Lelaki Penunggu Pagi

Lelaki Penunggu Pagi gambarDimuat di Malang Post, Ahad 24 April 2011

1

An, tahukah kau aku merasa malam ini sangat panjang. Saat kolong langit terlihat kosong, hanya hitam yang menganga. Suara liukan dan gesekan pohon kelapa diluar sana cukup membuat risih, angin memang tak seperti biasanya. Seperti menggumpal-gumpal tenaganya untuk terus bergerak dan menggerakkan benda yang di sekitarnya. Aku tak sabar untuk menghabiskan malam.

Kau tentu tahu, aku tak terlalu suka malam yang terlalu lama mengendap. Memang aku tak suka malam, karena aku lebih suka pagi. Saat matahari mulai keluar dari peraduannya, dengan sinar kemerah-merahan menyerupai wajahmu saat tersenyum malu. Dan terang cahayanya pun mirip dengan mata jelimu itu, aku sangat suka itu. Terlebih lagi udara yang berhembus lembut nan menyegarkan. Hmm, tak ada yang menandingi kesegarannya.

Dengannya aku merasa, luapan pikiran dan belitan masalah sehari lalu menguap dan terlepas. Aku meyakini ketika hari beranjak pagi, maka akan ada harapan-harapan baru yang bisa aku raih. Aku percaya, adanya pagi setelah malam pekat guna melumatkan hitam dengan terang putih cahayanya. Pagi itu hamparan cahaya bagi seluruh makhluk di bumi. Pagi itu bidadari jelita yang menawan semua makhluk di dunia.

Kuingat katamu terakhir waktu itu An, “Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.”

Maka aku harus memaksa sepanjang malam begini, menemani malam dan menunggu pagi. Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.

Tapi, malam ini beda sekali. Malam sepertinya bertahan disini. Sudah sejak tadi aku menunggu pagi disini, tapi malam seperti tak ingin beranjak pergi. Seolah-seolah waktu terus terdiam, hanya jam saja yang berputar namun waktu tidak, tetap tak bergerak sejak tadi. Udara malam yang biasanya aku benci, kali ini kupaksa untuk kucintai hanya untuk menunggu pagi. Ya, aku menunggu pagi dan masih terjaga sampai saat ini.  Asal kau tahu An, aku sungguh merindu dengan pagi, merindu senyum cerahmu itu terlihat lagi.

2

Beda memang dengan dirimu, kau selalu memuji malam.

“Lihat purnama itu, indah sekali bukan? Aku suka malam” bisikmu malam itu.

Aku hanya mengangguk tak berkomentar, aku sadar kutelah berdusta pada hatiku yang tak pernah menyukai malam. Namun, padamu apapun yang kau sukai maka itu pun akan aku sukai. Karena itulah menurutku cinta, aku tak akan membuatmu terluka disebabkan sedikit saja ego yang aku punya.

Ah, itulah waktu kita bersama memandang malam di langit itu. Kita duduk bersebelahan di gubuk tua milik pak Kus. Petani renta yang sudah ditinggal istrinya meninggal, namun semangatnya tiada bandingnya itu.  An, Menemanimu saja aku gembira, cukup itu saja. Aku tak akan minta apa-apa. Aku hanya ingin kau bahagia, cukup bagiku waktu itu. Kau pun tampak bahagia bersamaku, sungguh rasa bahagia ini terlampau sangat, An. Semoga perkiraanku ini benar.

Aku ingat suatu ketika pak Kus, menghampiri kita saat asyik duduk menikmati malam di gubuknya. Dan  dia berkata,

“Walah, Rizza sama siapa kamu lee?”

“Ini Anjali pak Kus, anak baru di desa ini. Orang tuanya, tempat kerjanya pindah ke desa kita selama tiga bulan pak. Awalnya dia di kota, lihat saja perawakannya gak seperti gadis desa pak Kus. Iya khan Anjali?” Jawabku sambil tersenyum dan menoleh padamu, dan kau pun hanya diam tersenyum dengan wajah kemerah-merahan malu.

“Kamu cocok tuh Riz, sama cah ayu iki” kata pak Kus kemudian.

Kita pun kaget bukan kepalang, kau dan aku saling menoleh berpandangan. Dan serentak kita berkata tanpa komando,

“Lha, kenal aja baru deket-deket ini, koq sudah dibilang cocok Pak?” sambil cengas-cengis di hadapannya.

“Yo, aku liat-liat aja kaya’e kalian cocok. Yo wes, aku tak pulang dulu lee” lanjut pak Kus langsung melenggang pergi. Dan kita pun hanya tersenyum-senyum.

Setelah merasa puas memandang langit malam di gubuk tua itu, selalu saja kau mengajakku pulang melewati jalan-jalan pinggir sawah yang becek itu. Aku tahu kau sangat menyukai itu, ya paling tidak aku harus paham daerah dan suasana seperti itu tidak ada di kota. Apalagi suasana malam purnama yang terang benderang yang menurutmu indah itu. Aku yakin kau tak akan mampu melihatnya sempurna purnama ketika di kota, kau hanya bisa melihatnya ketika di desa saja. Di gubuk tempat biasa, memandang malam yang kau sukai itu.

