Kéké

14241412_10207044065085021_1311876117695352417_o

“Untuk mencapai tingginya kehidupan, sepasang sayap haruslah mengepak bersama.” Kang Rendy Seputra (halaman 39).

Tidak ada perusahaan yang tiba-tiba langsung menjadi besar, Kéké salah satunya. Pemilik Kéké sudah melalui semua aral rintang dengan segenap perjuangan untuk membesarkannya.

Dalam buku ini diceritakan kisah hidup Bunda Kartika (pemilik Kéké) yang sangat inspiratif. Buku ini ditulis oleh Kang Rendy Saputra yang menjadi CEO Kéké.

Ohya, Kang Rendy membuka kelas belajar bisnis yang dinamakan Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika. Nanti pembelajarannya secara e-learning. Ada video-video materi dari Kang Rendy, bisa juga langsung konsultasi kepada Kang Rendy dan teman-teman SB-DKK yang lain yang jumlahnya sudah ribuan, melalui grup fesbuk dan telegram.

E-learning ini sangat cocok bagi yang akan memulai bisnis ataupun yang sudah lama berbisnis. Tertarik belajar juga? Monggo klik http://duakodikartika.com/affiliate/3516 jika ada pertanyaan silakan Sms/wa ke 085933138891.

<span data-iblogmarket-verification=”nMlWmdQ1V5Hw” style=”display: none;”></span>

 

Manusia dan Pencipta

sail

Apalah daya manusia tanpa Sang Pencipta. Maka, meminta pertolongan kepada-Nya, adalah keniscayaan. Karena hanya Dia yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas kehidupan manusia. Meminta pertolongan kepada Allah dengan cara bersabar dan mengerjakan shalat.

Insya Allah, Allah akan menolong cepat atau lambat. Insya Allah, yakinlah! 🙂

*credit: Maximilian Weisbecker

 

Tunas Cahaya

IMG_7599
Kita adalah tunas
yang disiram di sepertiga malam
dengan air bak zam-zam
mata air tercurah nan berkhasiat

Kita adalah bebunga
yang tumbuh di kebun cahaya
berkembang merekah indah
mewangi mewarnai dunia

: terima kasih atas
segala siram yang tak terhingga

semoga Allah curahkan berkah tak terkira

*oleh-oleh temu alumni nasional Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso 15-17 Juli 2016, credit:Abdurrahman Abdullah

 

Berani Menulis Itu Hebat

1411491286483391052
sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/1411491286483391052.jpg?t=o&v=760

Baru saja salah satu dari adik-adik saya yang mengikuti kelas menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso, mengirim inbox ke saya. Intinya, dia meminta maaf kalau dia dan salah satu temannya yang ikut lomba juga, tidak bisa membahagiakan saya karena belum menang lomba menulis cerpen PECI yang diadakan oleh Penerbit Indiva. Selamat ya adik-adik yang menjadi juara!

Wah, saya terharu. Padahal ya saya juga hanya membagi ilmu menulis cuma segitu aja, ya karena ilmu menulis saya sementara begitu aja, dan saya nggak minta mereka menang. Mereka mau dan berani menulis, kemudian mau dan berani mengirimkan untuk mengikuti lomba saja saya sudah senang. Saya kemudian jawab, “Lha gpp, santai aja, yang penting pengalaman. Ayo baca buku lagi, cari ide lagi, nulis lagi, nulis cerpen lagi, nulis puisi lagi, ngirim ke bobo, ngirim ke kompas dll. Semangat ya!”

“Siaaapp kak. Aku sma zahro udh ada judul, terus udh ada cerita nya. Jd tinggal ngelanjutin. Tp kalo beberapa minggu ini aku gak bisa ngelanjutin cerita nya. Kalo tangan ku udah normal baru nulis lagi kak,” jawab adik itu melalui inbox. Kabarnya tangannya memang pernah patah dan dioperasi, dan sekarang tangannya akan dioperasi lagi.

Semoga operasinya lancar, dan bisa menulis lagi. Semoga bisa mengikuti jejak Ayu (satu-satunya anak Bondowoso yang menulis buku KKPK). Tak hanya itu, semoga menginspirasi adik-adik kelasnya dan anak-anak SD lainnya yang ada di Bondowoso untuk ikutan menulis. Saya bahagia, karena mereka semangat! 🙂

Salah satu komentar atas status fesbuk saya di atas, mengatakan, “Bisa menulis sudah menjadi juara!” Saya pun mengamini, karena sejatinya, berani menulis dan berani mengirimkannya adalah sifat para juara. Berani menulis itu hebat! Semoga ini tidak mematahkan semangat adik-adik menulis kelas menulis saya, tetapi malah menjadi pelecut motivasi bagi mereka untuk semakin semangat belajar, membaca dan menulis. Tidak hanya untuk mereka semoga saya pun semangat belajar, membaca dan menulis. Semoga! 🙂

Yuk, Dukung Ketika Mas Gagah Pergi Jadi Film!

