Roadshow Mas Gagah Di Al-Ishlah

Siapa yang tidak kenal Helvy Tiana Rosa, salah satu penulis nasional dengan segudang penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak 7-10 Mei 2015, dia berkeliling ke beberapa kota Jawa Timur. Di antaranya, Malang, Jember dan Bondowoso. Hal ini dalam rangka roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), yang dibuat berdasarkan novelet karya Helvy dengan judul yang sama.

Pada 10 Mei 2015 sore, Helvy bersama rombongan  mendatangi Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Dia berbicara di depan 300-an santriwan dan santriwati kelas takhasus, 4-6 KMI (Kulliyatul Muballighien Al-Islamiyah) Mahasantri STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), dan santri pesantren kilat PSPUP.

Bondowoso adalah kota keempat yang Helvy datangi untuk keperluan roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi, dan berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Ishlah auntuk pertama kalinya. Sejak masuk ke kawasan Al-Ishlah, Helvy mengaku langsung merasakan kesejukan pondok yang ada di bawah bukit Patirana.

Helvy mengatakan bahwa pondok pesantren adalah benteng terakhir Umat Islam. Karenanya, harus ada santri yang menulis. Karena saat ini Islam kekurangan penulis yang menuliskan kebenaran. Maka, harapannya dari santrilah yang melawan tulisan-tulisan yang mengerikan (berisi pergaulan bebas, sex dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama).

“Menulis itu persoalan disiplin dan tekad. Meskipun bapak kalian adalah petani, kakek kalian adalah petani, buyut kalian petani, bapak buyut kalian petani, kalian tetap bisa menjadi penulis. Bagaimana caranya? Teruslah, berlatih!,” ucap dosen UNJ dan juga pendiri Forum Lingkar Pena tersebut.

“Tulisan yang ditulis dengan hati, akan sampai kepada hati-hati lainnya. Tulisan yang ditulis dengan nurani, akan sampai kepada nurani-nurani lainnya,” tambah Helvy. Selain memotivasi santri untuk menulis, Helvy juga menceritakan perjuangannya untuk memfilmkan noveletnya (KMGP) agar tidak hilang ruh dakwahnya.

Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya "Mata Ketiga Cinta"
Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya “Mata Ketiga Cinta”

Ada PH yang akan memfilmkan KMGP dan membayar 100 juta, tetapi cerita tentang jilbab dan Palestina harus dihapus. Dengan penuh idealisme, Helvy tidak menyetujui hal tersebut. Akhirnya, dia memilih untuk berkeliling Indonesia, bahkan ke luar negeri untuk mencari dukungan dan donasi, untuk bersama-sama membuat film Ketika Mas Gagah Pergi. Bagi anda yang merindukan film dengan nilai-nilai positif dan sangat meng-Indonesia tayang di bioskop. Yuk dukung KMPG, menjadi film!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di Harian Surya 2 Juni 2015

Kopdar Komunitas Hidroponik Bondowoso

Banyak orang yang mengira bahwa menanam tumbuhan, baik sayur maupun buah harus di tanah. Tetapi, seiring berkembangnya waktu dan meningkatnya teknologi dan penelitian, ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Karena, telah ditemukan alternatif lain dalam menanam.

Yaitu, dengan cara yang disebut hidroponik. Darin pembuat grup Komunitas Hidroponik Bondowoso (KHB) mengatakan, “Hidroponik adalah menanam dengan media air. Jadi tanpa memakai tanah, tanaman bisa tumbuh. Medianya yang dipakai rockwol, sekam bakar, cocopeat atau yang mudah didapat adalah  kerikil pecahan genting.”

Keuntungan menanam menggunakan cara hidroponik adalah tetap bisa menanam walaupun memiliki lahan yang sempit. Selain itu juga cukup mudah dalam penerapan dan dapat memakai bahan di sekitar, serangan penyakit bisa diminalisir dan hasil produksi lebih sehat karena tidak memakai bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh.

