Berbagi dan Menginspirasi Melalui Profesi

IMG-20130915-WA002
Kelas Inspirasi Malang

“Coba siapa yang bisa sebutkan nama panjang kakak?”

“Kalau nggak ada yang bisa kakak nggak akan beri sesuatu deh”
Siswa-siswi kelas empat masih tak ada yang menjawab. Kemudian Ayu bertanya, “Siapa yang tahu Nasution itu di mana?” Tidak ada yang tahu juga.

Ayu bilang Pulau Sumatera, dan anak-anak dengan suara rebutan menyebutkan Aceh. Karena salah Ayu membenarkan daerah asalnya dari Medan.

IMG_4452
doc pribadi

            Tripod sudah terpasang. Ayu mengatakan bahwa akan memberi ilmu tentang dunia fotografi. Namun, entahlah anak-anak kelas 4 masih diam walau mata dan kepala mereka menoleh kanan-kiri.

            Ayu memulai dengan memberi teknik pengambilan foto. Sebelumnya Ayu bertanya, ada apa saja kira-kira? Anak-anak tidak ada yang tahu. Ayu mengatakan yang pertama, bird eye.

Relawan mengajari salah satu siswi yang ingin praktik human eye
doc pribadi

            “Ayo adek-adek apa arti bird?”

            “Burung” beberapa mereka menyahut.

            “Betul, kalau eye?” 

            “Mata” beberapa dari mereka lagi yang menyahut.

            “Jadi ini apa maksudnya?”

            “Mata burung” salah satu dari anak kelas empat menjawab.

            “Nah betul itu, jadi cara mengambilnya foto seperti mata burung. Gimana mata burung itu adek-adek?”

            Mereka diam seperti berpikir. Lalu ada yang memperagakan kalau burung matanya lihat ke bawah ketika dia terbang.

Praktik tekhnik bird eye oleh salah siswa
doc pribadi
praktik frog eye dengan mode;
doc pribadi
praktik human eye memakai tripod
doc pribadi

            Ayu pun mencari anak yang mau mempraktikannya tanpa kamera dulu. Ada satu anak yang memberanikan diri. Setelah ada satu anak memberanikan diri yang lain pun ikut berani. Tapi rata-rata hanya laki-laki yang berani. Yang perempuan masih malu. Mereka mau kalau dipaksa.

            Teknik kedua dan ketiga adalah human eye dan frog eye. Anak-anak semakin tertarik dengan paparan Ayu. Anak-anak seakan nggak bosan karena Ayu menyelingi dengan praktik langsung. Ketika Ayu bertanya, “Siapa yang ingin menjadi fotografer?” ada di antara mereka yang mengacungkan jari. Ketika Ayu bertanya, “siapa yang ingin jadi yang difoto?” ada beberapa di antara mereka mengacungkan jari.

            Setelah banyak dari putra yang praktik langsung dengan memegang kamera, siswi juga ingin ternyata. Mereka malah meminta untuk mencoba, Ayu pun senang karena respon anak-anak baik, bahkan bisa dibilang sangat. Setelah menjadi fotografer gentian menjadi modelnya. Mereka sangat antusias.

            Ini hari di mana saya menjadi seorang relawan menjadi seorang fotografer. Bila sebelumnya saya menjadi pembicara jurnalistik atau menulis. Sekarang tugas saya lain, yakni menjadi pembidik objek dengan kamera. Ingin sih menjadi relawan pengajar, tapi rasanya belum apa-apa saya dalam menulis. Buku solo saja belum. Karenanya saya memilih menjadi fotografer saja walau masih amatiran sebagai partisipasi saya dalam acara yang sangat baik seperti Kelas Inspirasi.

            Kelas Inspirasi. Sekilas tahu dari fesbuk kalau ini adalah salah satu sub kegiatan yang diadakan oleh Indonesia Mengajar yang didirikan oleh Pak Anies Baswedan. Indonesia Mengajar sendiri sudah cukup terkenal, sekarang sudah angkatan ke tujuh dan sudah dibuka angkatan ke delapan. Bahkan sudah dua angkatan yang saya tahu telah menulis kisah perjuangan mereka ketika menjadi pengajar muda di pulau-pulau pelosok.

