Memiliki Buku

14068403_10206895203323570_942735099377625043_o

Memiliki buku bagi saya tidak hanya untuk dibaca sendiri, namun ada niatan lain yaitu membagi. Seperti membagi pembacaan saya atas sebuah buku melalui tulisan yang biasa saya kirim ke koran ataupun saya posting di blog.

Membagi pembacaan saya atas sebuah buku juga disampaikan secara lisan, dulu saat di Malang, saya membuat Klub Pecinta Buku Booklicious – Malang yang memiliki agenda pertemuan seminggu sekali untuk ngobrolin buku yang sedang dibaca atau telah dibaca dalam seminggu lalu (pertemuan semacam ini juga ingin saya lakukan di Bondowoso, masih mencari pecinta buku yang memiliki waktu untuk bertemu dan sharing). Selain itu saya biasanya menceritakan pembacaan saya atas sebuah buku kepada adik-adik yang saya temani belajar menulis di ekstrakurikuler kelas menulis sebagai pemicu untuk mulai menyenangi dunia membaca.

Selain membagi pembacaan atas sebuah buku melalui tulisan dan lisan, saya juga biasanya meminjamkan bukunya langsung untuk dibaca. Tapi, biasanya saya juga melihat orangnya dulu apakah bisa merawat buku dan apakah akan dikembalikan nantinya. Terkhusus untuk adik-adik kelas menulis, memang saya sengaja untuk membawa buku saat jadwal kelas menulis dan meminjamkan kepada mereka, agar yang tidak suka membaca menjadi suka membaca, juga agar bahan bacaan mereka bertambah sehingga lebih mempermudah proses belajar menulis mereka.

Sejatinya, memang sejak saya masih di Pondok Pesantren saya memiliki keinginan membuka Taman Baca, alhamdulillah buku-buku saya terus bertambah di antaranya banyak reward menulis resensi dari berbagai penerbit dan penulis. Saya juga biasanya memang sering request buku anak-anak kepada penerbit, karena sasaran saya lebih kepada generasi anak-anak kecil pra-sekolah hingga sekolah dasar. Karenanya, ketika membuka taman baca gratis di car free day alun-alun Bondowoso saya menempatkan buku anak-anak dan majalah Bobo di depan sendiri, agar anak-anak yang lewat ada ketertarikan untuk mampir dan membaca. Begitu juga untuk adik-adik kelas menulis yang sekolah dasar, buku-buku yang saya pinjamkan adalah buku dan majalah anak-anak dari seri KKPK hingga Majalah Bobo.

Peningkatan mutu pendidikan anak negeri melalui jalur literasi saya pilih sebagai jalan perjuangan, jalan jihad. Karena tidak bisa disangkal kemerdekaan salah satunya juga diawali oleh tokoh-tokoh yang gemar membaca juga menulis. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, Kartini, M. Natsir dan masih banyak yang lainnya.

“Aku rela dipenjara asal bersama buku,” ucap Bung Hatta ketika dipenjara, “karena bersama buku aku bebas.” Semakna pula dengan tagline KCB-Mataram (Kelompok Cinta Baca Mataram) yang digawangi Wak Ical, “Membaca itu merdeka!”

Begitulah, membaca adalah kebebasan juga kemerdekaan. Semoga di 71 tahun kemerdekaan negeri ini, semakin merata pembebasan buta aksara, semakin banyak orang membudayakan membaca, semakin besar kesadaran orang agar tidak asal bisa bicara juga nge-share informasi dunia maya tanpa mengetahui kebenarannya, semakin maju pendidikan Indonesia, semakin berprestasi anak negeri, juga semakin luas jalan anak negeri berprestasi untuk mengabdi untuk negeri sendiri.

Mari ambil kaca, apa yang sudah kita berikan untuk negeri ini. -Anies Baswedan

*adik-adik kelas menulis di SD Plus Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso.