Sesudah sampai depan rumah, selalu pasti kau di sambut oleh orang tuamu yang kemudian bertanya tentang keadaanmu yang sepertinya mereka khawatirkan sejak tadi. Tentu saja mereka khawatir, karena  besok kau harus bangun pagi untuk sekolah. Lalu, orang tuamu menghadap padaku yang masih berdiri di halaman rumahmu dan keduanya tersenyum padaku. Dan aku pun membalas senyum itu, cukup itu saja. Sesudah itu aku segera mengundur pamit, dengan isyarat menundukkan kepala pada orang tuamu. Segera aku pulang meninggalkan halaman rumahmu yang suasana masih tersisa di hatiku sampai kini itu.

Sebenarnya, aku masih merasa ganjil di setiap malam ketika bertemu orang tuamu. Ada rasa kekhawatiran mereka tidak suka dengan keberadaanmu sedekat itu dalam waktu yang cukup cepat ini. Ditambah lagi, aku anak desa yang punya pakaian seadanya, tak seperti dirimu anak kota yang hampir punya segalanya. Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh, menghentikan lamunan itu sebelum diketahui oleh dirimu atau kedua orang tuamu, dan segera aku melangkahkan kaki pergi meninggalkan halamanmu. Hampir tiap malam begitu, entah kau melihat dan sadarkah atau tidak tentang itu.

3

An, andai kau tahu sebenarnya aku menyetujui apa yang pernah pak Kus bilang. Jujur saja, saat pertama kali bertemu denganmu aku merasa ada yang lebih dengan pertemuan kita ini. Jika aku meraba hati ini, sepertinya aku telah jatuh hati padamu. Ya, sejak pertama kali ketemu waktu itu. Saat kau baru turun dari mobilmu, dan menoleh padaku yang saat itu berada di teras depan rumahku. Kau tersenyum padaku, dan akupun membalas senyummu. Sejak itu pula aku punya tetangga perempuan yang dekat dengan rumahku.

Ternyata tak hanya dekat rumah saja, kau pun adalah perempuan yang mempunyai kedekatan emosional denganku nomor dua setelah ibuku. Itu terjadi saat kau ternyata menjadi murid baru di sekolahku waktu itu. Ternyata kau adalah adik kelasku, kelas satu SMA. Ya, aku waktu itu telah berada dua tingkat darimu, kelas 3 SMA. Ketika kau melihatku juga satu sekolah denganmu, tepatnya ketika jam istirahat di depan kantin kecil-kecilan pak Suryo.  Aku tak menyangka kau akan berani mendekatiku dan menyodorkan tangan kananmu berniat bersalaman denganku. Dengan sedikit gugup dan sesegera mungkin menghilangkannya, lalu aku balas sodoran tangan kananmu itu dengan menyodorkan juga tangan kananku. Saling bersalamanlah kita, dan kau menyebut namamu,

“Anjali Kezia” katamu.

Dan  aku pun membalas “Rizza” jawabku.

Saling kenallah kita, dan sejak itu pula kau lebih sering menghabiskan waktu istirahat denganku ketimbang dengan teman sekelasmu. Aku masih tak paham, apa alasanmu bersikap begitu. Aku tak mau berpikiran yang aneh dan terlalu jauh. Toh, aku adalah anak desa yang cukup seadanya, sedangkan kau adalah anak kota yang serba berlebihan. Apalagi katamu waktu itu hanya tiga bulan di desa ini, karena ayahmu segera pindah tempat kerja lagi. Oleh, karena aku tak berani banyak berpikir tentang hubungan kita.

Sekolahku bagi ukuran desa cukup besar itu, akhirnya ramai dengan kedatanganmu pertama sebagai siswi pindahan dari kota selama tiga bulan nanti. Jadilah kau perbincangan hangat bagi setiap siswa, karena kecantikan fisikmu dan nilai kekotaanmu yang masih melekat jelas itu. Bagi para siswi kaupun tak kalah menjadi bahasan gossip mereka juga. Pernah kudengar dari salah satu siswi, kedatanganmu yang sebentar itu cukup membuat sekolah desa ini gempar dan mereka dengki karena kau dianggap bak seorang puteri raja. Sebenarnya lebih dari itu, kau tak hanya seolah sebagai puteri raja, namun sebagai bidadari anugerah dari Tuhan yang diturunkan dari langit untuk sekolah ini.

4

Terutama bagiku, kedekatanmu denganku yang tiba-tiba itu telah banyak membuatku tahu tentang dirimu dan keluargamu. Tentang kerja bapakmu, yang mengapa selalu pindah dari kota ini ke kota satunya, atau dari desa satu ke desa berikutnya, begitu seterusnya. Kau bercerita tentang bapakmu yang bekerja di pusat penelitian tanaman dan pertanian di kota dan desa. Kau pun bercerita, sebenarnya tak suka dengan pola pindah rumah dan pindah rumah sering sekali. Tapi, kau pun mensyukuri itu karena  dengan itu maka kau akan bertemu teman-teman baru, termasuk bertemu denganku katamu. Ah, mendengar itu An, membuatku bak melayang di langit pagi. Tapi aku sadar, hanya menjadi teman saja sudah seperti itu apalagi ketika aku dianggap lebih oleh dirimu.

