Menjadi Satpol Teroris Part I

Satu pesan masuk ke hpku.

“Dho, jam 11 kita berangkat ya” sms dari SCNDV@KakRajabH.

“Iya kak, tapi saya masih kuliah kak, tunggu ya..” balasku.

Walau berada di laboratorium  Ilmu Komunikasi, aku tetap bisa membalas sms kak Rajab. Selain memang mata kuliahnya adalah praktik dan agak santai (hihi, jangan ditiru yak!). Untung saja Pak Nasrullah pengampu materi Deep News praktik jurnalistik tidak suka marah 😀 Memang pikiranku kali itu bercabang dua, antara memperhatikan materi sekaligus mengerjakan tugasnya ditambah perihal penjemputan Bunda Pipiet Senja.

“Iya Dho, tunggu depan kampus ya”

          “Sepeda taruh mana kak?”

          “Kampus aja, insya Allah aman”

          “Kalo sampe malem, saya pulang aja dulu, nanti dari kontrakan aja berangkatnya kak”

          “Oke, Dho”

Alhamdulillah, karena sudah deal kesepakatannya otomatis smsannya juga berhenti. Lega. 😀

Selang beberapa menit setelah tugasku selesai. Ada sms dari FLP@TehPipiet.

“Naaak. Nanti ketemunya di Hotel Pelangi 2 di Jalan Dinoyo sekitar jam 2.30 yaa”

“Iya bunda, jadi nggak usah jemput Bunda?”

“Gak usah, nak”

Aku segera menghubungi Kak Rajab.

“Kak, kata Bunda Pipiet nanti dijemput di Hotel Pelangi 2 di Dinoyo aja”

“Oke, Dho”balas Kak Rajab.

Deal. Selesai. Dan hpku mati di saat yang tepat. Error dan dropnya kambuh (minta di “lem biru” kali ya?hehe :D)

Praktik selesai, diakhiri dengan penugasan membuat Deep News. Dengan kepala agak puyeng, aku segera melangkahkan kaki ke parkiran sepeda motor. Pulang ke kontrakan. Mengambil charger hp Nokia Adym dan kupasang hpku (ketahuan nggak punya charger :D) dan segera kunyalakan.

Ada sms dari Kak Rajab lagi.

“Dho, nanti tunggu di depan gang ya, turun masjid saya berangkat dari sini”

          “Iya kak”

          Sebenarnya aku masih bingung gang mana nih aku. Karena ada dua gang di kontrakanku. Gang di depan jalan biasa dan gang menuju jalan raya. Ah, nanti sajalah. Kulihat jarum jam sudah menunjuk angka 11, aku harus mandi dan berangkat shalat jum’at ke masjid.

***

Turun dari masjid. Aku langsung meluncurkan sepeda motor ke depan masjid yang menjual lalapan. Perut sejak tadi sudah melakukan koor indahnya, jadi aku harus segera mengisinya. Aku pesan satu dibungkus nasi kuning dan lalapan ayam krispi.

Sampai selesai makan di Prisma (sambil Fb-an juga di PC Prisma yang bermodem,hehe). Aku ngerasa ada yang aneh kak Rajab belum sms juga. Lalu, kulayangkan sms ke SCNDV@KakRajabH.

“Kak, jadi jam berapa berangkat dari Batu?”

Setelah itu ada banyak sms yang berkucuran derasnya dari no yang ku sms barusan, sampai tak muat karena kepenuhan.

“Dho, ayo kita sudah di gang depan”

          “Dho, di mana?”

          “Dho, ayo kita harus jemput ke Bandara”

          “Dho?”

Belum sempat aku membalas, sebuah telpon masuk dari nama yang sama dengan pengirim sms.

“Dho di mana? Ayo Berangkat, saya di depan sejak tadi”

“Lho? Tunggu kak saya jalan..” jawabku.

“Prisma mana? Minta anter dia aja”

“Nggak ada kak, saya sendirian di rumah”

“Ya wes, agak cepat ya”

“Iya kak”

Hp mati. Dan aku segera ganti baju.

