Sehari Menjadi Mahasiswa Kampus Fiksi

Gedung Pemuda Surabaya memang selalu ramai, karena menjadi cagar budaya yang dijaga dan banyak dikunjungi oleh wisatawan. Namun ada aura yang berbeda pada tanggal 25 Januari 2015 yang bertepatan dengan hari minggu tersebut. Gedung Pemuda diramaikan oleh mereka yang ingin menjadi penulis.

Dari remaja sampai tua, dari pelajar-mahasiswa, hingga guru turut hadir dalam rangka mengikuti Kampus Fiksi Roadshow Surabaya. Penyelenggara acara ini adalah grup kepenulisan online UNSA (Untuk Sahabat) dan sebagai pemberi materi dari Penerbit Diva Press, Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi-CEO Diva Press) dan Qurotul Ayun (Editor Diva Press).

Acara dimulai pukul 10.10 WIB, yang diawali dengan kegiatan UNSA. Yaitu peringatan Ultah UNSA yang kelima tahunnya, awarding bagi pemenang utama cerpen pilihan UNSA dan awarding finalis UNSA Ambassador. UNSA didirikan 27 Januari 2010 oleh Dang Aji Sidik di Surabaya. Anggotanya di dumay sudah 14.414 orang. Sampai saat ini anggota yang telah memiliki kartu member terbanyak adalah di Jawa Timur.

Pemenang utama cerpen pilihan UNSA adalah W.N. Rahman, dengan cerpennya yang berjudul Netizen. Rahman menceritakan bagaimana proses kreatifnya menulis cerpen ini. Ternyata prosesnya cukup panjang untuk sebuah cerpen, yaitu satu tahun. Tetapi, lamanya membuat Netizen terlunasi, dengan terpilihnya cerpen tersebut menjadi pemenang Cerpen Pilihan UNSA. Pada acara ini juga diinfokan bahwa cerpen-cerpen pilihan UNSA dibukukan dengan judul yang sama dengan cerpen pemenang, Netizen.

“Cerpen pilihan UNSA ini berkiblat pada Cerpen Pilihan Kompas. Dengan harapan, nanti akan lahir penulis-penulis cerpen terbaik dari UNSA,” ungkap creator UNSA Dang Aji Sidik. Sedangkan dari dua orang finalis UNSA Ambassador, yang terpilih adalah Ken Hanggara. Cerpenis muda yang baru-baru ini menjadi pemenang kedua lomba menulis cerpen Asean.

Kemudian acara dilanjutkan denga Kampus Fiksi yang diawali dengan materi editing untuk penulis oleh Qurotul Ayun (Editor Diva Press). “Ada dua penulis yang akan diingat oleh editor. Yaitu penulis yang bagus banget dan penulis yang kacau banget (tulisannya), ucap Ayun.” Karenanya, dia berpesan kepada calon penulis agar tidak lupa mengedit tulisannya sebelum mengirim ke penerbit.

Setelah Ishoma, dilanjutkan oleh rektor Kampus Fiksi sekaligus CEO Diva Press yaitu Edi Akhiles. Dia menjelaskan bagaimana tips-tips menulis, yang detailnya ada di buku Silabus Menulis Fiksi dan Nonfiksi yang dibagikan gratis bagi peserta Kampus Fiksi. Salah satu yang Edi katakan adalah, “Menulis fiksi itu harus ada amanat yang disampaikan. Namun, walau begitu tidak perlu memakai dalil-dalil agama (jika fiksi religi), cukup disampaikan dengan smooth. Karena ini adalah karya fiksi.”

Para peserta mengikuti Kampus Fiksi dengan begitu antusiasnya. Banyak bertanya ini-itu tentang menulis kepada Edi. Hingga acara selesai, peserta pulang dengan ceria karena tidak hanya mendapatkan ilmu, makan siang gratis, tetapi juga mendapatkan buku gratis dari Diva Press. Mereka pulang dengan harapan, semoga kelak bisa menerbitkan buku juga. Semoga!