Anis Sri Wahyuni seorang ibu rumah tangga yang mengikuti kopdar KHB, mengaku senang dengan adanya KHB dan ingin segera mencoba berhidroponik. Senada dengan Anis, Diah Wahyu Antika merasa senang sudah ada komunitas hidroponik di Bondowoso.  “Meski masih sedikit, dari yang sedikit itu dia berharap bisa memberi informasi pada warga yang ada di lingkungan sekitar. Yaitu dengan cara, terus menyemai dan menyemai. Dengan begitu akan ada bukti yang bisa dipamerkan pada tetangga. Harapannya dengan begitu, tetangga jadi pengen ikutan berhidroponik,” ujar mahasiswa pendidikan kesehatan, jasmani dan rekreasi Universitas PGRI Banyuwangi tersebut.

“Harapan saya membuat grup Komunitas Hidroponik Bondowoso (KHB) di fesbuk dan kemudian diadakan kopdar, adalah untuk mengenalkan cara bercocok tanam tanpa melalui tanah. Dengan semakin banyak yang mengenal, semoga nantinya akan banyak sayuran ataupun buah yang dimakan warga Bondowoso adalah yang fresh, sehat karena bebas pestisida,” tambah Darin yang juga mengajar di SD Muhammadiyah Bondowoso.

Nah, untuk warga Bondowoso yang berminat dan ingin belajar tentang hidroponik bisa bergabung dengan grup Komunitas Hidroponik Bondowoso. Di sana akan ada sharing ilmu, menambah teman dan saling menyemangati. Pengumuman kopdar juga melalui grup tersebut. Hidup sehat, bebas pestisida!

*tulisan ini pernah dimuat di Harian Surya 20 Mei 2015

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Baca Buku Gratis di Taman Baca BWC

Minggu, 12 April 2015 Bondowoso Writing Community (BWC) untuk pertama kalinya membuat Taman Baca Keliling di Car Free Day Alun-Alun Bondowoso. Tepatnya di bawah pohon rindang samping paseban alun-alun.                “Acara ini merupakan kegiatan awal kami berkonstribusi kepada masyarakat. Melihat toko buku di Bondowoso sulit berkembang, dikarenakan kesadaran membaca buku memang kurang. Perpustakaan saja selalu sepi. Kami yang merasa bahwa minat baca perlu dibudayakan,” ujar Risky ketua Bondowoso Writing Club.

Buku-buku yang dibawa adalah milik beberapa anggota BWC. Terdiri dari berbagai buku fiksi maupun nonfiksi, dari buku anak-anak hingga dewasa, dari berbagai penerbit dan penulis. Ada penerbit Indiva, Diva Press, Gramedia, Mizan, Noura Books, Bentang, Anak Kita, Tiga Serangkai dan lain-lain. Dari buku agama, kesehatan, parenting, hingga novel fantasi. Dengan berbagai macam buku ini, diharapkan pengunjung memiliki banyak pilihan yang bisa dibaca.

“Tujuan kegiatan ini adalah mengajak masyarakat Bondowoso agar menjadikan membaca dan menulis menjadi budaya, sehingga nanti Bondowoso bisa lebih maju dengan dua pilar peradaban tersebut. Kegiatan ini sekaligus mengenalkan kepada masyarakat Bondowoso tentang Bondowoso Writing Community. Kami juga melayani jika ada yang ingin berkonsultasi soal kepenulisan, free,” tambah Risky yang juga menjadi CEO Penerbit Raditeens.

Untuk kegiatan perdana, taman baca BWC cukup menyita perhatian masyarakat Bondowoso yang berada di Car Free Day. Salah satu pengunjung Taman Baca Keliling BWC,, Suroya-Ibu Rumah Tangga mengatakan bahwa kegiatan ini dapat membantunya untuk lebih mengenal dunia kepenulisan dan buku. Bahkan anak-anaknya pun senang, karena ada banyak buku anak yang bisa mereka baca.