Sampai depan pintu yang akan aku kunci, temanku prisma datang.

“Ditunggu tuh!” kata dia.

“Iya, sek”

Aku diantarnya sampai gang depan menuju sebuah mobil biru. Ada kak Rajab dan satu orang sopir yang belum aku kenal. Kami segera meluncur ke bandara sekitar pukul 12.30.

“Dari mana Dho, di sms di telpon nggak bisa?” Tanya kak Rajab.

          “Di kontrakan aja kak, mungkin nggak ada sinyal ya, sms antum juga baru masuk kak”  

          “Oooo” Kak Rajab menganggukkan kepala.

Aku meneruskan dengan pertanyaan.

“Kak tadi Bunda Pipiet kan bilang kita jemput di hotel aja, kok sekarang mendadak jemput di bandara?”

          “Gini Dho, tadi waktu tak telpon: “Bu Pipiet kata Akhi Ridho kita menjemputnya di hotel saja ya?” “Iya” kata beliau. “Terus yang jemput di bandara siapa Bu?” “Katanya panitia UIN mas”  Seperti yang bingung beliau Dho. Ya sudah tak telpon panitia”

“Saya baru ingat kalau kesepakatannya Al-Izzah jemput Bu Pipiet, ya sudah ini makanya harus segera ke sana nih”

          “hehe, mis komunikasi kak” Aku ketawa.

“Iya, hehe. Kamu tahu bandara Dho?” tanya Kak Rajab.

“Nggak tahu kak” Kugelenggkan kepala.

“Kamu mi?” Tanya Kak Rajab ke sopir.

Dia gelengkan kepala. “Nggak.”

“Kita nggak ada yang asli Malang ya” Kak Rajab bertanya yang tak perlu jawaban, aku dan sopir ternyata bernama Fahmi itu hanya diam.

Kak Rajab mengenalkanku pada Fahmi.

“Ini Ridho adek kelasku di Al-Ishlah”

          “Ini baru keluar dari ISID (Institut Studi Islam Darussalam Gontor), Dho”

          “Ooo, sapa nama antum?” Aku mencoba mendekat.

“Fahmi” jawabnya.

“Baru lulus ISID?”

          “Iya baru, tahun ini”

          “Tahun 2008 berarti ya?”

          “Iya”

          Kemudian hening dalam mobil. Diam semua. Terutama aku yang mulai keringatan dan mual. Seperti ingin mengeluarkan apa yang aku makan tadi, roti yang di beri Kak Rajab pun kubiarkan terbungkus. Aku melihat AC mobil menyala. Sepertinya ini masalahnya. Aku nggak kuat nih. Aku coba kecilkan, ternyata sama saja. Aku cari tombol mematikannya. Ketemu. Off. Dan lega, mualku sedikit pergi. Walau masih ada terpaan AC dari depan.

Malang saat itu memang sedang panas-panasnya. Anggapan Malang itu dingin, saat ini mungkin bisa ditolak. Panas bak Surabaya. Mau hujan mungkin, batinku. Apalagi, saat itu mulai macet di beberapa tempat. Gerah, pasti.

Kak  Rajab mungkin merasa ada yang aneh, mulai merasa panas sepertinya. Dia melihat tombol AC mati. Lalu dia hidupkan. On.

“Kamu matikan AC, Dho?” tanya Kak Rajab.

“Iya kak, gak kuat”

“Nggak cocok jadi orang kaya kamu Dho” candanya.

Aku hanya tersenyum. Dan kembali mencerna candaan Kak Rajab itu. Kok benar masuk ke pikiranku ya? Aku bertanya-tanya sendiri. Ah, nggak usah dipikirkan. Cocok nggaknya jadi kaya nggak hanya diliat dari itu saja. Lupakan ah. Hehe….

“Dho ada pulsa kamu? Coba hubungi beliau mungkin sudah sampe?”

