Membeli Buku

13239253_10206332876905761_1382335321472006081_n

Alhamdulillah, itu yang saya ucapkan ketika datang untuk menemani kelas menulis kemarin siang. Adik-adik yang mengikuti kelas menulis punya inisiatif keren agar menumbuhkan minat baca teman-temannya. Masing-masing mereka membeli cukup banyak buku (kebetulan ada bazar buku murah MMU di Perpusda Bondowoso), dan mereka membawa buku-buku yang mereka beli itu ke sekolah. Mereka menaruh buku-buku tersebut di rak yang tidak dipakai, dan memperbolehkan teman-temannya untuk membaca selama istirahat.

Alhamdulillah, semoga ini merupakan salah satu angin segar budaya literasi di generasi muda yang ada di Bondowoso

(Mudah) Menulis

13041142_10206142837714900_1587209896193752929_o

Seperti kata Mbak Afra, “Menulis adalah menuangkan isi kepala.” Agar mudah dalam menulis, kepala harus diisi dulu dengan membaca. Selain memberitahu dasar-dasar menulis yang saya tahu, saya juga memotivasi adik-adik kelas menulis di Sdmuhammadiyah Bondowoso untuk semangat membaca.

Karenanya, setiap pertemuan saya selalu membawa buku dan majalah anak yang saya punya. Kebetulan paginya baru datang buku anak terbaru terbitan Penerbit Indivamedia Kreasikarya Mas Saleh Khana dan juga karya Kharissa Nurmanita Fayanna Ailisha Davianny dkk, jadi saya bawa juga ke pertemuan mingguan untuk foto bareng dengan dua buku tersebut.

Namun, dua buku tersebut belum boleh mereka pinjam, karena saya belum baca. Dua buku anak ini sangat bagus, karena tidak hanya menghibur namun ada nilai-nilai yang berusaha ditanamkan kepada pembaca anak. Recommended! 🙂

Berbagi dan Menginspirasi Melalui Profesi

IMG-20130915-WA002
Kelas Inspirasi Malang

“Coba siapa yang bisa sebutkan nama panjang kakak?”

“Kalau nggak ada yang bisa kakak nggak akan beri sesuatu deh”
Siswa-siswi kelas empat masih tak ada yang menjawab. Kemudian Ayu bertanya, “Siapa yang tahu Nasution itu di mana?” Tidak ada yang tahu juga.

Ayu bilang Pulau Sumatera, dan anak-anak dengan suara rebutan menyebutkan Aceh. Karena salah Ayu membenarkan daerah asalnya dari Medan.

IMG_4452
doc pribadi

            Tripod sudah terpasang. Ayu mengatakan bahwa akan memberi ilmu tentang dunia fotografi. Namun, entahlah anak-anak kelas 4 masih diam walau mata dan kepala mereka menoleh kanan-kiri.

            Ayu memulai dengan memberi teknik pengambilan foto. Sebelumnya Ayu bertanya, ada apa saja kira-kira? Anak-anak tidak ada yang tahu. Ayu mengatakan yang pertama, bird eye.

Relawan mengajari salah satu siswi yang ingin praktik human eye
doc pribadi

            “Ayo adek-adek apa arti bird?”

            “Burung” beberapa mereka menyahut.

            “Betul, kalau eye?” 

            “Mata” beberapa dari mereka lagi yang menyahut.

            “Jadi ini apa maksudnya?”

            “Mata burung” salah satu dari anak kelas empat menjawab.

            “Nah betul itu, jadi cara mengambilnya foto seperti mata burung. Gimana mata burung itu adek-adek?”

            Mereka diam seperti berpikir. Lalu ada yang memperagakan kalau burung matanya lihat ke bawah ketika dia terbang.

Praktik tekhnik bird eye oleh salah siswa
doc pribadi
praktik frog eye dengan mode;
doc pribadi
praktik human eye memakai tripod
doc pribadi

            Ayu pun mencari anak yang mau mempraktikannya tanpa kamera dulu. Ada satu anak yang memberanikan diri. Setelah ada satu anak memberanikan diri yang lain pun ikut berani. Tapi rata-rata hanya laki-laki yang berani. Yang perempuan masih malu. Mereka mau kalau dipaksa.

            Teknik kedua dan ketiga adalah human eye dan frog eye. Anak-anak semakin tertarik dengan paparan Ayu. Anak-anak seakan nggak bosan karena Ayu menyelingi dengan praktik langsung. Ketika Ayu bertanya, “Siapa yang ingin menjadi fotografer?” ada di antara mereka yang mengacungkan jari. Ketika Ayu bertanya, “siapa yang ingin jadi yang difoto?” ada beberapa di antara mereka mengacungkan jari.