Selama tiga purnama yang kita lalui itu, kau memang yang banyak bercerita An. Aku hanya mendengarkan saja. Aku hanya mengamati saja, aku hanya berkomentar sedikit saja, aku hanya ingin membuatmu paling tidak senyum saja cukup. Suatu ketika kau pun berkisah tentang masa lalumu, entah kenapa begitu mudah kau bercerita tentang masa lalumu itu. Kurasa kau memang tak mungkin tahu, apa yang aku rasakan saat ini tentang dirimu. Tapi aku cukup hanya mendengarkanmu saja.

“Kau pernah suka pada seseorang Riz?” tanyamu.

“Hmm, belum” jawabku sekenanya.

“Bener nih?” Tanyamu lagi dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

“Ya, aku belum pernah suka sama perempuan selama ini An” jawabku lagi.

“Hmm, boleh aku cerita Riz?” tanyamu dengan suara yang lebih rendah.

“Ya, boleh aja An, cerita sajalah gak perlu sungkan-sungkan, kayak kita baru kenal saja”

“Aku dulu pernah suka keseseorang waktu masih SMP Riz, tapi aku gak paham kenapa aku suka ke dia.

Ya, walaupun gitu sampai sekarang aku masih suka ke dia Riz, padahal aku belum tahu apakah dia juga suka ke aku apa nggak? Tapi, denger-denger dari teman dekatnya sih dia juga suka ke aku. Anehnya, kalo kita ketemu di kantin misalnya, dia hanya diam bahkan menyapa aku aja nggak apalagi mau bilang suka ke aku Riz. Padahal aku sangat berharap Riz, ke dia. Ya, sampe sekarang aku gak tahu apa yang dia mau dan dia fikirkan. Padahal aku tetep menunggu.”

Kau terus bercerita tentangnya, tentang masa lalumu yang sangat kau cintai itu. Kurasa aku tak perlu berkomentar tentang ini, andai kau tahu mendengarnya saja sudah mengiris-ngiris hatiku jadi beberapa bagaian yang tak utuh. Apalagi jika ternyata kisahmu benar dia juga suka padamu. Betapa hancurnya hatiku An, aku tak tahu siapa yang meremuk dan melumatkannya. Tapi, pasti remukan dan lumatan hatiku terasa sangat jika itu benar.

5

Kuingat katamu terakhir waktu itu An, “Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.”

Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.

An, semoga perkiraanku benar kau paham dengan apa yang kulakukan selama itu bersamamu, semua itu karena aku mencintaimu. Menemanimu memandang malam, sampai tiga purnama saja itu sangat membuatku bahagia. Apalah lagi jika kau mau menerimaku apa adanya, An. Tapi, aku sangat paham kau sangat sulit melupakan masa lalumu itu. Ya, dari caramu bercerita tentangnya saja bisa aku simpulkan mungkin cintamu cinta mati untuknya. Aku pun tak tahu engkau sekarang ada di mana, entah di kota atau mungkin di desa sebelah.

Sampai saat ini, malam betah di langit sana. Entah kenapa pagi pun tak segera menggantikannya. Apakah ia enggan, menerangi dunia. Ah, aku sendiri tak tahu, An. Sedari tadi aku menunggu pagi dan sabar menemani malam berjalan dengan waktunya. Tapi, sepertinya semua itu sia-sia. Aku yang terbaring ini, tak bisa melihat pagi lagi, An. Hanya malam dan gelap saja yang kulihat. Ibuku pun sampai menangis melihatku seperti ini. Aku sudah tak bergerak, sangat kaku katanya. Oh, aku tak lagi mampu bernafas kata ibuku.

Meski begitu, aku selalu menunggu pagi An. Aku menunggu cerahnya dunia kala itu. Menunggu dirimu datang dengan sunggingan senyummu yang menawan. Serta wajahmu yang kemerah-merahan indah itu, datang di dihadapan jasadku. Aku setia menunggu pagi An, aku setia menunggumu sepanjang malam sampai malam panjang ini. Saat jasadku  tak lagi berruh seperti sedia kala, sungguh pagi serta kedatanganmu selalu kutunggu. Itulah kata jantung hatiku An, sampai saat ini sudah tak berguna lagi. Tak ada detak-detak yang mengguncang lagi. Tak ada tanda-tanda hidup lagi. Yang ada hanya jasad lelaki penunggu pagi.

21.04.2011, Rumah Taqwa, Malang.

* 1. Gambar diambil dari sini 

2. Dimuat juga di Galeri Cerpen Forum Lingkar Pena

3. Cerpen ini ada dalam buku Pohon Keberuntungan  

shadow of death
cover pohon keberuntungan

 

