Toko Gadget Tumbuh Bak Jamur, Toko Buku Runtuh Bak Dibom

sumber: http://www.fardelynhacky.com/
sumber: http://www.fardelynhacky.com/

Selalu saja saya menemukan hal baru, termasuk renungan baru, ketika membuka taman baca di Car Free Day Alun-Alun Bondowoso yang digagas oleh Bondowoso Writing Community. Pagi itu, tikar yang digelar sudah dipenuhi oleh banyak pengunjung dari anak-anak hingga orang tua.

Ada seorang bapak yang saya merasa pernah bertemu entah di mana, dia membaca buku Ayah Edy Punya Cerita. Setelah meregangkan otot tubuh, dan memotret pengunjung, saya duduk di salah satu tikar yang masih kosong. Kebetulan berdekatan dengan bapak yang membaca buku Ayah Edy itu.

“Nggak bisa dipinjam buku ini ya mas?” tanyanya.

“Belum boleh pak” saya jawab sambil tersenyum.

Kemudian kami mengobrol.

Dia mengatakan bahwa buku Ayah Edy yang dia baca itu sangat bagus. Menurutnya, menjadi orangtua juga perlu ilmu. Nggak ujug-ujug sudah bisa, karena merasa sudah dewasa. Padahal, ada banyak ilmu tentang parenting yang perlu diketahui, utamanya untuk mengatasi problem anak-anak masa kini.

“Nggak bisa habis nih mas, kalau Cuma baca-baca di sini,” ujarnya lagi.

“Iya sih Pak, tapi ya memang belum bisa dipinjam. Kalau ingin menghabiskan buku itu, kalau bisa minggu depan datang lagi aja ya Pak. Insya Allah tiap hari minggu kamu buka taman baca di sini,” saya menyarankan.

Bapak itu melanjutkan bacanya lagi.

“Buku mas semua ini ya?” Tanyanya lagi.

“Kebetulan iya Pak, biasanya ada buku teman-teman BWC yang lain,”

“Wah banyak ya buku koleksi mas. Mas Siapa tadi?”

“Saya Ridho Pak. Iya Pak, Alhamdulillah saya dapat buku-buku ini dari penerbit. Sebagai imbalan meresensi buku-buku yang mereka terbitkan.”

“Wah, enak ya mas.”

“Iya pak, Alhamdulillah.”

Diam sejenak.

Semenit kemudian bapak itu, memperkenalkan diri dan ternyata dia adalah pemilik Toko Dian. FYI, Toko Dian adalah toko yang menjual buku, majalah, koran, dan berbagai perlengkapan sekolah. Tapi sayangnya kini, Toko Dian harus menggulung tikar. Dulu, saat masih SD, saya biasa mengumpulkan uang saku untuk membeli Majalah Mentari. Salah satu toko buku tempat saya beli majalah ya Toko Dian itu. Aha! Ya, akhirnya saya ingat pernah melihat bapak itu ketika membeli Majalah Mentari beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, bertemu dengan salah satu pemilik toko buku yang berjasa membuat saya cinta membaca, meski saat ini tokonya sudah tidak buka lagi.

“Sudah lama nutupnya mas. Bertambah tahun, pelanggan semakin berkurang, padahal selain laba menjual buku itu lumayan, bagi saya membaca itu sangat bermanfaat.

“Saya merasakan sendiri kalau membaca itu sangat bermanfaat, keluarga saya terbiasa membaca buku semua, Majalah Intisari selalu langganan, bahkan maaf, saat buang air besar saja disediakan buku bacaan,” katanya sambil tertawa.

Bapak itu pun melanjutkan membacanya lagi.