            Setelah banyak dari putra yang praktik langsung dengan memegang kamera, siswi juga ingin ternyata. Mereka malah meminta untuk mencoba, Ayu pun senang karena respon anak-anak baik, bahkan bisa dibilang sangat. Setelah menjadi fotografer gentian menjadi modelnya. Mereka sangat antusias.

            Ini hari di mana saya menjadi seorang relawan menjadi seorang fotografer. Bila sebelumnya saya menjadi pembicara jurnalistik atau menulis. Sekarang tugas saya lain, yakni menjadi pembidik objek dengan kamera. Ingin sih menjadi relawan pengajar, tapi rasanya belum apa-apa saya dalam menulis. Buku solo saja belum. Karenanya saya memilih menjadi fotografer saja walau masih amatiran sebagai partisipasi saya dalam acara yang sangat baik seperti Kelas Inspirasi.

            Kelas Inspirasi. Sekilas tahu dari fesbuk kalau ini adalah salah satu sub kegiatan yang diadakan oleh Indonesia Mengajar yang didirikan oleh Pak Anies Baswedan. Indonesia Mengajar sendiri sudah cukup terkenal, sekarang sudah angkatan ke tujuh dan sudah dibuka angkatan ke delapan. Bahkan sudah dua angkatan yang saya tahu telah menulis kisah perjuangan mereka ketika menjadi pengajar muda di pulau-pulau pelosok.

            Dengan menjadi relawan fotografer saya jadi tahu seperti apa sebenarnya kegiatan ini. Karena tidak menutup kemungkinan di masa depan kelak saya bisa beralih menjadi relawan pengajar. Ya, jika memang saya benar-benar pantas sih.

            Saya dikumpulkan bersama teman-teman kelompok 11. Kami ditempatkan di sebuah SD negeri yang masih di daerah kota namun sudah masuk-masuk dan mewah (mepet sawah).

            Ketika hari sabtu seluruh relawan diundang untuk menyatukan visi, kelompok 11 berkumpul da nada guru SD dari tempat yang akan kami datangi nanti. Mereka mengatakan bahwa SD mereka biasa, yang membuat bayangan saya ya nggak bagus seperti ketika saya datang ke sana waktu survey.

            Namun memang jika dibandingkan dengan SD lain, sarana dan prasarana SD tempat kami ditugaskan masih kurang. Namun saya melihat hal tersebut tidak menggoyahkan semangat anak-anak SD Bandulan 5 dan mereka masih bisa tersenyum.

            Terbukti ketika hari H, mereka semua memakai baju khas pahlawan sebagai peringatan Hari Pahlawan 10 November. Ketika kami membuka acara dengan yel-yel penyemangat dan chicken dance mereka sangat antusias dan senang. Terlihat dari wajah unyu dan polos mereka.

            Di kelas lain ada Mas Edi Suprayitno, seorang programmer yang menjadi relawan pengajar. Mas Edi banyak bercerita bagaimana berdarah-darahnya dia untuk sekolah hingga menjadi seorang programmer sekarang. Tidak seperti di kelas Ayu, kelas Mas Edi lebih sunyi karena dia banyak cerita. Namun, saya kira inti pembicaraan Mas Edi bisa diambil oleh anak-anak SD ini sebagai inspirasi dan motivasi untuk meraih cita-cita, semoga.

Mas Edi Suprayitno
doc pribadi
Pak Amin Sobirin berkenalan
doc pribadi
relawan bercerita tengtang orang cacat yang sukses
doc pribadi
Siap Bertempur dalam arti menuntut ilmu
doc pribadi
siswa-siswi menggambar dan menulis apa cita-citanya4
doc pribadi
Sebelum masuk kelas relawan mengajak siswa-siswa Chicken Dance dulu
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama guru SDN Bandulan 5 Malang1
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama murid dan guru SDN Bandulan 5 Malang3
doc pribadi

            Pengajar terakhir ada Pak Amin Sobirin dari Bentoel. Seperti Mas Edi, Pak Amin banyak berbicara namun kelebihannya dia memakai laptop dan proyektor sehingga anak-anak juga tidak terlalu bosan dan semakin hidup inspirasinya karena ada visualisasi.

            Pak Amin yang paling tua di antara relawan juga fasilitator menjadi yang kami ikuti (pemimpin). Memang juga saran-sarannya bagus. Tak jarang kami langsung mengiyakan saja. Seperti ada yel-yel juga chicken dance usulan pak Amin dan memang tarian itu hanya Pak Amin yang bisa, hehe.