MC Ultah UNSA-5 Mas Aldo dan Mba Jazim
MC Ultah UNSA-5 Mas Aldo dan Mba Jazim
Creator UNSA Mas Dang Aji Sidik, memberi sambutan/
Creator UNSA Mas Dang Aji Sidik, memberi sambutan
Mas Aldo dan W.N. Rahman Pemenang Cerpil UNSA 2014
Mas Aldo dan W.N. Rahman Pemenang Cerpil UNSA 2014
Cerpenis Yang Cerpennya dimuat dalam buku UNSA yang berjudul Netizen
Cerpenis Yang Cerpennya dimuat dalam buku UNSA yang berjudul Netizen
Finalis UNSA Ambassador 2014 dan Admin UNSA
Finalis UNSA Ambassador 2014 dan Admin UNSA
Mba Qorotul Ayun memberikan materi Editing
Mba Qorotul Ayun memberikan materi Editing
Pak Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi dan CEO Diva Press) memberi materi menulis fiksi
Pak Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi dan CEO Diva Press) memberi materi menulis fiksi
Reportase Kampus Fiksi dan Ultah UNSA-5 di Harian Surya Kamis 29 Januari 2015
Reportase Kampus Fiksi dan Ultah UNSA-5 di Harian Surya Kamis 29 Januari 2015

*naskah sebelum ada editan editor Harian Surya, dimuat Kamis, 29 Januari 2015.

(03-Reportase 2013-22 Maret 2013 Harian Surya) Jangan Takut Salah!

Café memang selalu menjadi tempat yang nyaman untuk kopdar (kopi darat) atau sekedar santai menghabiskan waktu bersama kawan. Kami pun begitu menghabiskan waktu di sebuah café yang cukup elegan, Green Camp Us di daerah Tirto Malang. Sambil menyesap minuman yang kami pesan, waktu kami termanfaatkan dengan suatu yang baik.
                Kala itu kami sekitar 7 orang berkumpul mengikuti sharing penulisan yang diadakan oleh Journalistic Club Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Kali ini sebagai pemateri adalah penulis Abrar Rifai. Dia telah merampungkan satu novelnya yang berjudul Laila. Walau di luar hujan, semangat kami tak turut padam karena air hujan. Justru, kami menikmati sejuknya hujan, sembari mengobrol soal penulisan.
                Di acara yang santai ini kami serius menyimak apa yang disampaikan penulis yang telah lama telah tinggal di sebuah Pondok Pesantren Babul Khairat di Lawang tersebut. “Menulis adalah proses menulis di otak. Yang kemudian memindahkan tulisan di otak itu ke buku tulis, laptop, PC, Ipad dan sejenisnya,” ungkapnya mengawali pembicaraan.
                Dia sama sekali tidak setuju jika menulis itu berteori. Menurutnya, menulis itu tidak bisa diteorikan. Penulis yang lagi merampungkan sekuel Laila, yang berjudul Mahabbatain, ini mengatakan “Kalau menulis ya menulis saja, tak perlu bingung karya kita ini bagus apa nggak.”
Dia menambahkan abaikan saja dulu kesalahan yang ada. Tulis dulu semua yang ada di otak. Menulis itu seperti anak kecil yang terus tumbuh menjadi besar. Belajar duduk, belajar berjalan dan seterusnya. Begitu pula dengan menulis maka setiap hari maka akan semakin baik tulisan kita.
                Menulis dan membaca itu adalah saudara kandung yang tidak bisa dipisahkan. Maka, kewajiban kita yang belajar menulis selain menulis adalah membaca. Abrar menyarankan untuk jangan pilih-pilih bacaan, membaca apa saja yang ada, baik fiksi ataupun nonfiksi. Jika ingin menulis nonfiksi, jangan hanya membaca fiksi saja tetapi baca juga buku-buku nonfiksi, koran, dan lainnya. Karena, itu materi-materi yang akan kita tuliskan dalam tulisan fiksi. Dari nyata, ke tulisan fiksi.
                Selain itu saran Abrar adalah banyak menonton, banyak mendengar, kemudian ditanggapi dengan tulisan. Dia juga menguatkan motivasi dan keberanian audience yang hadir untuk tidak hanya menulis kemudian disimpan. Menulislah lalu dipublis! Sekarang zaman sudah canggih, bisa di fecebook atau blog yang berbagai macam itu. Terakhir, Abrar mengatakan penulis pemula itu harus berkomunitas. Agar terjaga semangat menulisnya. Ada seperti JC ini, ada FLP yang lebih besar, dan banyaknya grup penulisan yang banyak di Facebook.
                Dalam sesi pertanyaan, salah satu audience menanyakan perihal bahwa dia pernah membaca sebuah buku bahwa menulis itu harus bersastra. Akhirnya, hal itu membuat dia takut untuk menulis. Maka, dengan tegas Abrar menolak pendapat penulis buku tersebut. Karena, tidak semua buku harus sastra. Menulis sajalah, mengalir saja. Menulis jangan takut salah! 563430_4500878565020_596432725_nIMG_0007