Diam. Senyap.

sumber: fanspage Bondowoso Writing Community
sumber: fanspage Bondowoso Writing Community

Saya terkenang dengan masa lalu. Nostalgia. Ya, ada banyak toko buku, majalah dan koran di Bondowoso. Toko Doni, Sumber Ilmu, Samson, Ayu Media, UD. Siswa, Toko Dian, dan ada satu lagi saya lupa namanya. Tapi, saat ini hampir semuanya sudah gulung tikar. Sampai saat ini yang masih eksis adalah Toko Doni, Sumber Ilmu, Ayu Media, UD. Siswa, itupun hidup segan mati tak mau. Toko Doni setahu saya buku-bukunya rata-rata buku yang sudah lama dan jarang terbitan baru. Ayu Media pun sama, tetapi untuk majalah, koran, tabloid, masih lancar. UD. Siswa kini menjadi semacam rumah makan tetapi tetap menjual koran, tabloid satu dua. Sebenarnya ada toko buku baru selepas saya menjadi pengabdian di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Saya juga sempat nitip buku dan majalah di sana, namun ternyata toko buku tersebut hanya bertahan sekitar dua tahun.

Ada apa ini? Fenomena apa ini? Apa hal semacam ini tidak meresahkan?

Sudah lama saya memikirkan ini. Toko buku di kotaku ini sepi bahkan mati, sedangkan toko gadget semakin banyak bak jamur. Apa permasalahannya? Kalau saya amati, gadget bagi semua orang sangat digemari, sedangkan membaca dan buku sangat kurang digemari. Hal ini berarti ada orang yang membaca, tapi itu pun sangat sedikit (tanpa menafikan mereka yang membaca versi digital via ponsel pintar). Sehingga, beginilah jadinya, toko buku sedikit atau bahkan tidak ada, sedangkan toko gadget terus bertambah. Seharusnya, kedua toko ini tumbuh bersama. Karena, saya kira keduanya bisa saling mendukung dan itu bisa menjadi corong kemajuan. Tetapi kalau hanya gadget saja yang semakin digemari, maka akan menimbulkan beberapa efek negatif, seperti kebergantungan anak pada Google sehingga malas membuka kamus atau buku, padahal dengan membuka kamus dan membaca buku ada pembelajaran di sana. Selain itu, ada efek negatif yang sangat tidak baik jika sejak kecil anak-anak sudah mengenal gadget, seperti mudah marah, labil dll. Hal ini berdasarkan penelitian Yee Jin-Shin seorang psikiater asal Korea. Bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Mendidik Anak di Era Digital, dan sudah saya buat resensinya https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/03/11/mendidik-anak-di-era-digital/.

Jujur saja, apa yang saya tulis ini bukan sok peduli. Ya, karena memang passion saya di dunia ini. Saya merasa dunia pendidikan tidak akan maju tanpa buku, Karena buku adalah salah satu media belajar. Saya ingin Indonesia maju, saya ingin Bondowoso maju. Maju dengan tetap beriman kepada Tuhan. Itu saja. Sangat lucu bukan, jika kita hanya  pandai menggunakan karya orang (gawai atau gadget), tetapi kita tidak bisa berkreasi sendiri. Kita sebenarnya bisa. Ya bisa, jika mau belajar salah satunya dengan membaca. Karena tanpa membaca, kita bukan siapa-siapa. Tanpa membaca kita akan kalah. Semoga taman baca dan kegiatan literasi lainnya yang diadakan Bondowoso Writing Community, bisa memberikan sumbangsih bagi kemajuan Bondowoso. Walaupun hanya sedikit, setidaknya memberikan stimulus agar orang tergerak untuk membaca dan belajar. Semoga ke depan semakin banyak orang di Bondowoso akan pentingnya literasi 🙂

*reportase tentang taman baca Bondowoso Writing Community dimuat di Harian Surya

https://penulispembelajar.wordpress.com/2015/04/27/baca-buku-gratis-di-taman-baca-bwc/

8 thoughts on “Toko Gadget Tumbuh Bak Jamur, Toko Buku Runtuh Bak Dibom

  1. walaupun saya pribadi lebih banyak membaca blog dan ebook dibandingkan buku, tetapi saya tetap sepakat kalau toko buku harusnya lebih ramai dibandingkan toko gadget. Kehausan akan ilmu itu kan pertanda masyarakat yang maju.. Worth to read.