Radio Butut Kakung Syamsuri

“Mari pilihlah saya, Bejo Sugiantoro. Kita bangun sama-sama, kota bunga kita ini. Kota Sido lumpur, agar menjadi kota berkembang dan semakin maju. Pilih saya dari Partai Mata Hati Rakyat Indonesia (Matahari) No 55, mari berjuang!” Siang hari yang begitu panas, suara seperti inilah yang keluar dari radio butut Kakung Syamsuri.
“Waduhhh….sekarang partai koq banyak sekali ya, sampai 55 partai, waktu masih muda rasa-rasanya cuma 3 partai, bikin orang bingung milih aja” gerundel dalam hati Kakung Syamsuri.
Lalu diputarnya kembali tuning radio butut bermerk sanyo miliknya itu, yang sejak tadi masih dalam gengganman tangannya.Inginnya sih mencari channel baru. Bosan dengan ucapan-ucapan calon wakil rakyat yang kadang hanya sekedar cuap-cuap saja, janji tanpa bukti, yang semuanya hanya rayuan gombal.
Setelah menemukan channel radio yang lainnya, selang beberapa menit, beda lagi
Kampanye di radio itu dari calon wakil rakyat lainnya, berbeda dengan yang awal “Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam dan kaya akan manusianya. Untuk itulah perlu dibangun memiliki kesadaran memiliki negara ini. Saya Jaka Kharisma Tholedo (JKT), dengan partai saya Partai Bangun Diri Bangun Negara Bangun Bangsa dengan lambangnya seorang kuli kontrak. Kita songsong negara dan bangsa ini, menuju kejayaan abadi. Contreng Partai Bangun Diri Bangun Negara Bangun Bangsa ( Partai BDBNBB) No urut 51.
Kakung Syamsuri tak tahan lagi mendengarkan semua omong kosong itu. Yang telah berulang kali dan tak dapat dihitung dengan jari. Lalu tiba-tiba dia telah mematikan radionya itu. Suadah menjadi kebiasaan, di hari-hari yang telah renta itu. Dilaluinya denagn memegang radio dan mendengarkannya saja. Hampir tiap waktu senggangnya. Selain mengerjakan pekerjaan rumah. Radio itu adalah radio yang dia beli 40 tahun lalu. Tu sekali kuno sekali. Tapi siapa sangka suaranya masih semerdu sewaktu beli pertama kali. Itulah kehebatan barang-barang tua.
@@@
Saat matahari telah berhijrah dari titik tegah ke titik barat. Udara yang awalnya panas, mulai terasa mendingin. Angin sepoi-sepoi semilir tubuh Kakung Syamsuri yang tua, namun tubuh lelaki berkepala lima itu terbilang cukup kuat. Bagaimana tidak, dikala tubuhnya yang semakin rapuh itu, masih saja mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, yang seharusnya tidak dia kerjakan lagi. Maklumlah dia sendiri, tak ada istri tak ada anak, tak ada saudara tak ada kerabat. Tapi dia tak merasa sendirian. Karena masih ada benda tua itu, radio butut yang selalu menemaninya.
Kakung Syamsuri menghidupkan lagi radio bututnya itu. Dia cari channel radio favoritnya, Dunia Fm. Kebetulan program acara sore ini, kesukaannya juga, tembang-tembang jawi. Setelah satu tembang telah di putar oleh si penyiar. Lagi-lagi, kampanye di radio lagi. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Salam sejahtera selalu. Saya Abdul Kholifi. Dukung saya lagi. Beri saya kesempatan satu kali lagi. Empat tahun mendatang kita angkat derajat bangsa ini di mata dunia. Karena sesungguhnya, saat ini kita belum merdeka, ingat saudara-saudara kita belum……..” Kakung Syamsuri semakin menggerutu wajahnya, amarahnya tak tertahankan lagi, belum selesai kampanye itu dan ‘Gebruakkkkkkk………………….!!!!


@@@
Hari pemilihan umum akan dilaksanakan. Pagi sangat terang, Kakung Syamsuri duduk di teras depan, di atas kursi kayu tua. Termenung termehek-mehek sendiri. Dia sendiri, radio bututnya tak lagi menemani. Hari yang dulu selalu ceria, kini berubah sepi. Radionya tak mungkin dipakai lagi, telah hancur berserakan. Kini sisa-sisa itu dia kumpulkan di sebuah tempat. Tuk dia bawa kemana-mana. Kini tinggal kenangan.
“Pak Syamsuri, ayo pak kita berangkat. Sudah di tunggu pak…….ngomomg-ngomong mau nyotreng apa nich pak?” Suara itu membangunkan Kakung Syamsuri dari lamunan tentang radionya yamg telah rusak.
“Bilang aja, sama pak Rt saya gak mau milih, saya golput aja. Sekalian salam untuk calon-calon wakil rakyat itu, radio saya rusak gara-gara mereka semua. Makanya, aku gak mau milih mereka. Sepertinya ucapan mereka hanya omong kosong belaka, jadi nggak mungkin mengganti radio butut saya itu, iya nggak? Emangnya mereka setelah jadi wakil rakyat mau mengganti radio saya itu, mereknya sama, modelnya sama, pokoknya semua sama bin persis,mau ngga…….? Bisa nggak……?”Kerasnya suara Kakung Syamsuri, pun mengagetkan beberapa orang yang mengajaknya pergi ke TPS.
Mereka bingung,mereka bengong……….!?!?!?!?!?

Harum Kesturi di Tepian Gaza

 

Annida Online Maret 2011
Annida Online Maret 2011

15 Ramadhan 2003

Siang di Gaza memang selalu panas. Walau bukan musim panas, hawa yang menyengat tubuh pasti ada, karena memang dingin tak akan mungkin meredam panas. Panas dunia dan panas perang yang melanda Palestina. Perang yang tiada peduli dengannya. terkecuali mereka yang benar-benar membuka lebar-lebar daun telinga dan kelopak matanya.