Berani Menulis Itu Hebat

1411491286483391052
sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/1411491286483391052.jpg?t=o&v=760

Baru saja salah satu dari adik-adik saya yang mengikuti kelas menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso, mengirim inbox ke saya. Intinya, dia meminta maaf kalau dia dan salah satu temannya yang ikut lomba juga, tidak bisa membahagiakan saya karena belum menang lomba menulis cerpen PECI yang diadakan oleh Penerbit Indiva. Selamat ya adik-adik yang menjadi juara!

Wah, saya terharu. Padahal ya saya juga hanya membagi ilmu menulis cuma segitu aja, ya karena ilmu menulis saya sementara begitu aja, dan saya nggak minta mereka menang. Mereka mau dan berani menulis, kemudian mau dan berani mengirimkan untuk mengikuti lomba saja saya sudah senang. Saya kemudian jawab, “Lha gpp, santai aja, yang penting pengalaman. Ayo baca buku lagi, cari ide lagi, nulis lagi, nulis cerpen lagi, nulis puisi lagi, ngirim ke bobo, ngirim ke kompas dll. Semangat ya!”

“Siaaapp kak. Aku sma zahro udh ada judul, terus udh ada cerita nya. Jd tinggal ngelanjutin. Tp kalo beberapa minggu ini aku gak bisa ngelanjutin cerita nya. Kalo tangan ku udah normal baru nulis lagi kak,” jawab adik itu melalui inbox. Kabarnya tangannya memang pernah patah dan dioperasi, dan sekarang tangannya akan dioperasi lagi.

Semoga operasinya lancar, dan bisa menulis lagi. Semoga bisa mengikuti jejak Ayu (satu-satunya anak Bondowoso yang menulis buku KKPK). Tak hanya itu, semoga menginspirasi adik-adik kelasnya dan anak-anak SD lainnya yang ada di Bondowoso untuk ikutan menulis. Saya bahagia, karena mereka semangat! 🙂

Salah satu komentar atas status fesbuk saya di atas, mengatakan, “Bisa menulis sudah menjadi juara!” Saya pun mengamini, karena sejatinya, berani menulis dan berani mengirimkannya adalah sifat para juara. Berani menulis itu hebat! Semoga ini tidak mematahkan semangat adik-adik menulis kelas menulis saya, tetapi malah menjadi pelecut motivasi bagi mereka untuk semakin semangat belajar, membaca dan menulis. Tidak hanya untuk mereka semoga saya pun semangat belajar, membaca dan menulis. Semoga! 🙂

Roadshow Mas Gagah Di Al-Ishlah

Siapa yang tidak kenal Helvy Tiana Rosa, salah satu penulis nasional dengan segudang penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak 7-10 Mei 2015, dia berkeliling ke beberapa kota Jawa Timur. Di antaranya, Malang, Jember dan Bondowoso. Hal ini dalam rangka roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), yang dibuat berdasarkan novelet karya Helvy dengan judul yang sama.

Pada 10 Mei 2015 sore, Helvy bersama rombongan  mendatangi Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Dia berbicara di depan 300-an santriwan dan santriwati kelas takhasus, 4-6 KMI (Kulliyatul Muballighien Al-Islamiyah) Mahasantri STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), dan santri pesantren kilat PSPUP.

Bondowoso adalah kota keempat yang Helvy datangi untuk keperluan roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi, dan berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Ishlah auntuk pertama kalinya. Sejak masuk ke kawasan Al-Ishlah, Helvy mengaku langsung merasakan kesejukan pondok yang ada di bawah bukit Patirana.

Helvy mengatakan bahwa pondok pesantren adalah benteng terakhir Umat Islam. Karenanya, harus ada santri yang menulis. Karena saat ini Islam kekurangan penulis yang menuliskan kebenaran. Maka, harapannya dari santrilah yang melawan tulisan-tulisan yang mengerikan (berisi pergaulan bebas, sex dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama).