            Dengan menjadi relawan fotografer saya jadi tahu seperti apa sebenarnya kegiatan ini. Karena tidak menutup kemungkinan di masa depan kelak saya bisa beralih menjadi relawan pengajar. Ya, jika memang saya benar-benar pantas sih.

            Saya dikumpulkan bersama teman-teman kelompok 11. Kami ditempatkan di sebuah SD negeri yang masih di daerah kota namun sudah masuk-masuk dan mewah (mepet sawah).

            Ketika hari sabtu seluruh relawan diundang untuk menyatukan visi, kelompok 11 berkumpul da nada guru SD dari tempat yang akan kami datangi nanti. Mereka mengatakan bahwa SD mereka biasa, yang membuat bayangan saya ya nggak bagus seperti ketika saya datang ke sana waktu survey.

            Namun memang jika dibandingkan dengan SD lain, sarana dan prasarana SD tempat kami ditugaskan masih kurang. Namun saya melihat hal tersebut tidak menggoyahkan semangat anak-anak SD Bandulan 5 dan mereka masih bisa tersenyum.

            Terbukti ketika hari H, mereka semua memakai baju khas pahlawan sebagai peringatan Hari Pahlawan 10 November. Ketika kami membuka acara dengan yel-yel penyemangat dan chicken dance mereka sangat antusias dan senang. Terlihat dari wajah unyu dan polos mereka.

            Di kelas lain ada Mas Edi Suprayitno, seorang programmer yang menjadi relawan pengajar. Mas Edi banyak bercerita bagaimana berdarah-darahnya dia untuk sekolah hingga menjadi seorang programmer sekarang. Tidak seperti di kelas Ayu, kelas Mas Edi lebih sunyi karena dia banyak cerita. Namun, saya kira inti pembicaraan Mas Edi bisa diambil oleh anak-anak SD ini sebagai inspirasi dan motivasi untuk meraih cita-cita, semoga.

Mas Edi Suprayitno
doc pribadi
Pak Amin Sobirin berkenalan
doc pribadi
relawan bercerita tengtang orang cacat yang sukses
doc pribadi
Siap Bertempur dalam arti menuntut ilmu
doc pribadi
siswa-siswi menggambar dan menulis apa cita-citanya4
doc pribadi
Sebelum masuk kelas relawan mengajak siswa-siswa Chicken Dance dulu
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama guru SDN Bandulan 5 Malang1
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama murid dan guru SDN Bandulan 5 Malang3
doc pribadi

            Pengajar terakhir ada Pak Amin Sobirin dari Bentoel. Seperti Mas Edi, Pak Amin banyak berbicara namun kelebihannya dia memakai laptop dan proyektor sehingga anak-anak juga tidak terlalu bosan dan semakin hidup inspirasinya karena ada visualisasi.

            Pak Amin yang paling tua di antara relawan juga fasilitator menjadi yang kami ikuti (pemimpin). Memang juga saran-sarannya bagus. Tak jarang kami langsung mengiyakan saja. Seperti ada yel-yel juga chicken dance usulan pak Amin dan memang tarian itu hanya Pak Amin yang bisa, hehe.

            Sebagai awal perkenalan menari sambil tertawa cukup menyambungkan antara relawan dan para murid. Hingga akhir acara, walau molor dari perencanaan murid SDN Bandulan 5 masih antusias. Dari permintaan kami agar mereka menulis dan menggambar apa cita-cita mereka kelak di kertas yang kami bagikan. Yang saya lihat ada di antara mereka menggambar pemain bola yang berarti dia ingin menjadi pemain sepak bola. Kertas itu kamis suruh untuk ditempelkan di kamarnya agar terus dibaca dan menjadi motivasi terus-menerus bagi mereka, semoga mampu diraih segala cita-cita mereka.

            Akhirnya, di Kelas Inspirasi ini saya tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam memotret. Namun saya juga mendapatkan persaudaraan, tulus berbagi, tulus menginspirasi, dan berbakti dengan melakukan tindakan nyata walaupun kecil dan hanya sehari. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dari tahun ke tahun dan saya bisa kembali berpartisipasi. Mari menginspirasi dan berbagi melalui profesi!

14 November 2013 sehabis shubuh yang dingin