          “Nggak ada kak, cuma ada pulsa sms” ya itu saja memang punyaku.

“Saya nggak ada pulsa juga, kamu ada Mi?

          “Ada, banyak”

          “Coba telpon Dho”

          “Hp saya mati kak”

          “Sek ini nomernya” Sambil memegang hpnya kak Rajab mencet nomor hp Bunda Pipiet.

Aku coba menelpon. Kupencet tombol bergambar gagang telpon. Tak ada sambungan.

“Gak masuk kak” kataku.

Berkali aku coba, juga nggak masuk. Akhirnya kuberikan lagi hp Fahmi ke Kak Rajab.

Kemudian beberapa menit kemudian dicoba lagi oleh Kak Rajab.

“Masuk ini Dho” Sambil memberikan hp padaku.

Percakapan dimulai.

“Bunda sudah sampai?”

          “Belum masih di pesawat mas”

          “Oh iya, ini Ridho Bunda. Kami juga masih di jalan bunda”

          “Okeh Okeh”        

Kemudian hp mati.

Setelah sampai Singosari. Kak Rajab walaupun masih ragu apakah benar yang di tuju, meminta Fahmi terus saja pelan-pelan sampai ada tulisan Abdul Rachman Saleh.

Nggak tanya dulu tah pak?” Tanya Fahmi.

“Nggak, nggak usah, terus aja”

Sampai belokan menuju tempat yang Kak Rajab maksud. Mobil terus berjalan. Dan akhirnya berhenti di depan warung kelontong dan Kak Rajab turun untuk bertanya. Setelah masuk, Kak Rajab menginstruksi Fahmi untuk meneruskan perjalanan.

Sampai di sebuah persawahan, yang di pinggirnya tumbuh tumbuhan hijau sebagai pagar.

Kayak jalan mau ke cangar, bener nggak ini yah?” Tanya Kak Rajab.

Aku dan Fahmi diam saja.      Kemudian Fahmi berkata, ketika sampai di gerbang bertuliskan Lapangan Udara TNI Abdul Rachman Saleh.

“Ini bukannya lapudnya TNI ya pak?” Dia ragu tempat yang kita tuju ini benar.

“Bukan, insya Allah ini bener kok” Kak Rajab menjawab antara PD dan ragu.

Aku hanya diam di antara pembicaraan mereka berdua. Aku hanya ikut saja ke mana mereka pergi. Karena satu, aku tak pernah ke Bandara di Malang, jelas tidak tahu mana yang benar dan salah. Kedua, aku kira tujuan ini sudah benar karena namanya sudah benar “Abdul Rachman Saleh”.

Semakin jauh masuk, kita tak menemukan kepastian dan keyakinan kalau tempat ini bandara yang kita tuju. Tak kami (selain saya yang belum pernah ke bandara manapun) temukan pemandangan lazimnya bandara. Sampai pada suatu pertigaan dan di sana aku disuruh turun ke seorang tentara yang sedang menjaga.

“Apa?” Sebelum aku tanya dia sudah bertanya dahulu dan sedikit ketus.

“Bandara udara di mana ya pak?”

          “Salah tempat kalian, tadi lewat pos jaga ya”

Kak Rajab turun juga dan menghampiri kita berdua.

“Kalian keluar dan kembali ke blimbing”

          “Bukan di sini ya pak?” tanya Kak Rajab.

“Umum kan? Sriwijaya kan?” tanya tentara itu.

Dan kemudian meninggalkan kami yang masih bingung, galau. Dia menghampiri gerbang yang memakai penghalang tampar yang kemudian dia angkat tinggi-tinggi. Dua-tiga truk hitam TNI berjalan agar bisa lewat.

“Minggir!” Dia meneriaki aku dan Kak Rajab yang berdiri di aspal, ketika salah satu truk berjalan di depan kita. Aku sudah di atas trotoar.