“Menulis itu persoalan disiplin dan tekad. Meskipun bapak kalian adalah petani, kakek kalian adalah petani, buyut kalian petani, bapak buyut kalian petani, kalian tetap bisa menjadi penulis. Bagaimana caranya? Teruslah, berlatih!,” ucap dosen UNJ dan juga pendiri Forum Lingkar Pena tersebut.

“Tulisan yang ditulis dengan hati, akan sampai kepada hati-hati lainnya. Tulisan yang ditulis dengan nurani, akan sampai kepada nurani-nurani lainnya,” tambah Helvy. Selain memotivasi santri untuk menulis, Helvy juga menceritakan perjuangannya untuk memfilmkan noveletnya (KMGP) agar tidak hilang ruh dakwahnya.

Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya "Mata Ketiga Cinta"
Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya “Mata Ketiga Cinta”

Ada PH yang akan memfilmkan KMGP dan membayar 100 juta, tetapi cerita tentang jilbab dan Palestina harus dihapus. Dengan penuh idealisme, Helvy tidak menyetujui hal tersebut. Akhirnya, dia memilih untuk berkeliling Indonesia, bahkan ke luar negeri untuk mencari dukungan dan donasi, untuk bersama-sama membuat film Ketika Mas Gagah Pergi. Bagi anda yang merindukan film dengan nilai-nilai positif dan sangat meng-Indonesia tayang di bioskop. Yuk dukung KMPG, menjadi film!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di Harian Surya 2 Juni 2015

Asyiknya Menulis Resensi

Contoh Resensi saya atas buku Sekali, Hidup Sepenuh Hati di Majalah Motivasi Nasional Milik Andrei Wongso Edisi Nopember
Contoh Resensi saya atas buku Sekali, Hidup Sepenuh Hati di Majalah Motivasi Nasional Milik Andrei Wongso Edisi Nopember

Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa menulis resensi buku, tidak memiliki keistimewaan. Karena hanya menulis dan mengomentari karya orang. Dulunya saya pun menganggap begitu. Dulu saya menganggap menulis resensi buku tidak wow, ketimbang menulis puisi, cerpen atau artikel di media massa. Saya kadang juga menulis resensi buku, tapi gak sering seperti sekarang. Dulu menulis resensi buku karena iseng setelah baca satu buku, karena buku yang dibaca bagus sekali versi saya.

Ada kakak kelas saya di pondok yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, dapat buku dan fee juga. Saya waktu itu kurang respon. Kemudian ada teman fesbuk seorang penulis yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, bisa dapat buku gratis. Dia memperlihatkan buku-buku yang dia dapatkan secara gratis dari penerbit. Nah dari itu, saya akhirnya penasaran!

Saya pun mencoba menulis resensi buku sekaligus pede mengirimkannya ke media. Setelah beberapa lama, dimuatlah satu persatu, Alhamdulillah. Saya pun ketagihan untuk menulis resensi buku. Ini alasannya, pertama karena dapat buku gratis dari penerbit, kadang lebih dari satu buku bisa sampai lima buku lebih dari satu kali meresensi. Kedua, saya dapat fee baik dari media ataupun penerbit. Bahkan, waktu masih di Malang saya juga dapat honor apresiasi dari Kemahasiswaan. Asyik ya! 😀

Selain itu asyiknya meresensi adalah bisa jadi ajang berkenalan dengan penulisnya. Asyiknya juga kenal dengan marketing penerbit, setelah kenal biasanya mereka akan mengundang kita jika ada kegiatan penerbit atau lagi liburan ke tempat yang kita tempati. Beberapa kali saya bertemu dengan marketing penerbit yang lagi ada kegiatan di Malang atau lagi liburan ke Malang. Nggak hanya sekedar bertemu, ngobrol, selfie aja, biasanya juga dapat bingkisan dari mereka. Kadang buku aja, kadang buku plus kaos, cangkir, goodie bag. Asyik kan? 😀

Ada lagi nih yang asyik bagi saya, karena menulis resensi buku saya jadi bisa terbang ke Jakarta gratis PP. Waktu itu, tepatnya 22 Desember 2013 saya terpilih jadi pembicara di acara Gagas Media, Kumpul Penulis dan Pembaca 2013. Saya diminta  mengisi talkshow tentang menulis resensi buku. Saya nggak nyangka awalnya. Alhamdulillah, rejeki. Asyik nggak nih? 😀