Dentuman meriam memekikkan suasana, terlihat tank-tank merkava milik negeri tak punya rasa berjalan gagah menubruk semua yang ada di hadapannya, tak peduli apa dan siapa.

“Naj, ayo cepat lari mereka mengejar kita!” kata Rama dan Samah.

“Biar! Aku tak takut pada mereka!” jawab Najah.

“Tapi……mereka bersenjata ampuh, kita hanya bertangan kosong, mungkin hanya batu-batu di kanan kiri kita sebagai senjata.”

“Ya, benar kau Rama, oleh karena itu aku ingin melihat kejantanan mereka, aku yakin Allah pasti menolongku begitu juga kamu jika kita berani!” kata Najah mantap.

Kendaraan berlapis baja pun semakin dekat dengan mereka, terlihat tentara bertopi hitam, bersiap meluncurkan rudal dia makin congkak dan arogan.

“Najah, tank itu semakin dekat!” kata Rama lagi.

“Sudahlah kalau kalian takut, lari sajalah kalian, tinggalkan aku, biarkan aku di sini sendiri!” Najah menyuruh Rama dan Samah.

“Hayya baz, Rama adzunnu annahu yastathi’u an yadfa’a nafsah.” Samah berpendapat.2

“Laakin, Samah, akhoofu Najah….”

“Labbaik, Samah!”3 Rama menjawab meskipun masih tersisa keraguan.

Rama dan Samah pun berlari meninggalkan Najah. Mereka mencari tempat persembunyian. Dan mereka bersembunyi di balik gundukan rompahan gedung rumah yang telah lama hancur. Mereka masih memperhatikan temannya yang satu itu. Mereka mengintip Najah dibalikgundukan. Sedangkan Najah semakin mendekat dengan tank itu, dia menegakkan badan dengan di tangannya sebuah batu cukup besar. Dia pun berteriak:

“Hai, tentara monyet! Beranikah kau kepada anak kecil sepertiku? Beranikah kau kepada hamba Allah seperti aku? Kalau kau jantan turun, sini hadapi aku!”

Kelihatannya tentara zionis marah mendengar perkataan Najah. Mereka seperti tertantang dengan perkataan Najah. Perkataan Najah bak sambaran petir bagi mereka.

Dengan menenteng senjatanya mereka turun dengan wajah merah penuh arogan.

Laksana binatang buas yang melihat hewan buruannya dan ingin menerkamnya. Mereka semakin mendekat dengan Najah. Tetapi Najah tak gentar. Bahkan sepertinya tentara itu semakin ragu dan takut. Dengan keberanian Najah mereka pun berhenti melangkahkan kaki seperti kehilangan tenaga.

Najah pun mempersiapkan tangannya untuk melemparkan batu.

“Hai, zionis drakula! Kenapa berhenti? Takut kalian?” Najah mengejek penuh sindiran.

“Heh, sini keturunan monyet bunuh aku, kalian membawa senjata kenapa harus takut, aku yang hanya membawa batu saja tidak takut, berarti kalian banci!” ledek Najah lagi.

Mendengar cemoohan dan sindiran Najah yang berulang kali, sehingga membakar kembali kemarahan mereka. Mereka mempersiapkan senjata, dan mengarahkannya kepada Najah. Saat itu Najah melemparkan Batunya ke salah satu tentara.
“Allahu Akbar, hiaaaa!” Najah bertakbir sambil melemparkan batu.

Batu melesat jauh. Tepat mengenai sebelah mata salah satu tentara.

“Ahh….awas kau bocah kecil!!” teriak lengking tentara itu.

Dan tentara lain pun terkejut atas perbuatan Najah itu.

“ Hayya qottilni,4 bunuh aku…!” Najah berkata penuh keberanian.

Tentara lain pun siap meluncurkan timah panah kepadanya. Mereka tengah mengarahkan tembakan. Dann…

“Doorrrr…dorrrr…….dorrrrrrrrr.”

Tembakan tentara Israel memuntahkan amunisi tajam.

Tiga timah panas tepat mengenai kepala dan perut Najah. Dan dia jatuh terkapar di atas tanah, matanya menatap langit yang mulai keliatan terlintang mendung. Dan berkata:

“ Laa ilaaaha illallah, Muhamaad rasuulullah!”

Tentara zionis tertawa terbahak-bahak ketika Najah mati. Dan seketika itu pula, Rama dan Samah lari terbirit-birit takut menjadi sasaran yang berikutnya. Tentara Israel melihat mereka dan mengejarnya.

“Hei, jangan lari kalian!” Salah seorang tentara berteriak.

Tetapi mereka berdua tetap lari penuh rasa takut yang berkecamuk di otak. Siang itu mereka tengah shaum ramadhan. Sehingga itu mempengaruhi stabilitas kerja tubuh mereka. Samah tak kuat lagi untuk berlari. Samah tersandung batu di jalan yang di laluinya. Rama sudah cukup jauh darinya.

“ Rama…. Rama!” Samah berteriak.

Rama menoleh kebelakang kaget dan segera mendekatinya.

“Kau tidak apa-apa, Samah?”

“Aku tidak apa-apa kok, cuma kesandung batu.”

“Ayo, Samah, berdiri! Tentara itu semakin dekat!” Rama berkata sambil mengangkat badan Samah.

