Merindu Hujan

 

Seperti biasa aku duduk di teras depan

Menatap langit mengimpikan birunya

Berubah kelabu

Berharap pertanda hujan segera menjelma

Menyanyikan lagu-lagu rintik indahnya

 

Seringkali aku merindu

Tentang hari kelabu

Mengucurkan air melalui sungai-sungai langit

Membawa cinta untuk petani kita

 

Namun, rindu kini memudar

Menitikkan jemu dengan diam

Merindu hujan dulu melempar jeram

Menangkap mangsa melaluinya penuh geram

 

Aku tak lagi merindu hujan

Hujan menelan banyak korban

 

; Nurani hanya merindu hujan lama

Hujan yang menentramkan jiwa

Rumah Taqwa, Malang.

dok pribadi
dok pribadi

*puisi dimuat di radar probolinggo 24 Maret 2015

 

Mata Hati

 

Gunung-gunung tinggi yang menjulang

Lautan luas yang tak ada ujungnya

Hutan-hutan lebat dengan pohonnya

Semua merayakan cinta yang mereka mau

 

Sayang kau tak mampu menemani mereka dalam berpesta

Kedatanganmu hanya menjadi pengusik tak diundang

Merayakan cinta egomu seenaknya

Kau hancurkan hati mereka dengan tingkahmu

 

Tahukah kau mereka pun memiliki hati

Sepertinya matamu telah buta

Sehingga tak mampu lagi memandang

Ataukah kau memang tak lagi memiliki mata?

 

Maukah kau disebut sebagai orang yang tak berhati?

Karena tingkahmu yang tak lagi memiliki peri

Maukah kau disebut orang buta?

Karena dirimu tak lagi memiliki mata hati

 

Mata,

Hati.

Mata,

Hati.

 

Keduanya ada di jasadmu

Namun, apa benar tak berfungsi lagi?

Kalau begitu congkel saja keduanya

Buang saja jika memang tak lagi memiliki guna

                            Rumah Taqwa, Malang.

dok pribadi
dok pribadi

*puisi dimuat di radar probolinggo 24 Maret 2015

Curhat Petani Mati

 

Aku mulai pangling dengan cuaca

Atau cuaca yang tak paham dengan suasana

Entah aku belum mengerti karena apa

Tapi ini bukan omong kosong belaka

 

Kenapa hujan turun saat siang menyala

Dan matahari membakar saat air-air turun dari curahnya?

 

Musim tak lagi terencana

Musim hanya permainan waktu saja

Tak tentu kapan hujan membasahi

Tak bisa kupastikan kapan panas menyinari

 

Aku semakin bingung saja

Kapan aku akan memanen tanamanku

Jika sehabis panas menyala

Hujan tak mau kalah turun membasahi

 

Sudah bisa dipastikan  tanamanku mati semua

Tanamku tak ada hasilnya

Aku mati menggersang

Tak heran aku semakin papa

; oh, bumi lantaran apa kau berubah tak merakyat?

Rumah Taqwa, Malang.

dok pribadi
dok pribadi

*puisi dimuat di radar probolinggo 24 Maret 2015