Di awal Ramadhan tahun lalu saya juga diundang Penerbit Mizan ke Jakarta untuk menghadiri acara mereka. Saya diberi uang untuk tiket kereta PP. Ini nih rejeki jadi peresensi buku! Saya mulai aktif menulis resensi buku sejak tahun 2012, sampai saat ini buku gratis saya sudah 500an buku lho, Alhamdulillah wa asyik kan? 😀

Gimana, pengin menulis resensi buku? Bingung mau nulis resensi itu gimana? Saran saya cob abaca contoh-contoh resensi yang ada di media massa atau blog, Cuma gunakan teori ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Kalau masih sulit, coba Ini nih pengalaman saya dalam menulis resensi:

  1. Memilih buku baru untuk diresensi. Misalnya sekarang tahun 2015, kita pilih buku-buku terbitan tahun 2015. Karena semua media cetak hanya memuat resensi buku yang baru. Kalau media online ada juga yang memuat resensi buku-buku lama.
  2. Membaca buku sampai selesai dengan teliti dan serius. Jangan sampai ada kata yang terlewatkan. Catat apa-apa yang penting dalam buku yang kiranya akan dimasukkan dalam resensi, selain itu juga bisa menulis kesalahan tulis kata, EYD, tanda baca.  Juga kata-kata atau kalimat yang menarik yang mungkin bisa dijadikan menjadi salah satu paragraf dalam resensi. Kalau malas menulis, saat ini ada panahan yang bisa ditempel ke buku, untuk menandai bagian-bagian yang akan dimasukkan dalam resensi. Manfaat panahan juga agar buku tidak perlu dilipat, sehingga tidak rusak.
  3. Selesai membaca segeralah untuk menulis resensinya, agar tidak kedahuluan resensor lain menulis resensi buku yang sama. Ini bukan tidak mungkin, dan ini cukup sering saya alami, kedahuluan orang.
  4. Cara saya menulis resensi:
  5. Jika buku kumpulan tulisan dengan satu tema sama, saya meringkas semua tulisan itu sebagai isi resensi. Kadang pula saya hanya mengambil beberapa bagian yang menarik untuk saya ceritakan dalam resensi. Jika novel, saya menceritakan dengan singkat isi novel.
  6. Karena resensi buku tidak hanya sekedar mereview sebuah buku. Maka di dalamnya juga ada sanjungan kelebihan sebuah buku, kritik dan saran terhadap sebuah buku. Juga perbandingan dengan buku bertema sama yang ditulis penulis lain, buku-buku yang ditulis oleh penulis yang sama. Termasuk juga resensi resensor lain tentang buku yang kita resensi di media lain mungkin ada kesalahan resensi atau kesalahan pengambilan data dalam buku yang dia resensi, maka kita perbaiki dalam resensi yang kita tulis.
  7. Soal judul memang biasanya agak lama saya berfikir mencari yang menarik. Karena kepala tulisan menjadi awal sebuah resensi akan dibaca atau tidak. Biasanya saya mengambil salah satu sub judul di kumpulan tulisan yang saya resensi. Biasanya juga mencari tema pokok sebuah buku yang diracik menjadi judul yang menarik.
  8. Setelah jadi kirimlah ke media cetak dahulu, kemudian jika lama tak ada kabar kirimlah ke media online saja. Cukup banyak media online yang menerima naskah resensi dari penulis lepas. Tapi alangkah baiknya, kirim ke media cetak terlebih dahulu, karena banyak sekali media cetak yang menerima resensi saat ini.
  9. Nah, bila sudah ada resensi kita yang dimuat di sebuah media, baik cetak atau online. Kirimlah email ke email penerbit buku yang Anda resensi. Dengan isi bahwasanya resensi karya Anda tentang buku terbitan penerbit tersebut dimuat di media blab la bla. Misal ini yang biasanya saya kirim:

Kepada: Yth. Penerbit Metagraf (Tiga Serangkai) Pak Kurniawan. di Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Bersama ini penulis kirimkan link http://annida-online.com/artikel-6468-pengusaha-emperan-penghasilan-milyaran.html Resensi yang berjudul Pengusaha Emperan Penghasilan Milyaran yang dimuat di Annida Online 19 Desember 2012. Saya sertakan juga softfilenya.

