Mengenalkan Buku Kepada Adik

16423142_10208249064809261_5347814824651514378_o.jpg

Alhamdulillah, hari ini usianya sudah 5 tahun. Semoga menjadi anak shalihah, sehat dan barakah ya adik Arfa Nazihah Ashri.

Sebagai seorang kakak, saya mengenalkan dia kepada buku. sejak dia hanya didongengkan oleh Ummi, sampai sekarang saat dia sudah mulai bisa mengeja huruf. Beberapa buku anak, biasanya saya dapat dari request kepada penerbit sebagai reward dari menulis resensi, tidak hanya bermodal resensi jika ada rezeki pun saya membeli buku anak juga. Selain untuk dibaca oleh adik saya, juga untuk saya bawa ketika membuka taman baca di Car Free Day Alun-alun Bondowoso (wah, jadi kangen buka taman baca lagi). Alhamdulillah, dia sudah mengenal buku, dan bahkan kadang minta dibelikan,  “Mas Adik belikan buku Naura-seri Naura Penerbit NouraBooks- yang ini ya, buku ini dan itu ya, dan bahkan salah satu permintaannya dari beberapa permintaannya ketika doa setelah shalat adalah meminta buku baru

Alhamdulillah, sebelum 6 februari, request saya atas buku anak karya Mbak Tethy  Ezokanzo dikabulkan oleh penerbit dan sampai. Jadilah ini buku baru di hari lahirnya. Semoga semakin mencintai buku dan ilmu ya Dik. Menjadi ahli ilmu yang mengamalkan menyebarkannya, aamiin… 🙂

Membeli Buku

13239253_10206332876905761_1382335321472006081_n

Alhamdulillah, itu yang saya ucapkan ketika datang untuk menemani kelas menulis kemarin siang. Adik-adik yang mengikuti kelas menulis punya inisiatif keren agar menumbuhkan minat baca teman-temannya. Masing-masing mereka membeli cukup banyak buku (kebetulan ada bazar buku murah MMU di Perpusda Bondowoso), dan mereka membawa buku-buku yang mereka beli itu ke sekolah. Mereka menaruh buku-buku tersebut di rak yang tidak dipakai, dan memperbolehkan teman-temannya untuk membaca selama istirahat.

Alhamdulillah, semoga ini merupakan salah satu angin segar budaya literasi di generasi muda yang ada di Bondowoso

(Mudah) Menulis

13041142_10206142837714900_1587209896193752929_o

Seperti kata Mbak Afra, “Menulis adalah menuangkan isi kepala.” Agar mudah dalam menulis, kepala harus diisi dulu dengan membaca. Selain memberitahu dasar-dasar menulis yang saya tahu, saya juga memotivasi adik-adik kelas menulis di Sdmuhammadiyah Bondowoso untuk semangat membaca.

Karenanya, setiap pertemuan saya selalu membawa buku dan majalah anak yang saya punya. Kebetulan paginya baru datang buku anak terbaru terbitan Penerbit Indivamedia Kreasikarya Mas Saleh Khana dan juga karya Kharissa Nurmanita Fayanna Ailisha Davianny dkk, jadi saya bawa juga ke pertemuan mingguan untuk foto bareng dengan dua buku tersebut.

Namun, dua buku tersebut belum boleh mereka pinjam, karena saya belum baca. Dua buku anak ini sangat bagus, karena tidak hanya menghibur namun ada nilai-nilai yang berusaha ditanamkan kepada pembaca anak. Recommended! 🙂

Memiliki Buku

14068403_10206895203323570_942735099377625043_o

Memiliki buku bagi saya tidak hanya untuk dibaca sendiri, namun ada niatan lain yaitu membagi. Seperti membagi pembacaan saya atas sebuah buku melalui tulisan yang biasa saya kirim ke koran ataupun saya posting di blog.

Membagi pembacaan saya atas sebuah buku juga disampaikan secara lisan, dulu saat di Malang, saya membuat Klub Pecinta Buku Booklicious – Malang yang memiliki agenda pertemuan seminggu sekali untuk ngobrolin buku yang sedang dibaca atau telah dibaca dalam seminggu lalu (pertemuan semacam ini juga ingin saya lakukan di Bondowoso, masih mencari pecinta buku yang memiliki waktu untuk bertemu dan sharing). Selain itu saya biasanya menceritakan pembacaan saya atas sebuah buku kepada adik-adik yang saya temani belajar menulis di ekstrakurikuler kelas menulis sebagai pemicu untuk mulai menyenangi dunia membaca.

