(1-Gagasan Jawa Pos 2013-19 Februari 2013) Menjadi Guru Bukan Untuk Mengeluh*

Beberapa hari lalu saat saya membimbing adik-adik di sebuah sekolah dasar membuat madding, saya menemukan seorang guru mengeluh di hadapan saya. “Di sini kurang fasilitasnya mas. Saya ingin di sini ada aula khusus untuk acara. Mushala dan perpustakaan sudah sering dipakai kegiatan siswa lain. Jadi kalau ada ruangan khusus, jadi enak mas kalau ada kegiatan seperti. Tapi ya itu di sini ini sulit mas Ridho, nggak seperti tempat lain.”

Saya hanya tersenyum dan mendiamkan apa yang dikatanya. Saya sangat menyayangkan seorang guru yang mengeluh hanya karena kekurangan fasilitas. Sungguh, dalam hati saya bertanya apa dia tidak malu dengan anak didiknya yang tetap ceria dan bersungguh-sungguh dalam belajar walau dalam kekurangan?

Apa dia belum tahu bagaimana kiprah Pengajar Muda yang digagas Indonesia Mengajar. Mengajar di daerah pelosok yang bahkan sulit listrik dan alat-alat belajar mengajar lainnya, tidak seperti di tempatnya yang sudah ada listrik. Namun, mereka tetap semangat mengabdi, menyalakan peradaban tanpa mengeluh.

Seorang guru yang digugu dan ditiru, tak selayaknya menjadi pengeluh. Karena ia adalah pengajar anak bangsa agar semangat menjalani hidup meraih masa depan yang lebih baik. Jika gurunya saja mengeluh maka bisa jadi anak didiknya tak jauh dari gurunya nanti. Harapannya, semoga semakin banyak guru dengan semangat mengabdi tanpa batas dan tanpa mengeluh.

*judul diganti oleh redaksi menjadi Guru Jangan Tularkan Keluhan. Dan ada beberapa yang diedit.179269_4426973637443_874197044_n