    • Iya Mas. Di Bondowoso nggak ada mas, macam Gramedia, Togamas, dll. Duh, ngenes pokoknya. Ya, alhamdulillah saya ada kiriman buku-buku baru dari penerbit. Buku-buku itu yang saya bawa waktu buka Taman Baca di Car Free Day Alun-Alun Bondowoso.

  2. Salut melihat semangat dan dedikasi mas Ridho dalam meningkatkan minat baca masyakarat disekitarnya. Insya Allah, kalau buku-buku saya sudah banyak, saya bakal ngikutin jejak Mas Ridho ini. Hidup cuma sekali, kalau tidak berarti, buat apa hidup ini. Betul tidak mas?

  3. Karena maaf, kita harus jujur. Itu akibat tak adanya budaya intelektual di kota Bondowoso. Tak ada tradisi akademis di kota ini. Apapun yang terjadi dalam siklus masyarakat modern salah satunya, tak bisa dipisahkan dari faktor SUPPLY dan DEMAND, faktor penawaran dan permintaan. Itu sudah “hukum alam” peradaban. Dalam buku Ekonomi Pembangunan (salah satu buku dasar yang dulu saya pakai dalam menyusun skripsi) tulisan Prof. Dr. Lincolin Arsyad, menurut beliau semakin kecil sebuah komunitas (sebut saja kota) maka semakin kurang variatif barang-barang yang tersedia. Semakin primitif suatu masyarakat makan semakin rendah pula tingkat kebutuhan dasarnya. Jadi dengan kata lain, jika masyarakat Bondowoso tidak “meminta” buku, ya sudah pasti tak ada satupun penerbit yang cukup gila untuk mencoba menawarkan alias berjualan disini.

    Itu mungkin karena masyarakat Bondowoso yang sekali lagi maaf, kebutuhan dasarnya hanya berkutat pada primer-sekunder-tersier alias pangan-sandang-papan. Aspek kebutuhan membaca menjadi nomer sekian dan sekian.

    Jika lantas ada pertanyaan; “kalau memang begitu, tapi kenapa buktinya banyak anak-anak Bondowoso yang prestasi akademiknya membanggakan hingga tingkat nasional atau bahkan internasional?” Well… yang pertama, harap dibedakan antara prestasi individu dengan kebiasaan kolektif. Maksudnya ya sudah pastilah dari sekian ribu anak murid di Bondowoso, ada satu atau dua yang sangat menonjol. Tapi apakah itu artinya tradisi intelektual adalah sudah menjadi bagian dari masyarakat kota ini? Coba bandingkan dengan tradisi masyarakat di kota Jakarta, Bandung, Jogja, Malang atau tak usah jauh-jauh di kota Jember saja. Dimana agenda-agenda diskusi, seminar, lokakarya, dll itu sangat rutin dilaksanakan hingga hitungan mingguan. Itu belum termasuk diskusi-diskusi kecil informal yang diadakan setiap saat di tempat-tempat dan peserta yang acak. Di kota-kota yang saya sebut di atas, kegiatan dialog, diskusi, sharing pemikiran atau bedah buku, bisa sangat mudah terjadi dalam sebuah forum kecil di tempat-tempat ngopi yang sangat jauh dari kesan formal akademik.

    Yang kedua, jangan menjadi katak dalam tempurung, jangan terlalu bangga dengan diri sendiri, melihat ke cermin dan tersenyum merasa bahwa kita hebat. Jika begitu banyak anak yang luar biasa dan berprestasi di kota Bondowoso, itu bukan berarti anak-anak di kota lain tidak kalah hebatnya. Karena siapa tahu segala prestasi mentereng yang kita raih itu hanyalah sebutir debu di dalam bak pasir? tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kota-kota lain.