Selain membagi pembacaan atas sebuah buku melalui tulisan dan lisan, saya juga biasanya meminjamkan bukunya langsung untuk dibaca. Tapi, biasanya saya juga melihat orangnya dulu apakah bisa merawat buku dan apakah akan dikembalikan nantinya. Terkhusus untuk adik-adik kelas menulis, memang saya sengaja untuk membawa buku saat jadwal kelas menulis dan meminjamkan kepada mereka, agar yang tidak suka membaca menjadi suka membaca, juga agar bahan bacaan mereka bertambah sehingga lebih mempermudah proses belajar menulis mereka.

Sejatinya, memang sejak saya masih di Pondok Pesantren saya memiliki keinginan membuka Taman Baca, alhamdulillah buku-buku saya terus bertambah di antaranya banyak reward menulis resensi dari berbagai penerbit dan penulis. Saya juga biasanya memang sering request buku anak-anak kepada penerbit, karena sasaran saya lebih kepada generasi anak-anak kecil pra-sekolah hingga sekolah dasar. Karenanya, ketika membuka taman baca gratis di car free day alun-alun Bondowoso saya menempatkan buku anak-anak dan majalah Bobo di depan sendiri, agar anak-anak yang lewat ada ketertarikan untuk mampir dan membaca. Begitu juga untuk adik-adik kelas menulis yang sekolah dasar, buku-buku yang saya pinjamkan adalah buku dan majalah anak-anak dari seri KKPK hingga Majalah Bobo.

Peningkatan mutu pendidikan anak negeri melalui jalur literasi saya pilih sebagai jalan perjuangan, jalan jihad. Karena tidak bisa disangkal kemerdekaan salah satunya juga diawali oleh tokoh-tokoh yang gemar membaca juga menulis. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, Kartini, M. Natsir dan masih banyak yang lainnya.

“Aku rela dipenjara asal bersama buku,” ucap Bung Hatta ketika dipenjara, “karena bersama buku aku bebas.” Semakna pula dengan tagline KCB-Mataram (Kelompok Cinta Baca Mataram) yang digawangi Wak Ical, “Membaca itu merdeka!”

Begitulah, membaca adalah kebebasan juga kemerdekaan. Semoga di 71 tahun kemerdekaan negeri ini, semakin merata pembebasan buta aksara, semakin banyak orang membudayakan membaca, semakin besar kesadaran orang agar tidak asal bisa bicara juga nge-share informasi dunia maya tanpa mengetahui kebenarannya, semakin maju pendidikan Indonesia, semakin berprestasi anak negeri, juga semakin luas jalan anak negeri berprestasi untuk mengabdi untuk negeri sendiri.

Mari ambil kaca, apa yang sudah kita berikan untuk negeri ini. -Anies Baswedan

*adik-adik kelas menulis di SD Plus Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso.

Berani Menulis Itu Hebat

1411491286483391052
sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/1411491286483391052.jpg?t=o&v=760

Baru saja salah satu dari adik-adik saya yang mengikuti kelas menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso, mengirim inbox ke saya. Intinya, dia meminta maaf kalau dia dan salah satu temannya yang ikut lomba juga, tidak bisa membahagiakan saya karena belum menang lomba menulis cerpen PECI yang diadakan oleh Penerbit Indiva. Selamat ya adik-adik yang menjadi juara!

Wah, saya terharu. Padahal ya saya juga hanya membagi ilmu menulis cuma segitu aja, ya karena ilmu menulis saya sementara begitu aja, dan saya nggak minta mereka menang. Mereka mau dan berani menulis, kemudian mau dan berani mengirimkan untuk mengikuti lomba saja saya sudah senang. Saya kemudian jawab, “Lha gpp, santai aja, yang penting pengalaman. Ayo baca buku lagi, cari ide lagi, nulis lagi, nulis cerpen lagi, nulis puisi lagi, ngirim ke bobo, ngirim ke kompas dll. Semangat ya!”