            Sebagai awal perkenalan menari sambil tertawa cukup menyambungkan antara relawan dan para murid. Hingga akhir acara, walau molor dari perencanaan murid SDN Bandulan 5 masih antusias. Dari permintaan kami agar mereka menulis dan menggambar apa cita-cita mereka kelak di kertas yang kami bagikan. Yang saya lihat ada di antara mereka menggambar pemain bola yang berarti dia ingin menjadi pemain sepak bola. Kertas itu kamis suruh untuk ditempelkan di kamarnya agar terus dibaca dan menjadi motivasi terus-menerus bagi mereka, semoga mampu diraih segala cita-cita mereka.

            Akhirnya, di Kelas Inspirasi ini saya tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam memotret. Namun saya juga mendapatkan persaudaraan, tulus berbagi, tulus menginspirasi, dan berbakti dengan melakukan tindakan nyata walaupun kecil dan hanya sehari. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dari tahun ke tahun dan saya bisa kembali berpartisipasi. Mari menginspirasi dan berbagi melalui profesi!

14 November 2013 sehabis shubuh yang dingin

Menjadi Satpol Teroris Part I

Satu pesan masuk ke hpku.

“Dho, jam 11 kita berangkat ya” sms dari SCNDV@KakRajabH.

“Iya kak, tapi saya masih kuliah kak, tunggu ya..” balasku.

Walau berada di laboratorium  Ilmu Komunikasi, aku tetap bisa membalas sms kak Rajab. Selain memang mata kuliahnya adalah praktik dan agak santai (hihi, jangan ditiru yak!). Untung saja Pak Nasrullah pengampu materi Deep News praktik jurnalistik tidak suka marah 😀 Memang pikiranku kali itu bercabang dua, antara memperhatikan materi sekaligus mengerjakan tugasnya ditambah perihal penjemputan Bunda Pipiet Senja.

“Iya Dho, tunggu depan kampus ya”

          “Sepeda taruh mana kak?”

          “Kampus aja, insya Allah aman”

          “Kalo sampe malem, saya pulang aja dulu, nanti dari kontrakan aja berangkatnya kak”

          “Oke, Dho”

Alhamdulillah, karena sudah deal kesepakatannya otomatis smsannya juga berhenti. Lega. 😀

Selang beberapa menit setelah tugasku selesai. Ada sms dari FLP@TehPipiet.

“Naaak. Nanti ketemunya di Hotel Pelangi 2 di Jalan Dinoyo sekitar jam 2.30 yaa”

“Iya bunda, jadi nggak usah jemput Bunda?”

“Gak usah, nak”

Aku segera menghubungi Kak Rajab.

“Kak, kata Bunda Pipiet nanti dijemput di Hotel Pelangi 2 di Dinoyo aja”

“Oke, Dho”balas Kak Rajab.

Deal. Selesai. Dan hpku mati di saat yang tepat. Error dan dropnya kambuh (minta di “lem biru” kali ya?hehe :D)

Praktik selesai, diakhiri dengan penugasan membuat Deep News. Dengan kepala agak puyeng, aku segera melangkahkan kaki ke parkiran sepeda motor. Pulang ke kontrakan. Mengambil charger hp Nokia Adym dan kupasang hpku (ketahuan nggak punya charger :D) dan segera kunyalakan.

Ada sms dari Kak Rajab lagi.

“Dho, nanti tunggu di depan gang ya, turun masjid saya berangkat dari sini”

          “Iya kak”

          Sebenarnya aku masih bingung gang mana nih aku. Karena ada dua gang di kontrakanku. Gang di depan jalan biasa dan gang menuju jalan raya. Ah, nanti sajalah. Kulihat jarum jam sudah menunjuk angka 11, aku harus mandi dan berangkat shalat jum’at ke masjid.

***

Turun dari masjid. Aku langsung meluncurkan sepeda motor ke depan masjid yang menjual lalapan. Perut sejak tadi sudah melakukan koor indahnya, jadi aku harus segera mengisinya. Aku pesan satu dibungkus nasi kuning dan lalapan ayam krispi.

Sampai selesai makan di Prisma (sambil Fb-an juga di PC Prisma yang bermodem,hehe). Aku ngerasa ada yang aneh kak Rajab belum sms juga. Lalu, kulayangkan sms ke SCNDV@KakRajabH.

“Kak, jadi jam berapa berangkat dari Batu?”

Setelah itu ada banyak sms yang berkucuran derasnya dari no yang ku sms barusan, sampai tak muat karena kepenuhan.

“Dho, ayo kita sudah di gang depan”

          “Dho, di mana?”

          “Dho, ayo kita harus jemput ke Bandara”

          “Dho?”

Belum sempat aku membalas, sebuah telpon masuk dari nama yang sama dengan pengirim sms.