Resensi tersebut merupakan resensi atas buku terbitan Metagraf, yang berjudul: Emperpreuner, karya Wahyu Liz Adaideaja. Besar harapan penulis, pihak Tiga Serangkai dapat melanjutkan kerjasama dibidang peresensian ini. Untuk itu penerbit dapat mengirimkan buku terbitan terbaru kepada penulis untuk diresensi atau dalam bentuk yang lain. Gajah Mada yang 1,2,3 kalau ada boleh yang lain juga. Terima kasih 🙂

Berikut biodata saya, bila diperlukan:

Muhammad Rasyid Ridho

Alamat Jln Myj Panjaitan No 26 Dabasah Bondowoso Jawa Timur

No Hp: 085933138891

No Rek BNI cabang UMM an M.Rasyid Ridho 02027*****

Demikian surat ini penulis sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya penulis sampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Salam Hormat, Peresensi,

Muhammad Rasyid Ridho

  1. Terakhir, Taraaa! selamat menunggu kiriman buku gratis sampai ke rumah Anda.

Yup, saya kira ini yang bisa saya bagi kepada teman-teman sekalian, silakan jika ada pertanyaan. Jika bisa saya akan jawab 😀

berkaitan dengan dua artikel lain saya.

1. https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2012/12/30/mau-dapat-buku-gratis-tulislah-resensi/

2. https://penulispembelajar.wordpress.com/2013/11/20/daftar-media-yang-menerima-resensi-buku/

*pernah menjadi bahan diskusi di grup kompilasi 50 hari Pak Nassirun Purwokartun.

Sehari Menjadi Mahasiswa Kampus Fiksi

Gedung Pemuda Surabaya memang selalu ramai, karena menjadi cagar budaya yang dijaga dan banyak dikunjungi oleh wisatawan. Namun ada aura yang berbeda pada tanggal 25 Januari 2015 yang bertepatan dengan hari minggu tersebut. Gedung Pemuda diramaikan oleh mereka yang ingin menjadi penulis.

Dari remaja sampai tua, dari pelajar-mahasiswa, hingga guru turut hadir dalam rangka mengikuti Kampus Fiksi Roadshow Surabaya. Penyelenggara acara ini adalah grup kepenulisan online UNSA (Untuk Sahabat) dan sebagai pemberi materi dari Penerbit Diva Press, Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi-CEO Diva Press) dan Qurotul Ayun (Editor Diva Press).

Acara dimulai pukul 10.10 WIB, yang diawali dengan kegiatan UNSA. Yaitu peringatan Ultah UNSA yang kelima tahunnya, awarding bagi pemenang utama cerpen pilihan UNSA dan awarding finalis UNSA Ambassador. UNSA didirikan 27 Januari 2010 oleh Dang Aji Sidik di Surabaya. Anggotanya di dumay sudah 14.414 orang. Sampai saat ini anggota yang telah memiliki kartu member terbanyak adalah di Jawa Timur.

Pemenang utama cerpen pilihan UNSA adalah W.N. Rahman, dengan cerpennya yang berjudul Netizen. Rahman menceritakan bagaimana proses kreatifnya menulis cerpen ini. Ternyata prosesnya cukup panjang untuk sebuah cerpen, yaitu satu tahun. Tetapi, lamanya membuat Netizen terlunasi, dengan terpilihnya cerpen tersebut menjadi pemenang Cerpen Pilihan UNSA. Pada acara ini juga diinfokan bahwa cerpen-cerpen pilihan UNSA dibukukan dengan judul yang sama dengan cerpen pemenang, Netizen.