“Siaaapp kak. Aku sma zahro udh ada judul, terus udh ada cerita nya. Jd tinggal ngelanjutin. Tp kalo beberapa minggu ini aku gak bisa ngelanjutin cerita nya. Kalo tangan ku udah normal baru nulis lagi kak,” jawab adik itu melalui inbox. Kabarnya tangannya memang pernah patah dan dioperasi, dan sekarang tangannya akan dioperasi lagi.

Semoga operasinya lancar, dan bisa menulis lagi. Semoga bisa mengikuti jejak Ayu (satu-satunya anak Bondowoso yang menulis buku KKPK). Tak hanya itu, semoga menginspirasi adik-adik kelasnya dan anak-anak SD lainnya yang ada di Bondowoso untuk ikutan menulis. Saya bahagia, karena mereka semangat! 🙂

Salah satu komentar atas status fesbuk saya di atas, mengatakan, “Bisa menulis sudah menjadi juara!” Saya pun mengamini, karena sejatinya, berani menulis dan berani mengirimkannya adalah sifat para juara. Berani menulis itu hebat! Semoga ini tidak mematahkan semangat adik-adik menulis kelas menulis saya, tetapi malah menjadi pelecut motivasi bagi mereka untuk semakin semangat belajar, membaca dan menulis. Tidak hanya untuk mereka semoga saya pun semangat belajar, membaca dan menulis. Semoga! 🙂

Roadshow Mas Gagah Di Al-Ishlah

Siapa yang tidak kenal Helvy Tiana Rosa, salah satu penulis nasional dengan segudang penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak 7-10 Mei 2015, dia berkeliling ke beberapa kota Jawa Timur. Di antaranya, Malang, Jember dan Bondowoso. Hal ini dalam rangka roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), yang dibuat berdasarkan novelet karya Helvy dengan judul yang sama.

Pada 10 Mei 2015 sore, Helvy bersama rombongan  mendatangi Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Dia berbicara di depan 300-an santriwan dan santriwati kelas takhasus, 4-6 KMI (Kulliyatul Muballighien Al-Islamiyah) Mahasantri STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), dan santri pesantren kilat PSPUP.

Bondowoso adalah kota keempat yang Helvy datangi untuk keperluan roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi, dan berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Ishlah auntuk pertama kalinya. Sejak masuk ke kawasan Al-Ishlah, Helvy mengaku langsung merasakan kesejukan pondok yang ada di bawah bukit Patirana.

Helvy mengatakan bahwa pondok pesantren adalah benteng terakhir Umat Islam. Karenanya, harus ada santri yang menulis. Karena saat ini Islam kekurangan penulis yang menuliskan kebenaran. Maka, harapannya dari santrilah yang melawan tulisan-tulisan yang mengerikan (berisi pergaulan bebas, sex dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama).

“Menulis itu persoalan disiplin dan tekad. Meskipun bapak kalian adalah petani, kakek kalian adalah petani, buyut kalian petani, bapak buyut kalian petani, kalian tetap bisa menjadi penulis. Bagaimana caranya? Teruslah, berlatih!,” ucap dosen UNJ dan juga pendiri Forum Lingkar Pena tersebut.

“Tulisan yang ditulis dengan hati, akan sampai kepada hati-hati lainnya. Tulisan yang ditulis dengan nurani, akan sampai kepada nurani-nurani lainnya,” tambah Helvy. Selain memotivasi santri untuk menulis, Helvy juga menceritakan perjuangannya untuk memfilmkan noveletnya (KMGP) agar tidak hilang ruh dakwahnya.

Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya "Mata Ketiga Cinta"
Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya “Mata Ketiga Cinta”

Ada PH yang akan memfilmkan KMGP dan membayar 100 juta, tetapi cerita tentang jilbab dan Palestina harus dihapus. Dengan penuh idealisme, Helvy tidak menyetujui hal tersebut. Akhirnya, dia memilih untuk berkeliling Indonesia, bahkan ke luar negeri untuk mencari dukungan dan donasi, untuk bersama-sama membuat film Ketika Mas Gagah Pergi. Bagi anda yang merindukan film dengan nilai-nilai positif dan sangat meng-Indonesia tayang di bioskop. Yuk dukung KMPG, menjadi film!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di Harian Surya 2 Juni 2015