(Reportase 2013-8 Januari Harian Surya) Reuni berbuah Yayasan

Oleh : Muhammad Rasyid Ridho

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2010 Universitas Muhammadiyah Malang

 

Area parkir rumah makan Lestari Bondowoso di akhir tahun 2012 itu terlihat penuh. Di dalam ruangan pun suasananya sama, dipenuhi alumni Yayasan Sosial Indonesia (Yasi) angkatan 1982 Bondowoso. Reuni putih abu-abu Yasi 1982 itu digagas alumnus Bambang Prianggodo, yang kini melengkapi namanya dengan embel-embel kolonel.

 

Lama tak berjumpa membiarkan memori putih abu-abunya mengendap di kepala, kini mereka bertemu untuk kembali membuka memori silam yang katanya paling indah. Terlebih banyak alumni yang membawa keluarga. Bahkan, Bambang Prianggodo tak sekadar mengusung istri, tapi juga anak, menantu dan cucu-cucunya.

 

Laiknya reuni pada umumnya, alumni yang hadir riuh membicarakan masa lalu, sembari mencicipi semua menu yang tersaji. Saat sekelompok alumni bernostalgia, alumni yang lain asyik menyumbangkan suaranya. Tak hanya celetukan, gagasan untuk mendirikan yayasan pendidikan untuk membantu sesamanya. Misalnya, untuk guru-guru Yasi. Kendati Yasi sudah tak ada dan berubah menjadi SMA Tenggarang Bondowoso, niat baik tersebut patut diapresiasi sebagai upaya untuk kebermanfaatan bersama dan memajukan pendidikan di Indonesia. Usulan pun disetujui alumni yang datang. Maka segera dipilihlah siapa yang menjadi ketua koordinator, wakil, sekretaris dan bendaharanya. Pemilihan dilakukan dengan mencari suara terbanyak di setiap kandidat yang diusulkan.

 

Setelah terpilih, tanpa menunggu waktu acara ini ditutup dan langsung diadakan koordinasi panitia. Selain itu uang yang dikumpulkan mencapai dua juta rupiah lebih yang selesai acara itu juga dikirimkan ke rumah guru-guru mereka di Yasi yang tersisa enam orang. Sungguh, kerja orang-orang tua dengan semangat muda. Tentu ini tamparan bagi yang muda namun tak punya kerja nyata dan tak hasilkan apa-apa. Semoga niat baik rancangan yayasan pendidikan yang mereka inisiasikan tercapai di masa depan.

 

 

 

Dimuat di Harian Surya 8 Januari 2013- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/01/07/reuni-berbuah-yayasan#sthash.6iOqH6Zm.dpuf

Mempertaruhkan Idealisme (Calon) Pemimpin Muda

Pernah dimuat di harian surya cetak 1 Oktober 2012, klik!

Sebuah keniscayaan, setiap bayi akan menjadi tua. Melalui semua prosesnya, dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan beranjak tua. Ketika para tetua mati, maka para bayi yang kelak akan menggantinya, begitu seterusnya hukum dalam kehidupan manusia. Tak luput juga, soal kepemimpinan, maka bayi-bayi yang lahir kelak akan menjadi pemuda pemegang estafet penerus pemimpin bangsa.

Inilah yang sempat didiskusikan dalam talk show Mata Najwa di Dome UMM, Kamis (27/9). Dihadiri Ketuka Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina sekaligus pelopor gerakan Indonesia Mengajar.

Najwa Shihab selaku host memulai acara dengan pertanyaan bersifat pribadi. seperti, IP yang pernah didapatkan pembicara? Jawabannya, Mahfud MD pada semester pertama semua mata kuliah yang diambilnya mendapat A kecuali satu saja, B. Mahfud mengaku memang rajin belajar, juga pacaran sewajarnya, sebagai jawaban atas pertanyaan Najwa yang menduga saking rajinnya sehingga mungkin Mahfud tak sempat pacaran.

Anis pun mengakui bila IP tinggi itu penting namun ada yang lebih penting lagi yaitu leadership. “Ip tinggi membuat Anda dipanggil wawanacara, leadership akan membuat Anda mendapatkan masa depan,” ingat Anis. Kepemimpinan, lanjutnya, tak didapatkan di bangku kuliah, namun hal itu ada dalam sebuah organisasi.