“Cerpen pilihan UNSA ini berkiblat pada Cerpen Pilihan Kompas. Dengan harapan, nanti akan lahir penulis-penulis cerpen terbaik dari UNSA,” ungkap creator UNSA Dang Aji Sidik. Sedangkan dari dua orang finalis UNSA Ambassador, yang terpilih adalah Ken Hanggara. Cerpenis muda yang baru-baru ini menjadi pemenang kedua lomba menulis cerpen Asean.

Kemudian acara dilanjutkan denga Kampus Fiksi yang diawali dengan materi editing untuk penulis oleh Qurotul Ayun (Editor Diva Press). “Ada dua penulis yang akan diingat oleh editor. Yaitu penulis yang bagus banget dan penulis yang kacau banget (tulisannya), ucap Ayun.” Karenanya, dia berpesan kepada calon penulis agar tidak lupa mengedit tulisannya sebelum mengirim ke penerbit.

Setelah Ishoma, dilanjutkan oleh rektor Kampus Fiksi sekaligus CEO Diva Press yaitu Edi Akhiles. Dia menjelaskan bagaimana tips-tips menulis, yang detailnya ada di buku Silabus Menulis Fiksi dan Nonfiksi yang dibagikan gratis bagi peserta Kampus Fiksi. Salah satu yang Edi katakan adalah, “Menulis fiksi itu harus ada amanat yang disampaikan. Namun, walau begitu tidak perlu memakai dalil-dalil agama (jika fiksi religi), cukup disampaikan dengan smooth. Karena ini adalah karya fiksi.”

Para peserta mengikuti Kampus Fiksi dengan begitu antusiasnya. Banyak bertanya ini-itu tentang menulis kepada Edi. Hingga acara selesai, peserta pulang dengan ceria karena tidak hanya mendapatkan ilmu, makan siang gratis, tetapi juga mendapatkan buku gratis dari Diva Press. Mereka pulang dengan harapan, semoga kelak bisa menerbitkan buku juga. Semoga!

MC Ultah UNSA-5 Mas Aldo dan Mba Jazim
MC Ultah UNSA-5 Mas Aldo dan Mba Jazim
Creator UNSA Mas Dang Aji Sidik, memberi sambutan/
Creator UNSA Mas Dang Aji Sidik, memberi sambutan
Mas Aldo dan W.N. Rahman Pemenang Cerpil UNSA 2014
Mas Aldo dan W.N. Rahman Pemenang Cerpil UNSA 2014
Cerpenis Yang Cerpennya dimuat dalam buku UNSA yang berjudul Netizen
Cerpenis Yang Cerpennya dimuat dalam buku UNSA yang berjudul Netizen
Finalis UNSA Ambassador 2014 dan Admin UNSA
Finalis UNSA Ambassador 2014 dan Admin UNSA
Mba Qorotul Ayun memberikan materi Editing
Mba Qorotul Ayun memberikan materi Editing
Pak Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi dan CEO Diva Press) memberi materi menulis fiksi
Pak Edi Akhiles (Rektor Kampus Fiksi dan CEO Diva Press) memberi materi menulis fiksi
Reportase Kampus Fiksi dan Ultah UNSA-5 di Harian Surya Kamis 29 Januari 2015
Reportase Kampus Fiksi dan Ultah UNSA-5 di Harian Surya Kamis 29 Januari 2015

*naskah sebelum ada editan editor Harian Surya, dimuat Kamis, 29 Januari 2015.

Berbagi dan Menginspirasi Melalui Profesi

IMG-20130915-WA002
Kelas Inspirasi Malang

“Coba siapa yang bisa sebutkan nama panjang kakak?”

“Kalau nggak ada yang bisa kakak nggak akan beri sesuatu deh”
Siswa-siswi kelas empat masih tak ada yang menjawab. Kemudian Ayu bertanya, “Siapa yang tahu Nasution itu di mana?” Tidak ada yang tahu juga.