“Dho di mana? Ayo Berangkat, saya di depan sejak tadi”

“Lho? Tunggu kak saya jalan..” jawabku.

“Prisma mana? Minta anter dia aja”

“Nggak ada kak, saya sendirian di rumah”

“Ya wes, agak cepat ya”

“Iya kak”

Hp mati. Dan aku segera ganti baju.

Sampai depan pintu yang akan aku kunci, temanku prisma datang.

“Ditunggu tuh!” kata dia.

“Iya, sek”

Aku diantarnya sampai gang depan menuju sebuah mobil biru. Ada kak Rajab dan satu orang sopir yang belum aku kenal. Kami segera meluncur ke bandara sekitar pukul 12.30.

“Dari mana Dho, di sms di telpon nggak bisa?” Tanya kak Rajab.

          “Di kontrakan aja kak, mungkin nggak ada sinyal ya, sms antum juga baru masuk kak”  

          “Oooo” Kak Rajab menganggukkan kepala.

Aku meneruskan dengan pertanyaan.

“Kak tadi Bunda Pipiet kan bilang kita jemput di hotel aja, kok sekarang mendadak jemput di bandara?”

          “Gini Dho, tadi waktu tak telpon: “Bu Pipiet kata Akhi Ridho kita menjemputnya di hotel saja ya?” “Iya” kata beliau. “Terus yang jemput di bandara siapa Bu?” “Katanya panitia UIN mas”  Seperti yang bingung beliau Dho. Ya sudah tak telpon panitia”

“Saya baru ingat kalau kesepakatannya Al-Izzah jemput Bu Pipiet, ya sudah ini makanya harus segera ke sana nih”

          “hehe, mis komunikasi kak” Aku ketawa.

“Iya, hehe. Kamu tahu bandara Dho?” tanya Kak Rajab.

“Nggak tahu kak” Kugelenggkan kepala.

“Kamu mi?” Tanya Kak Rajab ke sopir.

Dia gelengkan kepala. “Nggak.”

“Kita nggak ada yang asli Malang ya” Kak Rajab bertanya yang tak perlu jawaban, aku dan sopir ternyata bernama Fahmi itu hanya diam.

Kak Rajab mengenalkanku pada Fahmi.

“Ini Ridho adek kelasku di Al-Ishlah”

          “Ini baru keluar dari ISID (Institut Studi Islam Darussalam Gontor), Dho”

          “Ooo, sapa nama antum?” Aku mencoba mendekat.

“Fahmi” jawabnya.

“Baru lulus ISID?”

          “Iya baru, tahun ini”

          “Tahun 2008 berarti ya?”

          “Iya”

          Kemudian hening dalam mobil. Diam semua. Terutama aku yang mulai keringatan dan mual. Seperti ingin mengeluarkan apa yang aku makan tadi, roti yang di beri Kak Rajab pun kubiarkan terbungkus. Aku melihat AC mobil menyala. Sepertinya ini masalahnya. Aku nggak kuat nih. Aku coba kecilkan, ternyata sama saja. Aku cari tombol mematikannya. Ketemu. Off. Dan lega, mualku sedikit pergi. Walau masih ada terpaan AC dari depan.

Malang saat itu memang sedang panas-panasnya. Anggapan Malang itu dingin, saat ini mungkin bisa ditolak. Panas bak Surabaya. Mau hujan mungkin, batinku. Apalagi, saat itu mulai macet di beberapa tempat. Gerah, pasti.

Kak  Rajab mungkin merasa ada yang aneh, mulai merasa panas sepertinya. Dia melihat tombol AC mati. Lalu dia hidupkan. On.

“Kamu matikan AC, Dho?” tanya Kak Rajab.

“Iya kak, gak kuat”

“Nggak cocok jadi orang kaya kamu Dho” candanya.

Aku hanya tersenyum. Dan kembali mencerna candaan Kak Rajab itu. Kok benar masuk ke pikiranku ya? Aku bertanya-tanya sendiri. Ah, nggak usah dipikirkan. Cocok nggaknya jadi kaya nggak hanya diliat dari itu saja. Lupakan ah. Hehe….

“Dho ada pulsa kamu? Coba hubungi beliau mungkin sudah sampe?”

          “Nggak ada kak, cuma ada pulsa sms” ya itu saja memang punyaku.

“Saya nggak ada pulsa juga, kamu ada Mi?

          “Ada, banyak”

          “Coba telpon Dho”

          “Hp saya mati kak”

          “Sek ini nomernya” Sambil memegang hpnya kak Rajab mencet nomor hp Bunda Pipiet.

Aku coba menelpon. Kupencet tombol bergambar gagang telpon. Tak ada sambungan.

“Gak masuk kak” kataku.