Keduanya menganjurkan mahasiswa untuk mengikuti kegiatan organisasi yang disenangi. Mahfud dulu ketika mahasiswa mengikuti banyak organisasi, salah satunya yang adalah menulis lewat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Menulis menjadikan berpikir sistematis, akunya.

Sementara bila ingin menjadi pemimpin berlatihlah dari sekarang! dorong Anis. Dari mana belajarnya? Dari organisasi. Lulus cepat itu baik, IP tinggi itu baik, tapi itu hanya sampai di ruang wawancara. Ketika di ruang wawancara dan lingkungan kerja yang dibutuhkan adalah mental kepemimpinan. Jadi, bukan hanya menonjolkan IP tinggi saja atau kepemimpinan saja, akan tetapi keduanya itu sama-sama dibutuhkan.

Sekarang bukanlah saatnya hanya berbicara antikorupsi, namun mahasiswa seharusnya yang dibutuhkan adalah menjadi orang yang aksi praktik antikorupsi. Nah, di sinilah idealisme itu diuji. Karena banyak pejabat yang dulu mahasiswa sering berteriak-teriak demo anti korupsi. Namun kenyataannya, ketika telah menjabat kursi pemerintahan dia sendirilah yang korupsi.

Kata Mahfud ada sebuah perkataan, “Mereka yang dulu demo pada pemerintah bukan antikorupsi, tapi marah karena nggak kebagian korupsi.”

Harapan Mahfud mahasiswa sekarang yang akan menjadi pemimpin masa depan, ketika telah menjabat akan terus menjada konsistensi dan integritas. Karena, dua hal itu mahal harganya. “Sekali tidak dipercaya, maka akan sulit dipercaya lagi,” katanya.

Roadshow Keffiyeh Merah Ke Jawa Timur

#pernah dimuat di Harian Surya 20 Juni 2012, klik!

                Sore itu daerah Tirto kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, tetap bernafas seperti adanya, selalu ramai. Ya, daerah ini berjejeran dengan rumah makan, café, toko, warnet, counter, foto kopi, dan semua yang berkaitan dengan kehidupan dengan mahasiswa yang bersifat materi. Maka, tak heran jalan-jalan hampir selalu penuh dengan anak-anak muda yang tak lain mahasiswa-mahasiswi, baik yang berjalan di pinggir jalan atau menaiki sepeda motor dan mobil yang meramaikan arus Jalan Tirto.

Di sebuah café, tepatnya Green Camp Us. Ada kumpulan orang yang sedang asyik ngobrol ringan, kumpulan mahasiswa namun serius dan antusias mendengarkan dan menanyakan apa-apa yang ingin diketahui. Ya, sore itu Journalistic Club Ilmu Komunikasi UMM sedang kehadiran tamu dari negeri yang cukup jauh di Timur Tengah tepatnya Saudi Arabia. Yakni dari Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Saudi Arabia.

Dalam rangka roadshow buku yang diterbitkan perdana oleh penerbit FLP Saudi, mereka mengadakan diskusi bedah buku dengan gratis. Buku itu berjudul Keffiyeh Merah, kumpulan tulisan novelette dan cerpen yang pernah dimuat di majalah Islam Annida Online. Buku ini langsung dibedah oleh penulisnya sendiri yaitu Maryam Qonitat. Sedangkan, perwakilan dari FLP Saudi adalah Taqi yang saat ini juga menjabat sebagai ketua FLP Saudi.

Diceritakan, antara Taqi dan Maryam belum pernah bertemu. Mereka hanya bertemu di dunia maya. Karena apa? Mereka berbeda tempat domisili, Taqi yang melanjutkan studi di Ummul Quro’ Saudi sedangkan Maryam setelah menyelesaikan Strata satunya di Al-Azhar Mesir, melanjutkan magisternya di International Islamic University Malaysia. Setelah cukup akrab di dunia maya, Taqi meminta naskah Maryam untuk dijadikan buku perdana yang diterbitkan  Cahaya Publishing (yang dikelola FLP Saudi Arabia).

Mereka baru bertemu pada acara yang mereka sepakati untuk mengisi liburan, yaitu safari cahaya roadshow Keffiyeh Merah di Jawa Timur selama 15-24 Juni 2012. Di Malang dilakukan di berbagai tempat seperti Pondok Pesantren Babul Khoirot di Lawang pada tanggal 16 Juninya, sore sampai sehabis maghrib menjelang isya dilakukan di Green Camp Us cafe, bersama JC UMM.