Senada dengan Suroya, Ainuntya-Staff Tu SMPN Maesan senang dengan adanya Taman Baca BWC, karena  bisa bertukat info seputar buku juga bertemu (berteman) dengan orang-orang yang sehobi yaitu membaca dan menulis. “Menurut saya Taman Baca BWC ini sangat perlu lestarikan secara rutin. Tentunya bukan hanya sekadar menarik orang untuk sekadar mampir, tapi juga bisa menularkan kegemaran membaca buku,” kata Nafisah penyiar Radio Romantika Bondowoso. Semoga harapan itu, berbuah kenyataan. Bagi rakyat Bondowoso insya Allah minggu depan BWC akan mengadakan Taman Baca Keliling lagi, mari ramaikan!

dok pribadi
dok pribadi

Serasehan Pegiat Literasi Bondowoso

Seperti biasa, sore itu alun-alun Bondowoso dipenuhi oleh banyak orang. Dari yang olahraga, juga yang hanya santai duduk-duduk saja. Dari penjual nasi, sampai penjual cilok. Paseban alun-alun pun begitu, di minggu sore 22/Februari/2015 yang cerah itu dipenuhi oleh sekelompok orang duduk melingkar.

Mereka adalah orang-orang Bondowoso yang berminat di bidang literasi. Beberapa dari mereka sudah berteman di facebook, dan ini pertama kalinya kopi darat bagi sebagian besar yang datang. Sekitar kurang lebih 15 orang datang dari berbagai kalangan. Ada pensiunan Pemda, Guru, Mahasiswa AT-Taqwa, ibu-ibu rumah tangga sampai anak SD juga datang.

Perkumpulan ini menjadi sarana perkenalan antara pegiat literasi yang ada di Bondowoso. “Harapannya dengan adanya silaturrahim antar pegiat literasi kali ini, kita bisa bersama-sama memajukan Bondowoso melalui literasi. Semoga nanti bisa mengajak anak-anak muda Bondowoso yang masih sering kumpul gerombolan tanpa tujuan jelas, untuk turut berkarya,” terang Risky koordinator kopdar yang juga menjadi CEO sebuah penerbitan indie Raditeens Publisher.

Tak hanya untuk saling kenal, kopdar ini juga untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman. Bambang yang pensiunan Pemda berharap, dengan adanya perkumpulan ini bisa memunculkan semangat menulisnya lagi dan awet muda. “Saya dulu menulis sejak SMP, beberapa karya saya pernah dimuat di Kompas Anak. Tapi, ya begitu, setelah dimuat saya sudah sangat senang sekali. Saking senangnya sampai tidak melanjutkan menulis lagi,” ungkapnya.

Salah satu pegiat literasi yang hadir ternyata sudah lebih dulu menebar virus literasi di SD-SD pelosok Bondowoso. Rica yang juga menjadi guru di SMPN 2 Tamanan, blusukan ke SD-SD di pelosok Bondowoso untuk mengajak siswa-siswi di sana mencintai kebiasaan membaca buku. “Saya pernah Tanya ke salah satu siswa,  “Pernah baca Majalah Bobo?” “Gak tahu, Bu”. “Pernah baca koran?” “Gak pernah, Bu.” Miris sekali keadaan ini. Saya selalu membawa buku ataupun koran agar mereka tahu ada yang menarik dari membaca,” ungkap penulis beberapa buku antologi yang juga pernah menjadi wartawan di Jawa Pos tersebut.

Kopdar ini juga dihadiri oleh suami istri pegiat literasi beserta dua anaknya. Mereka adalah Taufik dan Widyanti. Taufik adalah penulis freelance yang banyak menulis tentang internet marketing di beberapa harian seperti Kompas dan Pikiran Rakyat. Sedangkan Widyanti adalah blogger aktif yang baru saja menelurkan karya pertamanya yang berjudul Food Combining: Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah (Penerbit Kawan Pustaka). Hingga menjelang maghrib, disepakati dua pekan lagi akan ada perkumpulan lagi dengan pembahasan bedah buku Food Combining oleh penulisnya langsung. Yuk warga Bondowoso dan sekitarnya silakan hadir dan turut serta memajukan literasi. Ditunggu kehadirannya ya!

menyimak cerita Pak Bambang
menyimak cerita Pak Bambang
saat Pak Taufik bercerita
saat Pak Taufik bercerita

IMG_2559 IMG_2560 IMG_2563 IMG_2564 IMG_2565 IMG_2566

*dimuat di harian surya 7 Maret 2015.