Berkali aku coba, juga nggak masuk. Akhirnya kuberikan lagi hp Fahmi ke Kak Rajab.

Kemudian beberapa menit kemudian dicoba lagi oleh Kak Rajab.

“Masuk ini Dho” Sambil memberikan hp padaku.

Percakapan dimulai.

“Bunda sudah sampai?”

          “Belum masih di pesawat mas”

          “Oh iya, ini Ridho Bunda. Kami juga masih di jalan bunda”

          “Okeh Okeh”        

Kemudian hp mati.

Setelah sampai Singosari. Kak Rajab walaupun masih ragu apakah benar yang di tuju, meminta Fahmi terus saja pelan-pelan sampai ada tulisan Abdul Rachman Saleh.

Nggak tanya dulu tah pak?” Tanya Fahmi.

“Nggak, nggak usah, terus aja”

Sampai belokan menuju tempat yang Kak Rajab maksud. Mobil terus berjalan. Dan akhirnya berhenti di depan warung kelontong dan Kak Rajab turun untuk bertanya. Setelah masuk, Kak Rajab menginstruksi Fahmi untuk meneruskan perjalanan.

Sampai di sebuah persawahan, yang di pinggirnya tumbuh tumbuhan hijau sebagai pagar.

Kayak jalan mau ke cangar, bener nggak ini yah?” Tanya Kak Rajab.

Aku dan Fahmi diam saja.      Kemudian Fahmi berkata, ketika sampai di gerbang bertuliskan Lapangan Udara TNI Abdul Rachman Saleh.

“Ini bukannya lapudnya TNI ya pak?” Dia ragu tempat yang kita tuju ini benar.

“Bukan, insya Allah ini bener kok” Kak Rajab menjawab antara PD dan ragu.

Aku hanya diam di antara pembicaraan mereka berdua. Aku hanya ikut saja ke mana mereka pergi. Karena satu, aku tak pernah ke Bandara di Malang, jelas tidak tahu mana yang benar dan salah. Kedua, aku kira tujuan ini sudah benar karena namanya sudah benar “Abdul Rachman Saleh”.

Semakin jauh masuk, kita tak menemukan kepastian dan keyakinan kalau tempat ini bandara yang kita tuju. Tak kami (selain saya yang belum pernah ke bandara manapun) temukan pemandangan lazimnya bandara. Sampai pada suatu pertigaan dan di sana aku disuruh turun ke seorang tentara yang sedang menjaga.

“Apa?” Sebelum aku tanya dia sudah bertanya dahulu dan sedikit ketus.

“Bandara udara di mana ya pak?”

          “Salah tempat kalian, tadi lewat pos jaga ya”

Kak Rajab turun juga dan menghampiri kita berdua.

“Kalian keluar dan kembali ke blimbing”

          “Bukan di sini ya pak?” tanya Kak Rajab.

“Umum kan? Sriwijaya kan?” tanya tentara itu.

Dan kemudian meninggalkan kami yang masih bingung, galau. Dia menghampiri gerbang yang memakai penghalang tampar yang kemudian dia angkat tinggi-tinggi. Dua-tiga truk hitam TNI berjalan agar bisa lewat.

“Minggir!” Dia meneriaki aku dan Kak Rajab yang berdiri di aspal, ketika salah satu truk berjalan di depan kita. Aku sudah di atas trotoar.

“Minggir!!!” Dia membentak lebih keras lagi. Aku jengkel pada tentara itu. Sewot sekali nih, batinku. Ternyata Kak Rajab masih di pinggir jalan di atas aspal, hampir saja dia kena sentuh truk tersebut jika saja tentara itu nggak teriak dan aku memberi tahunya untuk minggir naik ke trotoar.

Kak Rajab sudah pindah ke trotoar. Sepertinya dia juga nggak tahan jadi bulan-bulanan kemarahan tentara, dia langsung mengajakku ke mobil walau belum jelas jawaban tentara tersebut.

“Ayo Dho!” Kita berdua kembali ke mobil.

“Kenapa kok marah gitu?” Tanya Fahmi ketika aku dan Kak Rajab masuk mobil. Tanpa menjawab pertanyaan Fahmi, Kak Rajab memberi instruksi untuk balik arah!

“Ayo balik arah kita salah jalan!”

Fahmi pun langsung memutar arah dan melanjutkan perjalanan dengan agak ngebut.

“Duh, gimana nih ya?, kita telat nih bisa-bisa ini”

Kemudian ada 2 sms dari Bunda Pipiet di Hp Fahmi.