Dan mereka mencoba berlari lagi, mencoba menghindari cengkraman hewan-hewan buas kelaparan lagi haus darah itu. Ternyata Samah tak sanggup lagi meneruskan larinya. Dia berhenti tak melangkahkan kaki. Tentara Israel pun melesatkan peluru kepadanya. Karena dia satu-satunya target yang terdekat. Timah panas manancap tepat di kaki kirinya. Dan yang kedua kalinya tembus tepat mengenai perutnya. Samah pun jatuh seketika. Rama yang telah lari jauh jaraknya darinya ingin kembali dekat dan menolongnya. Setelah mengetahui Samah tertembak dan terjatuh.

“Rama, pergilah kau tak usah kembali, pergi…!” teriak Samah di sisa nafasnya.

Akhirnya Rama memutuskan untuk meninggalkan Samah, dan terus berlari. Karena dia telah memikirkan hal-hal aneh yang semestinya tidak dia pikirkan termasuk takut mati, takut akan datangnya malaikat Izrail menjemputnya. Tentara Israel tak meneruskan pengejarannya. Mereka membiarkan Rama lari dari kejaran mereka. Mungkin mereka telah puas dari dahaga haus darah. Dua orang mungkin telah cukup bagi mereka. Rama terus berlari hingga rumahnya.

***

Menjelang maghrib, Rama menemui ibunya yang sejak tadi sehabis ashar menyiapkan menu untuk berbuka. Meski dibawah satu rumah yang berpenghuni dua manusia. Ibu Rama, tetap bersemangat dalam meladeni anaknya, apalagi di bulan ramadhan. Rama menuju meja makan, yang sudah lapuk di makan rayap. Tersedia kurma, awameh makanan khas ramadhan dan idhul fitri dan sirup khas palestina di atas meja. Rama duduk di kursi meja makan sambil menunggu ibunya duduk pula. Saat itu sang ibu meletakkan menu makan setelah shalat maghrib nanti.

“Ramadhan, dari mana saja seharian kok ibu tidak melihat kamu sama sekali?” tanya Ummi.

“Rama dari main bersama-teman,” jawab Rama tidak mengatakan yang sebenarnya.

“Kok mainnya lama sekali, dari mana saja?” tanya ibu lagi.

“Cuma di sekitar sini saja, Bu…” jawab Rama agak tergagap.

“Sungguh…?” ibu penasaran.

“Iya sungguh, Bu.” Rama meyakinkan ibunya.

Azan maghrib berkumandang dari masjid Ar-Rahmah. Tanda ifthor boleh dimulai. Maka setelah berdoa buka puasa Rama dan ibunya pun menyantap menu ifthor yang tersedia di meja. Dan ibunya menyuruh Rama untuk tak lupa berdoa kepada Allah SWT untuk ayahnya, yang telah lama dahulu kembali pada-Nya meninggalkan dia dan ibunya. Sebenarnya Rama masih bingung siapa sebenarnya ayahnya. Tapi menurut dia ayahnya adalah orang yang paling jahat sedunia, tak punya rasa prikemanusiaan. Karena meninggalkan dia dan ibunya sejak lama.

***

Shalat isya dan tarawih pun selesai di tunaikan. Ramadhan berdoa untuk kedua temannya yang mati, akibat kebiadaban zionis . Ia teringat pada perkataan ibunya, do’akan ayahmu Rama. Di situ otak Rama, kembali berpikir siapakah ayahnya sebenarnya, apakah benar yang ada di benaknya selama ini. yang menganggap ayahnya seorang penjahat yang tak tahu diri, meninggalkan dia dan ibunya dalam kesulitan hidup. Ketika pikirannya melayang telah melanglang buana. Seorang di samping Ramadhan bersalam kepadanya dan menyapanya.

“Betulkah kau Ramadhan, anak Baasil Qawasimi, qoid Brigade Izzudin Al-Qossam yang mati syahid beberapa tahun silam itu?” kata orang itu.

“Ya, benar,” jawab Rama.

Sebenarnya Rama sangat risih dengn kata syahid yang disandangkan kepada ayahnya.

“Apakah benar, pagi tadi kau bersama anak yang benama Najah al-Sumairi dan Samah Nawahi?”

“Benar.”

“Mengapa kau biarkan mereka syahid sedangkan engkau tidak?”

Pikiran Rama masih beku. Dia tak mampu menjawab pertanyaan itu. Rama terdiam, tak sanggup mengeluarkan kata. Karena di otaknya ada permasalahan yang berbenturan, membuatnya tak berargumentasi.

Rama tetap tak sanggup menjawab. Karena dia bingung akan menfokuskan yang mana. Akhirnya dia pun mengeluarkan sebait kata. Bukan sebuah jawaban tetapi sebuah pertanyaan.

“Yaa, Sayyed, apa yang kau tahu dari ayahku?”

“Maksudmu apa, Rama?”

“Siapakah ayahku sebenarnya? Itu yang masih misterius di benakku.”

“Rama, kau tak tahu bagaimana kehidupan ayahmu?”

“Hanya yang biasa kudengar saja.”

“Rama, ayahmu adalah seorang Qoid Brigade Izzudin al-Qossam, beliau syahid sebelum kamu lahir. Beliau sangat dicintai oleh masyarakat, karena kebaikan hatinya dan keberaniannya menentang zionis.”