    Agak sedikit menyimpang. Jujur saja, saya sendiri sering agak geli melihat begitu lebaynya kita mempromosikan pariwisata di kabupaten tercinta ini sampai-sampai dengan pongah memberi label kota ini dengan tag iklan “the highland paradise”. Kesannya agak gimana gitu. Kayak kita kurang piknik sehingga tak tahu bahwa di luar sana ada begitu banyak tempat wisata yang berkali lipat bagusnya dibandingkan dengan milik kita. Bagi pecinta olah raga arung jeram, pasti ketawa jika membandingkan bosamba dengan songa di Probolinggo. Itulah…. karena kita terbiasa menjadi katak dalam tempurung sehingga dunia kita hanya apa yang kita lihat saja.

    Yang terakhir, nggak usah terlalu minder dan berkecil hati dengan sedikitnya fasititas toko buku di kota ini. Bagi saya sama sekali tak ada hubungan antara ketersediaan toko buku dengan tingkat intelektual para penduduknya. Coba berkaca pada Banyuwangi, Blitar, Jombang, Ponorogo, Tuban atau bahkan Pacitan. Mereka sama saja kok dengan Bondowoso, tak lebih besar atau maju jika dibandingkan dengan kota Tape ini. Sama… di kota-kota itu juga tak ada toko buku Gramedia atau Toga Mas dan saya yakin juga lebih banyak toko gadget dan HP disana. Tapi perhatikan, begitu banyak orang besar, penting dan berpengaruh lahir dari kota-kota itu. Ingat Pare? kota kecamatan kecil itu? Masih jauh lebih ramai dan maju Bondowoso daripadanya. Tapi bukankah disana sekarang menjadi pusat pelatihan bahasa Inggris yang sebagian besar justru dikelola secara mandiri oleh warganya.

    Atau nggak usah jauh-jauh. Di kecamatan Genteng Banyuwangi, meskipun hanya kota kecamatan, coba lihat di daftar sekolah-sekolah unggulan di Indonesia, pasti muncul namanya. Apakah ada banyak toko buku disana? sama saja kok, lebih banyak toko handphone dan konter pulsa. Lalu apa yang membedakan Genteng dengan Bondowoso. Mungkin jawabannya bisa ditanyakan kepada armada bus Akas dan Mila, Bagaimana kedua armada itu sampai perlu membuka jalur langsung Banyuwangi – Solo – Jogja. Itu karena begitu banyaknya anak-anak yang sekolah ke tempat-tempat yang jauh karena ingin mendapatkan yang terbaik, tak mau jadi katak dalam tempurung. Atau bagaimana banyaknya mahasiswa asal kota-kota kecil di banyuwangi yang menggunakan jasa kereta api untuk menempuh pendidikan di kampus-kampus bergengsi di Jawa Tengah sana.

    Saya yakin, mereka itu adalah orang-orang yang tak percaya bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh banyak atau sedikitnya toko buku yang ada.

    • Wah terima kasih atas komentarnya Pak, asyik! Membuka!

      Ohya di Banyuwangi ada Togamas Pak, saya pernah beli buku di sana. Saya kalau ke luar kota, biasanya nyari toko buku juga hehe..

      Soal toko buku bukan parameter maju tidaknya suatu kota. Iya betul Pak. Paling tidak, bisa dikatakan itu jadi satu pintu peradaban (kemajuan).

      Dulu banyak toko buku/majalah meski kecil di Bondowoso. Tapi semakin ke sini, makin banyak yang gulung tikar. Ya saya banyak kenangan dengan toko koran/ majalah/ buku yang ada waktu itu. Saya menyimpulkan, ini karena memang budaya baca kita menurun. Entah orang lain bilang apa. Karena bisa jadi jarang orang, anak muda megang hape misal baca ebook atau portal berita dll. Banyak yang stalker medsos dan main game. Itulah tugas siapa saja untuk mengajak orang di kota tercintanya untuk membudayakan membaca 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s