“Saya di atm center”

          “Saya make baju serba ungu ya dek”

Waduh alamat bunda Pipiet sudah sampai ini. Kami semua bingung. Aku mencoba menghubungi beliau tapi belum tersambung. Sampai di gerbang awal kami masuk, Kak Rajab turun dan bertanya di mana Bandara ke tentara yang menjaga. Setelah masuk mobil, Kak Rajab bilang kalau kita harus ke blimbing di sana tempatnya ini hanya untuk tentara. Betul berarti kata Fahmi dan memang yang kulihat di jalanan sejak tadi semua tentara berseragam, tak ada orang umumpun. Wah, memang berarti kita salah alamat. Mencari alamat Bandara Abdul Rachman Saleh, malah kita ke Lapangan Udara TNI Abdul Rachman Saleh. Dengan nama yang sama, tetapi beda fungsi. Lapangan Udara TNI untuk TNI saja. Bandara untuk umum. Akhirnya kita tahu juga perbedaannya. Katrok ya! 😀

Kak Rajab turun lagi dari mobil,  untuk bertanya ke tempat pembelian tiket. Ternyata benar, bandara tujuan kita itu tak perlu jauh sampai Singosari. Karena Cuma daerah blimbing. Mobil melaju lebih cepat dari sebelumnya, namun juga tetap hati-hati.

Hampir setiap pertigaan menjadi penyebab jalanan macet. Kita masih harus berhenti dan antri untuk melaju ke depan. Aku mencoba menghubungi Bunda Pipiet lagi. Kita merasa tidak enak sudah setengah jam beliau menunggu di bandara. Telepon tersambung.

“Dek kalian di mana ya?” Suara beliau terasa kelelahan. Aku mendengarnya jadi nggak enak.

“Maaf bunda tadi kami salah bandara L

“Wadau kacoooooooow hehehe”

Maaf ya bunda, lima belas menit lagi kami sampai insya Allah”

          “Iya, saya lagi minum nih”

          “Iya bunda, maaf…”

Hp mati. Dan sampailah kami ke gerbang Bandara.

Kita terus sampai ke depan ATM Centre dan melihat Bunda Pipiet lagi duduk  kelelahan. Ya, kelelahan selama duduk di pesawat plus kelelahan duduk menunggu jemputan kita. Ah, nggak enak sekali. Malu ke beliau.

Aku segera turun, dan langsung berlari ke beliau. Beliau tersenyum melihatku. Aku mencium punggung tangan kanan beliau. Dan langsung membawakan barang-barang yang beliau bawa.

“Aaaah ini telaaat ya” Kata beliau.

Kita mengajaknya masuk mobil langsung karena gerimis juga. Dan mobil langsung meluncur kea rah tujuan, Al-Izzah Batu.

“Ketahuan kalian nggak tahu bandara ya” tersenyum, beliau pada kita bertiga.

#Bersambung

Roadshow Keffiyeh Merah Ke Jawa Timur

#pernah dimuat di Harian Surya 20 Juni 2012, klik!

                Sore itu daerah Tirto kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, tetap bernafas seperti adanya, selalu ramai. Ya, daerah ini berjejeran dengan rumah makan, café, toko, warnet, counter, foto kopi, dan semua yang berkaitan dengan kehidupan dengan mahasiswa yang bersifat materi. Maka, tak heran jalan-jalan hampir selalu penuh dengan anak-anak muda yang tak lain mahasiswa-mahasiswi, baik yang berjalan di pinggir jalan atau menaiki sepeda motor dan mobil yang meramaikan arus Jalan Tirto.

Di sebuah café, tepatnya Green Camp Us. Ada kumpulan orang yang sedang asyik ngobrol ringan, kumpulan mahasiswa namun serius dan antusias mendengarkan dan menanyakan apa-apa yang ingin diketahui. Ya, sore itu Journalistic Club Ilmu Komunikasi UMM sedang kehadiran tamu dari negeri yang cukup jauh di Timur Tengah tepatnya Saudi Arabia. Yakni dari Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Saudi Arabia.

Dalam rangka roadshow buku yang diterbitkan perdana oleh penerbit FLP Saudi, mereka mengadakan diskusi bedah buku dengan gratis. Buku itu berjudul Keffiyeh Merah, kumpulan tulisan novelette dan cerpen yang pernah dimuat di majalah Islam Annida Online. Buku ini langsung dibedah oleh penulisnya sendiri yaitu Maryam Qonitat. Sedangkan, perwakilan dari FLP Saudi adalah Taqi yang saat ini juga menjabat sebagai ketua FLP Saudi.