DNA: Mencari Bibit-Bibit Unggul Munsyid

Hujan tetap turun setia sejak siang hari di sekitar Bondowoso. Meski selepas isya hujan pun tunai, malam yang dingin semakin menjadi. Karena kegiatan adalah napas hidup di pondok pesantren, maka malam yang dingin bukan penghalang. 12 Februari 2015, selepas Isya gedung serba guna (GSG) Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso hingga di luar gedung dipenuhi oleh santriwan dan santriwati.

Mereka menghadiri acara roadshow salah satu tim nasyid (lagu islami) dari Kota Jember, yaitu DNA. DNA, bukan apa yang dipelajari dalam pelajari dalam biologi, tetapi DNA adalah singkatan dari Djember Nasyid Accapella. Roadshow DNA dilakukan dibeberapa kota di Jawa Timur khususnya se eks-karisidenan Besuki, di Bondowoso DNA memilih Pondok Pesantren Al-Ishlah tempatnya.

Kehadiran DNA disambut meriah. Ada sekitar 500an santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Ishlah yang mengikuti acara ini. Acara dibuka oleh Ustadz Rastiadi S.Pdi selaku wakil Majelis Pengasuhan Santri (MPS) Putra. “Berdakwah tidak hanya dilakukan dengan berbicara (ceramah), tetapi juga bisa dilakukan dengan seni musik. Salah satunya nasyid accapella yang dilakukan oleh kakak-kakak dari DNA ini.”

DNA digawangi oleh 6 personil, yaitu Jaka, Kamal, Yanuar, Agus, Didin, dan Syaifuddin. Nama terakhir tidak hadir karena sedang co-ass FKG Unej. Setelah memperkenalkan diri, Kamal mengatakan bahwa accapella itu no instrument mouth only. Accapella musiknya semua memakai mulut, karena unik dan murah inilah salah satu alasan kenapa DNA memilih mensyiarkan Islam melalui accapella.

DNA diketuai oleh Jaka, yang sudah pernah menelurkan album nasyid accapella di daerahnya dulu, Samarinda. Setelah menetap di Jember, Jaka mengajak teman-teman di pengajiannya yang berminat di dunia nasyid. Setelah sepakat personilnya, maka jadilah DNA. “Jika ada yang bilang accapella identik dengan salah satu agama, saya mengatakan tidak. Karena yang menemukan not (musik) itu ilmuwan muslim. Karenanya dalam not ada pengucapan “fa”, yang orang Barat tidak mampu mengucapnya dengan fasih,” tambah Jaka.

Tujuan diadakannya roadshow nasyid ini, DNA berharap akan lahir bibit-bibit generasi munsyid (penyanyi nasyid) accapella yang luar biasa dari Pondok Pesantren Al-Ishlah. Selain itu sebagai follow up, DNA akan mengadakan lomba nasyid se eks-karisidenan Besuki. Acara tidak hanya dilakukan talkshow semata, tetapi diselingi dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh grup nasyid yang sudah menelurkan satu album ini dan grup nasyid Pondok Pesantren Al-Ishlah, Shoutul Ishlah Junior, yang menyanyikan cover dua lagu Rhoma Irama dengan accapella.

Ada lima lagu nasyid yang dinyanyikan oleh DNA, salah satunya sebagai lagu terakhir yaitu cover lagu Goyang Dumang dengan pengubahan syair dan judulnya menjadi Ayo Baca Qur’an! Lagu yang nge-beat namun bisa di-accapellakan dengan baik oleh DNA. Penonton  semua antusias menonton dan mendengarkan. Karena selain menghibur dengan lirik yang bermakna, sepulang dari acara mereka pun akan terinspirasi dan ingin mengikuti jejak DNA. Semoga!