“Minggir!!!” Dia membentak lebih keras lagi. Aku jengkel pada tentara itu. Sewot sekali nih, batinku. Ternyata Kak Rajab masih di pinggir jalan di atas aspal, hampir saja dia kena sentuh truk tersebut jika saja tentara itu nggak teriak dan aku memberi tahunya untuk minggir naik ke trotoar.

Kak Rajab sudah pindah ke trotoar. Sepertinya dia juga nggak tahan jadi bulan-bulanan kemarahan tentara, dia langsung mengajakku ke mobil walau belum jelas jawaban tentara tersebut.

“Ayo Dho!” Kita berdua kembali ke mobil.

“Kenapa kok marah gitu?” Tanya Fahmi ketika aku dan Kak Rajab masuk mobil. Tanpa menjawab pertanyaan Fahmi, Kak Rajab memberi instruksi untuk balik arah!

“Ayo balik arah kita salah jalan!”

Fahmi pun langsung memutar arah dan melanjutkan perjalanan dengan agak ngebut.

“Duh, gimana nih ya?, kita telat nih bisa-bisa ini”

Kemudian ada 2 sms dari Bunda Pipiet di Hp Fahmi.

“Saya di atm center”

          “Saya make baju serba ungu ya dek”

Waduh alamat bunda Pipiet sudah sampai ini. Kami semua bingung. Aku mencoba menghubungi beliau tapi belum tersambung. Sampai di gerbang awal kami masuk, Kak Rajab turun dan bertanya di mana Bandara ke tentara yang menjaga. Setelah masuk mobil, Kak Rajab bilang kalau kita harus ke blimbing di sana tempatnya ini hanya untuk tentara. Betul berarti kata Fahmi dan memang yang kulihat di jalanan sejak tadi semua tentara berseragam, tak ada orang umumpun. Wah, memang berarti kita salah alamat. Mencari alamat Bandara Abdul Rachman Saleh, malah kita ke Lapangan Udara TNI Abdul Rachman Saleh. Dengan nama yang sama, tetapi beda fungsi. Lapangan Udara TNI untuk TNI saja. Bandara untuk umum. Akhirnya kita tahu juga perbedaannya. Katrok ya! 😀

Kak Rajab turun lagi dari mobil,  untuk bertanya ke tempat pembelian tiket. Ternyata benar, bandara tujuan kita itu tak perlu jauh sampai Singosari. Karena Cuma daerah blimbing. Mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya, namun juga tetap hati-hati.

Hampir setiap pertigaan menjadi penyebab jalanan macet. Kita masih harus berhenti dan antri untuk melaju ke depan. Aku mencoba menghubungi Bunda Pipiet lagi. Kita merasa tidak enak sudah setengah jam beliau menunggu di bandara. Telepon tersambung.

“Dek kalian di mana ya?” Suara beliau terasa kelelahan. Aku mendengarnya jadi nggak enak.

“Maaf bunda tadi kami salah bandara L

“Wadau kacoooooooow hehehe”

Maaf ya bunda, lima belas menit lagi kami sampai insya Allah”

          “Iya, saya lagi minum nih”

          “Iya bunda, maaf…”

Hp mati. Dan sampailah kami ke gerbang Bandara.

Kita terus sampai ke depan ATM Centre dan melihat Bunda Pipiet lagi duduk  kelelahan. Ya, kelelahan selama duduk di pesawat plus kelelahan duduk menunggu jemputan kita. Ah, nggak enak sekali. Malu ke beliau.

Aku segera turun, dan langsung berlari ke beliau. Beliau tersenyum melihatku. Aku mencium punggung tangan kanan beliau. Dan langsung membawakan barang-barang yang beliau bawa.

“Aaaah ini telaaat ya” Kata beliau.

Kita mengajaknya masuk mobil langsung karena gerimis juga. Dan mobil langsung meluncur kea rah tujuan, Al-Izzah Batu.

“Ketahuan kalian nggak tahu bandara ya” tersenyum, beliau pada kita bertiga.

#Bersambung