Diceritakan, antara Taqi dan Maryam belum pernah bertemu. Mereka hanya bertemu di dunia maya. Karena apa? Mereka berbeda tempat domisili, Taqi yang melanjutkan studi di Ummul Quro’ Saudi sedangkan Maryam setelah menyelesaikan Strata satunya di Al-Azhar Mesir, melanjutkan magisternya di International Islamic University Malaysia. Setelah cukup akrab di dunia maya, Taqi meminta naskah Maryam untuk dijadikan buku perdana yang diterbitkan  Cahaya Publishing (yang dikelola FLP Saudi Arabia).

Mereka baru bertemu pada acara yang mereka sepakati untuk mengisi liburan, yaitu safari cahaya roadshow Keffiyeh Merah di Jawa Timur selama 15-24 Juni 2012. Di Malang dilakukan di berbagai tempat seperti Pondok Pesantren Babul Khoirot di Lawang pada tanggal 16 Juninya, sore sampai sehabis maghrib menjelang isya dilakukan di Green Camp Us cafe, bersama JC UMM.

Maryam menceritakan bagaimana proses kreatifnya menulis buku pertamanya itu. Termasuk mengapa ia mengambil judul Keffiyeh Merah. Menurut dia, keffiyeh itu sebagai symbol. Lihat saja bagaimana keffiyeh atau biasa kita sebut sorban itu tak hanya dipakai oleh orang-orang Timur Tengah. Tapi kali ini juga menjadi fashion, insan nasyid atau band religi yang hadir pada saat Ramadhan. Namun bagi penulis yang mengaku memulai karir kepenulisannya sejak 2010 ini, mengatakan bahwa keffiyeh itu sebagai simbol kebangkitan. Sebagaimana cerita di dalamnya bergenre epik romantis, yang tak bercerita romantisme picisan namun cinta yang memberikan kekuatan.

Menjelang akhir pertemuan, Maryam memberikan satu ekslempar Keffiyeh Merah sebagai kenang-kenangan untuk JC UMM, dan diteruskan dengan foto-foto. Sampai rombongan kembali melanjutkan perjalanan cahayanya menuju tempat yang akan mereka kunjungi setelah itu yakni Ponpes Ar-Rahmah Hidayatullah dan daerah Jatim lainnya.

Menulislah, Sebelum Hilang Ingatan

                Kamis lalu (24/5/2012), pagi sekitar jam enam saya mengsms salah satu nama dalam list friend  ponsel saya. Saya menanyakan jam berapa saya diharap hadir di ruangan acara. Selang beberapa menit, sms balasan masuk di ponsel saya yang mengatakan jam 9 sudah di tempat lebih baik. Ya, saya mengsms dan mendapat balasan sms dari salah satu panitia seminar penulisan yang diadakan oleh Bem Fisip 2011-2012 UMM. Setelah sebelumnya saya mendapat sms yang menodong saya untuk menjadi pembicara dalam acara mereka tersebut yang bertema ‘Mari Berkarya Melalui Tulisan’. Setelah bepikir dan permintaan mereka yang sedikit memaksa, akhirnya saya mengiyakan permintaan untuk menjadi pembicara. Setelah melihat term of reference yang diberikan panitia kepada saya, saya memilih berangkat jam 9 saja. Karena dalam jadwal saya mengisi jam 10.45, jam setengah sepuluh saya sudah ada di tempat. Saya duduk di depan ruangan bersama panitia acara sambil menunggu teman saya perwakilan dari Forum Lingkar Pena Cabang Malang Raya Muhammad Hafidz Mubarok sekaligus menyimak apa yang dikatakan oleh pembicara pertama. Sesuai jadwal acara pertama diisi oleh salah satu Dosen Ilmu Komunikasi Arief Hidayatullah S.Ikom. Dosen dan penulis buku Menulis Inspirasi ini memberikan banyak teori dan juga motivasi menulis kepada peserta seminar. Arief mengatakan, agar kita mendapatkan inspirasi untuk menulis, maka kita harus selalu sadar dalam menjalani hidup. Jika tidak, maka akan banyak inspirasi berupa ide yang tidak bisa kita tangkap. Sayang sekali jika begitu, selain itu dia juga mengatakan, menulislah sebelum kita kehilangan ingatan. Pemateri kedua yaitu Dosen Ilmu Hubungan Internasional Suyatno Ph.D. Suyatno yang juga menjadi salah satu dosen di salah satu universitas di Malaysia ini, memberi cara dan teori dalam penulisan ilmiah yang benar. Karena memang Suyatno cukup ahli dalam bidang ini, selain itu dia juga mengatakan jangan sampai menulis itu hanya dengan niat kapitalis yakni ingin mendapatkan materi. Karena menurut dia, hal itu akan merusak usaha yang dimulai dari awal ketika usaha menulis tak menghasilkan apa-apa maka yang ada hanya kecewa. Jadi, walaupun dengan menulis bisa mendatkan materi atau jalan-jalan keluar negeri gratis seperti apa yang sudah dia alami, jangan jadikan itu sebagai motif kita untuk menulis. Selesai pembicara kedua, maka berlanjut ke acara ketiga yakni diskusi panel yang saya menjadi pembicara sendiri, Hafidz perwakilan dari FLP Malang Raya dan Chintya perwakilan dari NBC Malang. Pemberian materi dimulai dari saya, yang banyak memberikan cerita bagaimana awal saya menulis, proses buku-buku saya dan aktivitas saya dengan komunitas kepenulisan yang saya ikuti. Kemudian dilanjutkan oleh Hafidz yang memberikan materi tentang apa itu FLP, bagaimana pendaftarannya, dan lainnya. Begitupun Chintya memberikan materi tentang apa itu NBC (Nulisbuku.com), apa saja kegiatannya, dan lainnya. Panitia berharap, setelah acara ini semoga peserta yang telah termotivasi untuk menulis, mendapatkan follow up dengan mengikuti komunitas yang cocok dengannya.