Ayu bilang Pulau Sumatera, dan anak-anak dengan suara rebutan menyebutkan Aceh. Karena salah Ayu membenarkan daerah asalnya dari Medan.

IMG_4452
doc pribadi

            Tripod sudah terpasang. Ayu mengatakan bahwa akan memberi ilmu tentang dunia fotografi. Namun, entahlah anak-anak kelas 4 masih diam walau mata dan kepala mereka menoleh kanan-kiri.

            Ayu memulai dengan memberi teknik pengambilan foto. Sebelumnya Ayu bertanya, ada apa saja kira-kira? Anak-anak tidak ada yang tahu. Ayu mengatakan yang pertama, bird eye.

Relawan mengajari salah satu siswi yang ingin praktik human eye
doc pribadi

            “Ayo adek-adek apa arti bird?”

            “Burung” beberapa mereka menyahut.

            “Betul, kalau eye?” 

            “Mata” beberapa dari mereka lagi yang menyahut.

            “Jadi ini apa maksudnya?”

            “Mata burung” salah satu dari anak kelas empat menjawab.

            “Nah betul itu, jadi cara mengambilnya foto seperti mata burung. Gimana mata burung itu adek-adek?”

            Mereka diam seperti berpikir. Lalu ada yang memperagakan kalau burung matanya lihat ke bawah ketika dia terbang.

Praktik tekhnik bird eye oleh salah siswa
doc pribadi
praktik frog eye dengan mode;
doc pribadi
praktik human eye memakai tripod
doc pribadi

            Ayu pun mencari anak yang mau mempraktikannya tanpa kamera dulu. Ada satu anak yang memberanikan diri. Setelah ada satu anak memberanikan diri yang lain pun ikut berani. Tapi rata-rata hanya laki-laki yang berani. Yang perempuan masih malu. Mereka mau kalau dipaksa.

            Teknik kedua dan ketiga adalah human eye dan frog eye. Anak-anak semakin tertarik dengan paparan Ayu. Anak-anak seakan nggak bosan karena Ayu menyelingi dengan praktik langsung. Ketika Ayu bertanya, “Siapa yang ingin menjadi fotografer?” ada di antara mereka yang mengacungkan jari. Ketika Ayu bertanya, “siapa yang ingin jadi yang difoto?” ada beberapa di antara mereka mengacungkan jari.

            Setelah banyak dari putra yang praktik langsung dengan memegang kamera, siswi juga ingin ternyata. Mereka malah meminta untuk mencoba, Ayu pun senang karena respon anak-anak baik, bahkan bisa dibilang sangat. Setelah menjadi fotografer gentian menjadi modelnya. Mereka sangat antusias.

            Ini hari di mana saya menjadi seorang relawan menjadi seorang fotografer. Bila sebelumnya saya menjadi pembicara jurnalistik atau menulis. Sekarang tugas saya lain, yakni menjadi pembidik objek dengan kamera. Ingin sih menjadi relawan pengajar, tapi rasanya belum apa-apa saya dalam menulis. Buku solo saja belum. Karenanya saya memilih menjadi fotografer saja walau masih amatiran sebagai partisipasi saya dalam acara yang sangat baik seperti Kelas Inspirasi.

            Kelas Inspirasi. Sekilas tahu dari fesbuk kalau ini adalah salah satu sub kegiatan yang diadakan oleh Indonesia Mengajar yang didirikan oleh Pak Anies Baswedan. Indonesia Mengajar sendiri sudah cukup terkenal, sekarang sudah angkatan ke tujuh dan sudah dibuka angkatan ke delapan. Bahkan sudah dua angkatan yang saya tahu telah menulis kisah perjuangan mereka ketika menjadi pengajar muda di pulau-pulau pelosok.

            Dengan menjadi relawan fotografer saya jadi tahu seperti apa sebenarnya kegiatan ini. Karena tidak menutup kemungkinan di masa depan kelak saya bisa beralih menjadi relawan pengajar. Ya, jika memang saya benar-benar pantas sih.