Ustadz Rastiadi, DNA dan MC
Ustadz Rastiadi, DNA dan MC
qori
qori
santriwan
santriwan
DNA in action
DNA in action
DNA
DNA
DNA
DNA
Shoutul Ishlah Junior In Action
Shoutul Ishlah Junior In Action
SI Junior
SI Junior
SI Junior
SI Junior
santri yang mendapatkan album perdana DNA gratis
santri yang mendapatkan album perdana DNA gratis
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA dan Ustadz Azhar
DNA dan Ustadz Azhar
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di harian surya selasa 24 februari 2015

Sehari Menjadi Mahasiswa Kampus Fiksi

Gedung Pemuda Surabaya memang selalu ramai, karena menjadi cagar budaya yang dijaga dan banyak dikunjungi oleh wisatawan. Namun ada aura yang berbeda pada tanggal 25 Januari 2015 yang bertepatan dengan hari minggu tersebut. Gedung Pemuda diramaikan oleh mereka yang ingin menjadi penulis.

Dari remaja sampai tua, dari pelajar-mahasiswa, hingga guru turut hadir dalam rangka mengikuti Kampus Fiksi Roadshow Surabaya. Penyelenggara acara ini adalah grup kepenulisan online UNSA (Untuk Sahabat) dan sebagai pemberi materi dari Penerbit Diva Press, Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi-CEO Diva Press) dan Qurotul Ayun (Editor Diva Press).

Acara dimulai pukul 10.10 WIB, yang diawali dengan kegiatan UNSA. Yaitu peringatan Ultah UNSA yang kelima tahunnya, awarding bagi pemenang utama cerpen pilihan UNSA dan awarding finalis UNSA Ambassador. UNSA didirikan 27 Januari 2010 oleh Dang Aji Sidik di Surabaya. Anggotanya di dumay sudah 14.414 orang. Sampai saat ini anggota yang telah memiliki kartu member terbanyak adalah di Jawa Timur.

Pemenang utama cerpen pilihan UNSA adalah W.N. Rahman, dengan cerpennya yang berjudul Netizen. Rahman menceritakan bagaimana proses kreatifnya menulis cerpen ini. Ternyata prosesnya cukup panjang untuk sebuah cerpen, yaitu satu tahun. Tetapi, lamanya membuat Netizen terlunasi, dengan terpilihnya cerpen tersebut menjadi pemenang Cerpen Pilihan UNSA. Pada acara ini juga diinfokan bahwa cerpen-cerpen pilihan UNSA dibukukan dengan judul yang sama dengan cerpen pemenang, Netizen.

“Cerpen pilihan UNSA ini berkiblat pada Cerpen Pilihan Kompas. Dengan harapan, nanti akan lahir penulis-penulis cerpen terbaik dari UNSA,” ungkap creator UNSA Dang Aji Sidik. Sedangkan dari dua orang finalis UNSA Ambassador, yang terpilih adalah Ken Hanggara. Cerpenis muda yang baru-baru ini menjadi pemenang kedua lomba menulis cerpen Asean.

Kemudian acara dilanjutkan denga Kampus Fiksi yang diawali dengan materi editing untuk penulis oleh Qurotul Ayun (Editor Diva Press). “Ada dua penulis yang akan diingat oleh editor. Yaitu penulis yang bagus banget dan penulis yang kacau banget (tulisannya), ucap Ayun.” Karenanya, dia berpesan kepada calon penulis agar tidak lupa mengedit tulisannya sebelum mengirim ke penerbit.

Setelah Ishoma, dilanjutkan oleh rektor Kampus Fiksi sekaligus CEO Diva Press yaitu Edi Akhiles. Dia menjelaskan bagaimana tips-tips menulis, yang detailnya ada di buku Silabus Menulis Fiksi dan Nonfiksi yang dibagikan gratis bagi peserta Kampus Fiksi. Salah satu yang Edi katakan adalah, “Menulis fiksi itu harus ada amanat yang disampaikan. Namun, walau begitu tidak perlu memakai dalil-dalil agama (jika fiksi religi), cukup disampaikan dengan smooth. Karena ini adalah karya fiksi.”

Para peserta mengikuti Kampus Fiksi dengan begitu antusiasnya. Banyak bertanya ini-itu tentang menulis kepada Edi. Hingga acara selesai, peserta pulang dengan ceria karena tidak hanya mendapatkan ilmu, makan siang gratis, tetapi juga mendapatkan buku gratis dari Diva Press. Mereka pulang dengan harapan, semoga kelak bisa menerbitkan buku juga. Semoga!