Sekian jam lamanya, orang itu bercerita apa adanya tentang ayah dan kehidupannya. Rama merasa telah terbawa kepada sejarah pahit Palestina dahulu kala, yang sampai sekarang tak terhenti. Tak terhenti kecuali lahir pejuang-pejuang Allah yang benar mengharap ridha-Nya. Kembali pikiran Rama dalam sebuah kerancuan. Apakah benar ayahnya seorang pejuang? Ataukah hanya seorang laki-laki yang sok jantan, sok berjuang melawan Israel tapi melalaikan kewajibannya terhadap keluarga yaitu memberikan penghidupan bagi istri dan anaknya, seperti dugaannya? tapi kalau memang benar dia adalah seorang pejuang, mengapa ruh pejuang tidak turun kepada jiwanya? Mengapa hanya sifat pengecut yang ada membelut otaknya?

“Seharusnya ruh ayahmu hadir kembali dalam jasadmu, keberaniannya, kebaikannya, betul kan itu?” tanya si sayyed berupa sindiran halus untuk Rama.

Hampir berpuluh pertanyaan hadir di benak Rama, tapi semua itu masih saja tak mendapatkan jawaban yang cocok di hatinya. Sehingga dia lupa terhadap orang di sampingnya. Yang mengajak dia ngobrol. Yang sejak tadi menunggu jawaban dari Rama atas pertanyaannya. Rama tak menjawab tak bisa menjawab apa-apa, karena dia tak mendengar apa-apa pula.

“Yaa salaam Rama, kaifa haaluka akhi?”5 tanya si sayyed lagi masih dalam rangka sindiran.

Ruh Rama yang sejak tadi tenggelam dalam ruang abstrak yang berisi berpuluh pertanyaan, akhirnya kembali ke jasadnya lagi. Ia pun kembali merespon orang yang sejak tadi di sampingnya.

“Oh, maaf, Sayyed.” Rama tergagap.

“Ah, tidak apa-apa, Rama, sepertinya kamu gak enak badan, baiklah saya pergi dulu.”

Sayyed berpamitan dan mengucapkan salam. Begitu juga Rama, cepat-cepat ia melangkahkan kaki keluar masjid, karena dia ingat, tadi pergi kemasjid bersama ibunya. Segera ia mencari ibunya. Ia mencari ke sudut belakang masjid, yang merupakan tempat shalat akhwat6. Sudut itu kosong, tak terlihat seorang hamba yang berdiam diri di dalamnya. Dia bingung, di manakah ibunya. Dia mengira ibunya telah mendahuluinya. Rama terus mengayunkan langkah, hingga dia sampai pada peneduh jasadnya. Rumahnya surganya.

***

16 Ramadhan 2003

Ia hampir tak percaya bahwa yang ada di dalam peti itu adalah jasad kedua sahabatnya. Sahabat sejak ibtidaiyah, selalu bersama. Saat gelak tawa harus hadir dalam kehidupan, bahkan sampai detik-detik menempuh ajal mereka masih bersama. Terkecuali Rama tidak bertemu sang Izrail pada waktu itu. Saat tertulis di luar kedua peti itu, Asysyahid Najah Al-Sumairi dan Asysyahid Samah Nawahi. Bulir-bulir tetesan air matanya, turun deras tak tertahankan. Dalam hatinya, ia tak merelakan mereka berdua. Karena persahabatan yang lama itu, kini hilanglah sudah.

Iringan orang-orang semakin jauh membawa mayat mereka berdua ke pemakaman massal para syuhada, di lapangan kosong bekas reruntuhan bangunan, dikarenakan pemakaman yang asli telah dikuasai oleh zionis. Rama masih di atas tanah yang ia pijak sejak tadi, sengaja ia tak turut ikut dalam prosesi pemakaman. Karena ia tak mampu menahan egonya. Sungguh jahat kau Israel begitu dalam hati Rama.

25 Ramadhan 2003

“Rama…Rama…di mana kau wahai anakku?” tiba-tiba ibu Rama memanggil anaknya yang sejak tadi tertawan sepi tak seorang kawan yang menemani.

“Labbaik, yaa Ummi. Ada apa, Ibu,” jawab Rama.

“Kemarilah, anakku!”

Rama datang menghampri ibunya.

“Anakku ada apa gerangan kau sejak tadi duduk di teras rumah sedangkan kau beberapa hari lalu bermain bersama kawan-kawanmu di luar sana bahkan hingga ke luar desa, adakah masalah yang menghampirimu?”

“Tidak, Ibu. Rama tidak dalam masalah.”

“Jujurlah, anakku. Ibu melihat dari bola matamu sebuah masalah yang menimpamu.”

Rama tak mampu lagi untuk berbohong kepada ibunya. Akhirnya dia mengatakan apa yang seenarnya terjadi kepada dirinya.

“Wahai ibuku, masalah Rama sebenarnya tidak besar, tapi Rama yang membuatnya besar,” jawab Rama.

“Ya, anakku utarakanlah pada ibumu!”

“Ibu, Rama sedih…teman-teman main Rama kini telah tiada, mereka dibunuh oleh Israel…Rama kesepian…”

“Sejak kapan itu anakku?” tanya Ibu.

