Roadshow Mas Gagah Di Al-Ishlah

Siapa yang tidak kenal Helvy Tiana Rosa, salah satu penulis nasional dengan segudang penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak 7-10 Mei 2015, dia berkeliling ke beberapa kota Jawa Timur. Di antaranya, Malang, Jember dan Bondowoso. Hal ini dalam rangka roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), yang dibuat berdasarkan novelet karya Helvy dengan judul yang sama.

Pada 10 Mei 2015 sore, Helvy bersama rombongan  mendatangi Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Dia berbicara di depan 300-an santriwan dan santriwati kelas takhasus, 4-6 KMI (Kulliyatul Muballighien Al-Islamiyah) Mahasantri STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), dan santri pesantren kilat PSPUP.

Bondowoso adalah kota keempat yang Helvy datangi untuk keperluan roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi, dan berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Ishlah auntuk pertama kalinya. Sejak masuk ke kawasan Al-Ishlah, Helvy mengaku langsung merasakan kesejukan pondok yang ada di bawah bukit Patirana.

Helvy mengatakan bahwa pondok pesantren adalah benteng terakhir Umat Islam. Karenanya, harus ada santri yang menulis. Karena saat ini Islam kekurangan penulis yang menuliskan kebenaran. Maka, harapannya dari santrilah yang melawan tulisan-tulisan yang mengerikan (berisi pergaulan bebas, sex dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama).

“Menulis itu persoalan disiplin dan tekad. Meskipun bapak kalian adalah petani, kakek kalian adalah petani, buyut kalian petani, bapak buyut kalian petani, kalian tetap bisa menjadi penulis. Bagaimana caranya? Teruslah, berlatih!,” ucap dosen UNJ dan juga pendiri Forum Lingkar Pena tersebut.

“Tulisan yang ditulis dengan hati, akan sampai kepada hati-hati lainnya. Tulisan yang ditulis dengan nurani, akan sampai kepada nurani-nurani lainnya,” tambah Helvy. Selain memotivasi santri untuk menulis, Helvy juga menceritakan perjuangannya untuk memfilmkan noveletnya (KMGP) agar tidak hilang ruh dakwahnya.

Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya "Mata Ketiga Cinta"
Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya “Mata Ketiga Cinta”

Ada PH yang akan memfilmkan KMGP dan membayar 100 juta, tetapi cerita tentang jilbab dan Palestina harus dihapus. Dengan penuh idealisme, Helvy tidak menyetujui hal tersebut. Akhirnya, dia memilih untuk berkeliling Indonesia, bahkan ke luar negeri untuk mencari dukungan dan donasi, untuk bersama-sama membuat film Ketika Mas Gagah Pergi. Bagi anda yang merindukan film dengan nilai-nilai positif dan sangat meng-Indonesia tayang di bioskop. Yuk dukung KMPG, menjadi film!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di Harian Surya 2 Juni 2015