Maryam menceritakan bagaimana proses kreatifnya menulis buku pertamanya itu. Termasuk mengapa ia mengambil judul Keffiyeh Merah. Menurut dia, keffiyeh itu sebagai symbol. Lihat saja bagaimana keffiyeh atau biasa kita sebut sorban itu tak hanya dipakai oleh orang-orang Timur Tengah. Tapi kali ini juga menjadi fashion, insan nasyid atau band religi yang hadir pada saat Ramadhan. Namun bagi penulis yang mengaku memulai karir kepenulisannya sejak 2010 ini, mengatakan bahwa keffiyeh itu sebagai simbol kebangkitan. Sebagaimana cerita di dalamnya bergenre epik romantis, yang tak bercerita romantisme picisan namun cinta yang memberikan kekuatan.

Menjelang akhir pertemuan, Maryam memberikan satu ekslempar Keffiyeh Merah sebagai kenang-kenangan untuk JC UMM, dan diteruskan dengan foto-foto. Sampai rombongan kembali melanjutkan perjalanan cahayanya menuju tempat yang akan mereka kunjungi setelah itu yakni Ponpes Ar-Rahmah Hidayatullah dan daerah Jatim lainnya.

Menulislah, Sebelum Hilang Ingatan

                Kamis lalu (24/5/2012), pagi sekitar jam enam saya mengsms salah satu nama dalam list friend  ponsel saya. Saya menanyakan jam berapa saya diharap hadir di ruangan acara. Selang beberapa menit, sms balasan masuk di ponsel saya yang mengatakan jam 9 sudah di tempat lebih baik. Ya, saya mengsms dan mendapat balasan sms dari salah satu panitia seminar penulisan yang diadakan oleh Bem Fisip 2011-2012 UMM. Setelah sebelumnya saya mendapat sms yang menodong saya untuk menjadi pembicara dalam acara mereka tersebut yang bertema ‘Mari Berkarya Melalui Tulisan’. Setelah bepikir dan permintaan mereka yang sedikit memaksa, akhirnya saya mengiyakan permintaan untuk menjadi pembicara. Setelah melihat term of reference yang diberikan panitia kepada saya, saya memilih berangkat jam 9 saja. Karena dalam jadwal saya mengisi jam 10.45, jam setengah sepuluh saya sudah ada di tempat. Saya duduk di depan ruangan bersama panitia acara sambil menunggu teman saya perwakilan dari Forum Lingkar Pena Cabang Malang Raya Muhammad Hafidz Mubarok sekaligus menyimak apa yang dikatakan oleh pembicara pertama. Sesuai jadwal acara pertama diisi oleh salah satu Dosen Ilmu Komunikasi Arief Hidayatullah S.Ikom. Dosen dan penulis buku Menulis Inspirasi ini memberikan banyak teori dan juga motivasi menulis kepada peserta seminar. Arief mengatakan, agar kita mendapatkan inspirasi untuk menulis, maka kita harus selalu sadar dalam menjalani hidup. Jika tidak, maka akan banyak inspirasi berupa ide yang tidak bisa kita tangkap. Sayang sekali jika begitu, selain itu dia juga mengatakan, menulislah sebelum kita kehilangan ingatan. Pemateri kedua yaitu Dosen Ilmu Hubungan Internasional Suyatno Ph.D. Suyatno yang juga menjadi salah satu dosen di salah satu universitas di Malaysia ini, memberi cara dan teori dalam penulisan ilmiah yang benar. Karena memang Suyatno cukup ahli dalam bidang ini, selain itu dia juga mengatakan jangan sampai menulis itu hanya dengan niat kapitalis yakni ingin mendapatkan materi. Karena menurut dia, hal itu akan merusak usaha yang dimulai dari awal ketika usaha menulis tak menghasilkan apa-apa maka yang ada hanya kecewa. Jadi, walaupun dengan menulis bisa mendatkan materi atau jalan-jalan keluar negeri gratis seperti apa yang sudah dia alami, jangan jadikan itu sebagai motif kita untuk menulis. Selesai pembicara kedua, maka berlanjut ke acara ketiga yakni diskusi panel yang saya menjadi pembicara sendiri, Hafidz perwakilan dari FLP Malang Raya dan Chintya perwakilan dari NBC Malang. Pemberian materi dimulai dari saya, yang banyak memberikan cerita bagaimana awal saya menulis, proses buku-buku saya dan aktivitas saya dengan komunitas kepenulisan yang saya ikuti. Kemudian dilanjutkan oleh Hafidz yang memberikan materi tentang apa itu FLP, bagaimana pendaftarannya, dan lainnya. Begitupun Chintya memberikan materi tentang apa itu NBC (Nulisbuku.com), apa saja kegiatannya, dan lainnya. Panitia berharap, setelah acara ini semoga peserta yang telah termotivasi untuk menulis, mendapatkan follow up dengan mengikuti komunitas yang cocok dengannya.