“Sejak 10 hari lalu, saat Rama pulang ke rumah agak sore itu, kami di kejar-kejar tentara zionis di dekat Jalur Gaza, dan kedua teman Rama di tembak dan mati di tempat.”

“Oh, waktu itu mengapa kau tidak jujur kepada Ibu?”

“Rama takut ibu akan khawatir, jadi Rama tak mengatakan yang sebenarnya.”

“Mengapa kau tidak mati saja bersama teman-temanmu?”

“Tidak! Rama ingat Ibu sendirian di rumah. Rama ingin jaga Ibu. Mengapa Ibu menginginkan Rama mati, apakah Ibu tak sayang pada Rama?”

“Rama, tidakkah kau ingin seperti ayahmu yang syahid di jalan-Nya? Tidakkah kau iri, kawan-kawanmu telah menginjakkan kaki di surga lebih dahulu dan bersenang dengan bidadari Ainul Mardhiyah, sedangkan kau masih terbeku kaku di sini?”

Rama masih saja diam tak bersua, terlihat dia dalam kebingungan yang nyata.

“Anakku, sesungguhnya ibu lebih bangga jika anak Ibu mati syahid di jalan-Nya, itu lebih berharga, Ibu akan dipermudah memasuki surga nantinya…”

Entah mengapa, tiba-tiba saja mendengar perkataan ibunya, ruh Rama seperti terhenyak.

***

“Heh, anak muda! Mana kartu identitasmu? Serahkan padaku, cepat!” bentak seorang tentara Israel yang berjaga di sekitar Masjid Al-Aqsa malam itu. Rama menyerahkan kartu identitasnya, kepada tentara itu.

Memang Al-Aqsa selalu dijaga oleh tentara Israel, karena mereka khawatir akan ada penyusup dari para pejuang islam. Dulu pernah terjadi pengeboman terhadap orang-orang Yahudi yang sedang berdoa di Tembok Ratapan. Mereka pun membatasi orang yang akan shalat ataupun itikaf ketika Ramadhan, berkisar lima belas ribu orang hingga dua puluh orang. Padahal muatan Masjid Al-Aqsa hingga dua ratus ribu orang.

Rama berjalan memasuki Masjidil Aqsa, meskipun berdesak-desakan berebutan dia tetap mencoba untuk melalui. Rama pun mampu memasuki Masjidil Aqsa, dan menuju shaf depan. Dia melaksanakan shalat tahiyatul masjid sesudah itu membaca Al-Quran. Di tengah tilawahnya membaca surat An-Nisaa dia berhenti lantaran dia membaca ayat yang membuatnya tertegun.

“Tidakkah sama antara orang yang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai udzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing , Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”.7

Rama tak mengedipkan mata saat membaca ayat itu, ia terus terpana dan tetap menatapnya. Ayat ini menambahkan keyakinanku, akan kasih sayangmu ya Allah, kata Rama terbersit di hatinya.

***

29 Ramadhan 2003 Malam Berbintang Gemilang

Takbiran berkumandang di seluruh penjuru kota, meskipun suasana tak berubah. Masih saja dalam keadaan mencekam bagi semua. Terkecuali Rama, dia tak gentar sama sekali meski israel di hadapannya. Malam takbiran ini dia ingin berada di masjidil Aqsa, malam ini dia ingin berada masjid suci yang ketiga, tetapi dia terlambat, tentara Israel telah menutup, pendaftaran orang yang akan masuk kedalam masjidil haram.

Ternyata bukan hanya dia yang terlambat, ada ratusan orang yang menginginkan masuk masjidil Aqsa, akan tetapi dilarang. Maka mereka termasuk Rama, mencoba memaksa masuk. Suara takbir terkumandang begitu menggelegar dari para pemaksa itu.

“Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaaha illahu Akbar,Allahu Akbar Walillahil lhamdu”.

Akhirnya, tentara israel pun tak sabar. Timah panas tak berarah beraturan terlempar kesegala arah. Maka siapa yang di hadapannya akan tertusuk olehnya. Banyak diantara mereka mati tak terselamatkan, salah satunya nyawa Rama pun melayang. Tubuhnya jatuh tergegang, peluru tepat menusuk dahinya. Di sisa akhir nafasnya, syahadat terucap lembut. Izrail membawa nyawanya, saat itu dia telah mencium mewangi lakaran surga kasturi adanya.

Tenang Najah dan Samah kematian kalian takkan sia-sia. Doa kami selalu menyertai kalain.

Keterangan:
1.Ayolah sudah Rama, saya pikir dia bisa menjaga dirinya sendiri.

2.Tetapi, Samah, saya takut Najah…

3.Baik, Samah/ya, Samah.

4.Ayo, bunuhlah aku!!

5.Aduh, Rama gimana kabarmu, wahai saudaraku?

6.Jamak dari ukhtun berarti perempuan.

7.Surat An-Nisaa ayat 95

*dimuat di Annida Online Maret 2011

dimuat di buku Pengantin-Pengantin Al-Quds

dimuat di blog http://fursanallail.blogspot.com/2011/02/harum-kesturi-di-tepian-gaza.html?showComment=1385526832545#c2671580102222362035 tanpa izin pada penulis.