanjutnya, tak didapatkan di bangku kuliah, namun hal itu ada dalam sebuah organisasi.

Keduanya menganjurkan mahasiswa untuk mengikuti kegiatan organisasi yang disenangi. Mahfud dulu ketika mahasiswa mengikuti banyak organisasi, salah satunya yang adalah menulis lewat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Menulis menjadikan berpikir sistematis, akunya.

Sementara bila ingin menjadi pemimpin berlatihlah dari sekarang! dorong Anis. Dari mana belajarnya? Dari organisasi. Lulus cepat itu baik, IP tinggi itu baik, tapi itu hanya sampai di ruang wawancara. Ketika di ruang wawancara dan lingkungan kerja yang dibutuhkan adalah mental kepemimpinan. Jadi, bukan hanya menonjolkan IP tinggi saja atau kepemimpinan saja, akan tetapi keduanya itu sama-sama dibutuhkan.

Sekarang bukanlah saatnya hanya berbicara antikorupsi, namun mahasiswa seharusnya yang dibutuhkan adalah menjadi orang yang aksi praktik antikorupsi. Nah, di sinilah idealisme itu diuji. Karena banyak pejabat yang dulu mahasiswa sering berteriak-teriak demo anti korupsi. Namun kenyataannya, ketika telah menjabat kursi pemerintahan dia sendirilah yang korupsi.

Kata Mahfud ada sebuah perkataan, “Mereka yang dulu demo pada pemerintah bukan antikorupsi, tapi marah karena nggak kebagian korupsi.”

Harapan Mahfud mahasiswa sekarang yang akan menjadi pemimpin masa depan, ketika telah menjabat akan terus menjada konsistensi dan integritas. Karena, dua hal itu mahal harganya. “Sekali tidak dipercaya, maka akan sulit dipercaya lagi,” katanya.

2 thoughts on “Mempertaruhkan Idealisme (Calon) Pemimpin Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s