Kami Menghabiskan Malam Minggu


            Anak muda zaman sekarang biasa menghabiskan malam minggunya berdua dengan pacarnya. Mungkin bisa dikatakan tak afdhol bagi mereka jika tak berkencan (bahasa mereka) dengan pacar di malam minggu. Lain orang, pun lain sikap dan laku dalam menjalani hidup sesuai dengan tuntunan serta visi misi hidupnya di dunia.
Kami memang beda, bagaimana tidak? Kami telah lama belajar ilmu agama, memahami dan menelaahnya sepanjang hari. Sebagai santri, yang telah banyak banyak menempa hidup dengan ilmu agama, maka seharusnyalah kami tak hanya puas menghabiskan waktu hanya untuk menuntut ilmu, namun sekaligus menjalani hidup dengan mengamalkan apa yang telah diketahui. Dalam ilmu yang kami pelajari, Islam hanya membolehkan berdua dengan lawan jenis (khalwat) dengan yang telah sah menjadi pasangan hidupnya dengan pernikahan.

Malam minggu bagi kami, malam untuk terus melanjutkan perjuangan meraih mimpi dan asa, dunia dan surga. Pada suatu malam minggu, kami yang bergabung dalam KALAM (Komunitas Alumni Santri Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso di Malang) bukan menghabiskan dengan pasangan tak halal, tapi meluncur menembus dingin malam untuk takziyah ke seorang mahasiswa yang kuliah di STIT pondok almamater tercinta yang ibunya meninggal malam sabtunya.

Kami tidak sempat melakukan hak kami pada keluarga duka, yakni prosesi dari awal muslim meninggal sampai dikuburkan karena kesibukan masing-masing di kampus. Akhirnya, kami menyetujui untuk datang pada malam harinya saja, karena semua free ketimbang tidak datang sama sekali. Saya, tiga kakak kelas di pondok (Mu’in, Muthoin, dan Sukardi), dan 4 adik kelas saya di pondok (Ajun, Munahar, Hanif dan Udin) menembus dinginnya malam hanya memakai 3 sepeda, sedikit nekat memang.

Setelah sampai di tempat tujuan, kami semua langsung mengucapkan turut berbela sungkawa yang dikomandoi oleh ketua rombongan, Kak Mu’in. Tahu kami datang, anak ibu yang meninggal pun menyambut kami dengan senyum tak terpaksa namun jelas ada bekas air mata duka di pelupuk matanya. Kami masuk ke ruang tamu dan duduk dengan alas karpet. Di sana juga masih banyak kerabat keluarga duka.

Kematian selalu mengingatkan tentang kepastian tenggat waktu hidup kita di dunia yang masih misteri. Anak almarhumah mengatakan, ibunya baru sehari di rumah sakit namun dengan segera meninggalkan dia dan keluarga. Ada rasa sedih tak terkira, jika ditinggal orang tercinta. Terutama belum mampu melunaskan bakti kita menghadiahkan permintaannya selama dia masih hidup. Sehingga menorehkan sesal yang mendalam.

Ada banyak hal yang kami dapatkan dalam malam takziyah sekaligus silaturahmi malam itu. Semakin mengingat bayang-bayang kematian yang selalu mengintai, kasih sayang ibu dan kewajiban kita berbakti padanya. dan termasuk hal yang paling enak menjadi guru ternyata terlihat ketika meninggal. Cukup dengan fasilitas jejaring sosial, maka hampir semua murid almarhumah dari berbeda angkatan datang untuk takziyah bahkan turut membantu keluarga duka. Maka bukan dusta, bahwasanya segala perintah Allah akan memberikan kebaikan dan hikmah baik yang tersurat dan tersirat.