Nasyid Memang Asyik


*dimuat di harian surya 5 April 2012

Jika masih banyak orang yang belum tahu nasyid itu apa, maka sekarang saya akan beritahu apa itu nasyid. Nasyid adalah salah satu genre musik dunia yang di Indonesia sudah diresmikan. Genre ini adalah genre musik islami yang lebih modern dari hadrah atau qosidah. Bahkan di negeri tetangga “jiran” genre musik ini menjadi musik yang menjadi musik saingan pop melayu dan sangat diapresiasi oleh pemerintah di sana.

Di Indonesia nasyid awalnya banyak berkembang dengan gaya acapella, bahkan sampai sekarang pun banyak. Acapella menjadi khas nasyid yang ada di Indonesia, walaupun masih banyak juga grup nasyid Indonesia yang memakai musik arransement. Dengan accapella nasyid menjadi lebih unik dan beda dengan musik bergenre lain.

Nasyid di sebagian kalangan masyarakat sudah tidak asing lagi. Bahkan di sekolah-sekolah yang memiliki ekstrakurikuler Remaja Masjid (Remas) atau Kerohanian Islam (Rohis), hampir dipastikan ada juga grup nasyid buatan mereka. Namun, memang tak pelak banyak juga yang masih asing jika mendengar nama nasyid, yang mereka tahu musik yang demikian namanya musik islami atau religi.

Di Indonesia, nasyid memiliki banyak lembaga yang menaunginya, seperti Asosiasi Nasyid Nusantara (ANN) dan Forum Silaturahmi Nasyid Indonesia (FSNI). Kedua lembaga nasyid ini biasanya berfungsi sebagai penyelenggara lomba-lomba nasyid, koordinator antar nasyid di masing-masing propinsi dan kota, juga sebagai penyelenggara konser nasyid dan lainnya.

Di Malang sendiri, ada cukup banyak grup nasyid yang berdiri mulai grup yang terdiri anak SMA, mahasiswa dan yang sudah bekerja, baik grup laki-laki atau wanita. Dengan itu kami bersama senior nasyid pertama di Malang sekaligus di Indonesia “Suara Persaudaraan” Pak Ikmal, berniat membuat lembaga semacam ANN atau FSNI yang fokus memayungi grup-grup nasyid yang ada di Malang Raya.

Akhirnya, kami berkumpul di rumah Pak Ikmal untuk membicarakn hal ini lebih serius. Awalnya kami akan menginap semalam di daerah tengger , di sebuah musholla kecil di sana. Tapi karena hujan yang tak kunjung reda, kami akhirnya terpaksa mengurungkan niat itu dan membicarakan hal ini di rumah Pak Ikmal saja.

Sebagai senior Pak Ikmal kami pilih sebagai Pembina lembaga ini. Kemudian kami bermusyawarah mau kami beri apa nama lembaga ini, setiap orang memberi usulan nama. Akhirnya, terpilihlah nama yang kami setujui bersama yakni, Ikatan Insan Nasyid Malang Cemerlang (IINMAC).

Setelah itu kami meneruskan membuat struktur dan AD/ART lembaga kami yang nanti akan dilegalkan secara hukum. Secara garis besar beberapa yang akan kami lakukan adalah mengadakan pelatihan terprogram dan memakai buku panduan, untuk seluruh grup nasyid di Malang Raya. Selain itu sebagai bukti adanya kami di khalayak, insya Allah kami akan mengadakan konser-konser nasyid sekitar tiga bulan sekali. Inilah bentuk syiar kami, agar nasyid semakin diterima oleh khalayak ramai. Karena mungkin masih banyak yang tidak tahu, ternyata nasyid itu memang asyik.