            Saya dikumpulkan bersama teman-teman kelompok 11. Kami ditempatkan di sebuah SD negeri yang masih di daerah kota namun sudah masuk-masuk dan mewah (mepet sawah).

            Ketika hari sabtu seluruh relawan diundang untuk menyatukan visi, kelompok 11 berkumpul da nada guru SD dari tempat yang akan kami datangi nanti. Mereka mengatakan bahwa SD mereka biasa, yang membuat bayangan saya ya nggak bagus seperti ketika saya datang ke sana waktu survey.

            Namun memang jika dibandingkan dengan SD lain, sarana dan prasarana SD tempat kami ditugaskan masih kurang. Namun saya melihat hal tersebut tidak menggoyahkan semangat anak-anak SD Bandulan 5 dan mereka masih bisa tersenyum.

            Terbukti ketika hari H, mereka semua memakai baju khas pahlawan sebagai peringatan Hari Pahlawan 10 November. Ketika kami membuka acara dengan yel-yel penyemangat dan chicken dance mereka sangat antusias dan senang. Terlihat dari wajah unyu dan polos mereka.

            Di kelas lain ada Mas Edi Suprayitno, seorang programmer yang menjadi relawan pengajar. Mas Edi banyak bercerita bagaimana berdarah-darahnya dia untuk sekolah hingga menjadi seorang programmer sekarang. Tidak seperti di kelas Ayu, kelas Mas Edi lebih sunyi karena dia banyak cerita. Namun, saya kira inti pembicaraan Mas Edi bisa diambil oleh anak-anak SD ini sebagai inspirasi dan motivasi untuk meraih cita-cita, semoga.

Mas Edi Suprayitno
doc pribadi
Pak Amin Sobirin berkenalan
doc pribadi
relawan bercerita tengtang orang cacat yang sukses
doc pribadi
Siap Bertempur dalam arti menuntut ilmu
doc pribadi
siswa-siswi menggambar dan menulis apa cita-citanya4
doc pribadi
Sebelum masuk kelas relawan mengajak siswa-siswa Chicken Dance dulu
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama guru SDN Bandulan 5 Malang1
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama murid dan guru SDN Bandulan 5 Malang3
doc pribadi

            Pengajar terakhir ada Pak Amin Sobirin dari Bentoel. Seperti Mas Edi, Pak Amin banyak berbicara namun kelebihannya dia memakai laptop dan proyektor sehingga anak-anak juga tidak terlalu bosan dan semakin hidup inspirasinya karena ada visualisasi.

            Pak Amin yang paling tua di antara relawan juga fasilitator menjadi yang kami ikuti (pemimpin). Memang juga saran-sarannya bagus. Tak jarang kami langsung mengiyakan saja. Seperti ada yel-yel juga chicken dance usulan pak Amin dan memang tarian itu hanya Pak Amin yang bisa, hehe.

            Sebagai awal perkenalan menari sambil tertawa cukup menyambungkan antara relawan dan para murid. Hingga akhir acara, walau molor dari perencanaan murid SDN Bandulan 5 masih antusias. Dari permintaan kami agar mereka menulis dan menggambar apa cita-cita mereka kelak di kertas yang kami bagikan. Yang saya lihat ada di antara mereka menggambar pemain bola yang berarti dia ingin menjadi pemain sepak bola. Kertas itu kamis suruh untuk ditempelkan di kamarnya agar terus dibaca dan menjadi motivasi terus-menerus bagi mereka, semoga mampu diraih segala cita-cita mereka.

            Akhirnya, di Kelas Inspirasi ini saya tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam memotret. Namun saya juga mendapatkan persaudaraan, tulus berbagi, tulus menginspirasi, dan berbakti dengan melakukan tindakan nyata walaupun kecil dan hanya sehari. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dari tahun ke tahun dan saya bisa kembali berpartisipasi. Mari menginspirasi dan berbagi melalui profesi!

14 November 2013 sehabis shubuh yang dingin