MC Ultah UNSA-5 Mas Aldo dan Mba Jazim
MC Ultah UNSA-5 Mas Aldo dan Mba Jazim
Creator UNSA Mas Dang Aji Sidik, memberi sambutan/
Creator UNSA Mas Dang Aji Sidik, memberi sambutan
Mas Aldo dan W.N. Rahman Pemenang Cerpil UNSA 2014
Mas Aldo dan W.N. Rahman Pemenang Cerpil UNSA 2014
Cerpenis Yang Cerpennya dimuat dalam buku UNSA yang berjudul Netizen
Cerpenis Yang Cerpennya dimuat dalam buku UNSA yang berjudul Netizen
Finalis UNSA Ambassador 2014 dan Admin UNSA
Finalis UNSA Ambassador 2014 dan Admin UNSA
Mba Qorotul Ayun memberikan materi Editing
Mba Qorotul Ayun memberikan materi Editing
Pak Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi dan CEO Diva Press) memberi materi menulis fiksi
Pak Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi dan CEO Diva Press) memberi materi menulis fiksi
Reportase Kampus Fiksi dan Ultah UNSA-5 di Harian Surya Kamis 29 Januari 2015
Reportase Kampus Fiksi dan Ultah UNSA-5 di Harian Surya Kamis 29 Januari 2015

*naskah sebelum ada editan editor Harian Surya, dimuat Kamis, 29 Januari 2015.

(Reportase 2013-8 Januari Harian Surya) Reuni berbuah Yayasan

Oleh : Muhammad Rasyid Ridho

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2010 Universitas Muhammadiyah Malang

 

Area parkir rumah makan Lestari Bondowoso di akhir tahun 2012 itu terlihat penuh. Di dalam ruangan pun suasananya sama, dipenuhi alumni Yayasan Sosial Indonesia (Yasi) angkatan 1982 Bondowoso. Reuni putih abu-abu Yasi 1982 itu digagas alumnus Bambang Prianggodo, yang kini melengkapi namanya dengan embel-embel kolonel.

 

Lama tak berjumpa membiarkan memori putih abu-abunya mengendap di kepala, kini mereka bertemu untuk kembali membuka memori silam yang katanya paling indah. Terlebih banyak alumni yang membawa keluarga. Bahkan, Bambang Prianggodo tak sekadar mengusung istri, tapi juga anak, menantu dan cucu-cucunya.

 

Laiknya reuni pada umumnya, alumni yang hadir riuh membicarakan masa lalu, sembari mencicipi semua menu yang tersaji. Saat sekelompok alumni bernostalgia, alumni yang lain asyik menyumbangkan suaranya. Tak hanya celetukan, gagasan untuk mendirikan yayasan pendidikan untuk membantu sesamanya. Misalnya, untuk guru-guru Yasi. Kendati Yasi sudah tak ada dan berubah menjadi SMA Tenggarang Bondowoso, niat baik tersebut patut diapresiasi sebagai upaya untuk kebermanfaatan bersama dan memajukan pendidikan di Indonesia. Usulan pun disetujui alumni yang datang. Maka segera dipilihlah siapa yang menjadi ketua koordinator, wakil, sekretaris dan bendaharanya. Pemilihan dilakukan dengan mencari suara terbanyak di setiap kandidat yang diusulkan.

 

Setelah terpilih, tanpa menunggu waktu acara ini ditutup dan langsung diadakan koordinasi panitia. Selain itu uang yang dikumpulkan mencapai dua juta rupiah lebih yang selesai acara itu juga dikirimkan ke rumah guru-guru mereka di Yasi yang tersisa enam orang. Sungguh, kerja orang-orang tua dengan semangat muda. Tentu ini tamparan bagi yang muda namun tak punya kerja nyata dan tak hasilkan apa-apa. Semoga niat baik rancangan yayasan pendidikan yang mereka inisiasikan tercapai di masa depan.

 

 

 

Dimuat di Harian Surya 8 Januari 2013- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/01/07/reuni-berbuah-yayasan#sthash.6iOqH6Zm.dpuf