JC dan Kalimat Yang Menyeramkan

 

“Wuih, kata-katanya menyeramkan” kata Pak Nurudin.

“Punggung saya kalo make baju ini (PDH JC) jadi berat” kata Pak Arief.

Ini yang lontaran kata yang saya dapatkan dari dua orang dosen yang pertama dulu pemerakarsa Journalistic Club Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus Pembina dan sekarang untuk dosen yang kedua pun menjadi Pembina JC.

DSC_0053

JC yang baru menginjak usia 2 tahun ini sudah dua kali berganti format PDH (baju resmi komunitas). Awalnya dulu  biru muda ada warna hitamnya berlengan pendek. Entah apa sengaja atau kurang perhatian dengan baju cleaning servis, baju JC yang ini mirip dengan baju mereka hanya beda ada hitamnya. Akhirnya, banyak orang yang kurang suka selain memang warnanya kurang menarik.

Pada  semester ke 2 saya menjabat sebagai ketua, saya dan teman-teman JC membuat PDH dengan model baru.  Warna hitam semua dan di punggung belakang ada tulisan tagline Journalistic Club, “Publikasikan atau Menyingkirlah.”

IMG_2854

Nah, kalimat inilah yang kata Pak Nurudin menyeramkan. Yang menurut Pak Arief kalau dipakai sangat berat bebannya.

“Menyeramkan tapi maksudnya ini memberi motivasi agar berkarya dan publikasi” ujar Pak Nurudin.

“Saya memilih memakai baju ini dan saya akan terus berkarya.” Ujar Pak Arief ketika memakai PDH Journaslitic Club.

Saya pun mengamini apa kata beliau berdua. Kalimat tersebut bukan untuk menyindir ataupun menyuruh pergi.  Namun, kata itu adalah kata motivasi. Motivasi untuk siapapun, khususnya yang menjadi anggota JC. Motivasi untuk terus berkarya, karya apapun itu. Saya yang memiliki passion menulis, maka karya saya dalam menulis. Jika anggota lain memiliki passion yang lain selain menulis, maka itu yang terus diasah agar menjadi lancip. JC tak  hanya soal menulis dan jurnalistik, apapun itu public relation, mengggambar dan lainnya sah-sah saja. Karena, titik beratnya adalah karya, ya berkarya.

DSC_0054

Itulah makna JC bagi saya. Saya yang selalu terinspirasi untuk berkarya. Saya yang tak berhenti bermimpi salah satunya karena JC. JClah yang memotivasi saya. Terima kasih JC. Terima kasih Pak Nurudin yang tak pernah berhenti menulis, Pak Arief dengan banyak impian untuk JC, Mba Dita wartawan Jawa Pos yang katanya sekarang jadi pengusaha, Mba Tri wartawan di Jakarta, Mas Aries Mas Afif dan Mas Soni yang selalu semangat, Mba Cipa penyiar yang keren, Mba Irma Mba Shelbi Mba Nia, Mba Nanda yang cerewet tapi baik :D, Mba Vika yang selalu siap membantu, Siska yang adeknya Mba Nanda mirip deh (^^V piss), Erik yang tak pernah berhenti menggambar,  Merisa bendahara yang baik, Trisih yang pendiam tapi semangat, Yogie, Heny, Yahya  calon wartawan hebat, Mia calon PR yang kreatif, Fatkhul sutradara masa depan, Risyaf, Jalil, Cicik dan anggota baru (maaf nggak sebutin satu-satu) lainnya yang selalu semangat. Tetaplah berkarya dengan JC, apapun itu passion yang teman-teman miliki.

You’re all my inspiration J

(Reportase 2013-8 Januari Harian Surya) Reuni berbuah Yayasan

Oleh : Muhammad Rasyid Ridho

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2010 Universitas Muhammadiyah Malang

 

Area parkir rumah makan Lestari Bondowoso di akhir tahun 2012 itu terlihat penuh. Di dalam ruangan pun suasananya sama, dipenuhi alumni Yayasan Sosial Indonesia (Yasi) angkatan 1982 Bondowoso. Reuni putih abu-abu Yasi 1982 itu digagas alumnus Bambang Prianggodo, yang kini melengkapi namanya dengan embel-embel kolonel.

 

Lama tak berjumpa membiarkan memori putih abu-abunya mengendap di kepala, kini mereka bertemu untuk kembali membuka memori silam yang katanya paling indah. Terlebih banyak alumni yang membawa keluarga. Bahkan, Bambang Prianggodo tak sekadar mengusung istri, tapi juga anak, menantu dan cucu-cucunya.

 

Laiknya reuni pada umumnya, alumni yang hadir riuh membicarakan masa lalu, sembari mencicipi semua menu yang tersaji. Saat sekelompok alumni bernostalgia, alumni yang lain asyik menyumbangkan suaranya. Tak hanya celetukan, gagasan untuk mendirikan yayasan pendidikan untuk membantu sesamanya. Misalnya, untuk guru-guru Yasi. Kendati Yasi sudah tak ada dan berubah menjadi SMA Tenggarang Bondowoso, niat baik tersebut patut diapresiasi sebagai upaya untuk kebermanfaatan bersama dan memajukan pendidikan di Indonesia. Usulan pun disetujui alumni yang datang. Maka segera dipilihlah siapa yang menjadi ketua koordinator, wakil, sekretaris dan bendaharanya. Pemilihan dilakukan dengan mencari suara terbanyak di setiap kandidat yang diusulkan.

 

Setelah terpilih, tanpa menunggu waktu acara ini ditutup dan langsung diadakan koordinasi panitia. Selain itu uang yang dikumpulkan mencapai dua juta rupiah lebih yang selesai acara itu juga dikirimkan ke rumah guru-guru mereka di Yasi yang tersisa enam orang. Sungguh, kerja orang-orang tua dengan semangat muda. Tentu ini tamparan bagi yang muda namun tak punya kerja nyata dan tak hasilkan apa-apa. Semoga niat baik rancangan yayasan pendidikan yang mereka inisiasikan tercapai di masa depan.

 

 

 

Dimuat di Harian Surya 8 Januari 2013- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/01/07/reuni-berbuah-yayasan#sthash.6iOqH6Zm.dpuf