cover baru ketika mas gagah pergi
cover baru ketika mas gagah pergi

Saya sejak kecil, alhamdulillah sudah kenal dunia buku, biasa di dongengi oleh Ummi. Akhirnya, saya pun suka membaca. Apapun itu, majalah aku anak Soleh, majalah mentari, komik Dragon Ball saya tamat, majalah bahasa inggris FUN dll. Awal masuk pondok saya hanya suka membaca buku-buku Islam non fiksi, cukup sering beli Majalah Sabili. Saya juga biasa mengingat nama-nama penulis buku, kebetulan saya mendapat tugas menjaga wartel untuk santri yang juga menjual buku-buku Islami. Kemudian sekitar kelas 3 KMI saya mencoba untuk membaca Ayat-Ayat Cinta kang Abik, Habiburrahman El Shirazy. Saya tertarik karena cukup banyak yang bilang novel ini bagus. Padahal sewaktu masih kelas 2 KMI ada ustadz yang suka membaca merekomendasikan novel karya alumni Al-Azhar Mesir itu. Tapi, waktu itu saya belum tertarik.

Setelah selesai membaca ‪#‎AAC‬, pandangan bahwa buku-buku fiksi memiliki manfaat dan bisa bernilai dakwah di dalamnya. Sejak itu saya mencoba menyukai karya fiksi. Langganan Majalah Annida dan membeli buku-buku fiksi Islami yang dimotori FLP. Cukup telat ternyata saya menyukai karya-karya FLP. Banyak buku-buku FLP yang belum saya baca, tetapi sudah jarang di pasaran. Waktu itu saya hanya dapati serial Marabunta Mba Afifah Afra Satu, di beberapa seri saja. Kemudian yang lain saya hanya dapat karya FLP yang terbaru saja.

Beberapa tahun kemudian saya membaca ada sebuah buku fiksi Islami yang memiliki banyak pengaruh bagi pembacanya. Salah satu pengaruhnya, pembaca akhirnya mau memakai jilbab. Buku itu berjudul‪#‎KetikaMasGagahPergi‬ nantinya disingkat ‪#‎KMGP‬, karya Bunda Helvy Tiana Rosa. Saya mencoba cari tahu tentang apa buku tersebut. Saya menemukan beberapa pdf tentang cerpen #KMGP tetapi tidak lengkap ceritanya. Mencari bukunya juga sudah tidak ada di pasaran. Saya cari-cari karya Bunda Helvy yang lain, hanya menemukan ‪#‎Bukavu‬

Saya penasaran. Dan akhirnya setelah saya kuliah di Malang dan mengetahui #KMGP telah diterbitkan ulang di Penerbit milik mba Asma Nadia, Penerbit Asma Nadia. Ketika ada Islamic Book Fair, saya membeli buku tersebut. Dengan adanya penambahan dalam cerpen #KMGP yang kemudian berjudul ‪#‎KetikaMasGagahPergiDanKembali‬.

Meski telat membaca full dan ada tambahan cerita. Kumpulan cerpen ini tidak mengecewakan saya. Saya sangat suka malah dan menjadi salah satu buku yang saya sukai. Semua cerpen di dalamnya bagus-bagus, menginspirasi, memotivasi. Bahkan saya sempat membuat resensinya dan dimuat di koran kampus.

Ketika ada kabar #KMGP akan dibuat film, wah saya senang sekali dan tak sabar untuk menonton. Terakhir kabar yang tersiar, sudah ada casting. Namun, ternyata pembuatan film #KMGP menunggu waktu yang tepat, waktu yang lebih indah-kata anak sekarang

Nah, bagi Anda pembaca buku-buku Bunda Helvy Tiana Rosa (HTR)khususnya #KMGP dan ingin sekali #KMGP difilmkan. Yuk, gabung di Grup Fb KMGPKita https://www.facebook.com/groups/kmgpkita/, untuk menyuarakan dukungan kita dan membantu proyek film ini semampu kita.

Yang mau baca resensi #KMGPhttp://ridhodanbukunya.wordpress.com/2012/03/25/inspirasi-dari-ketika-mas-gagah-pergi-new-edition/ semoga bermanfaat.

Yuk dukung #KMGP jadi film!

Ketika Mas Gagah Pergi Dan Kembali

Judul : Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembal
iPenulis : Helvy Tiana Rosa
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tahun Terbit : September, 2011 (Cetakan kedua)
Jumlah Halaman : 245 halaman.

Sebuah cerita pendek terkadang memang hanya menjadi sarana hiburan bagi sebagian pembaca, bahkan oleh penulisnya sendiri menulis sebuah cerpen hanya untuk menghibur pembacanya. Sehingga terkadang isi cerpen mudah tersampaikan, namun mudah pula dilupakan oleh pembacanya. Dalam kata lain, karena cerpen itu hanya menghibur pembacanya tanpa ada spirit inspirasi di dalamnya, maka itu bisa jadi penyebab kenapa cerita pendek tersebut mudah dilupakan.

Bagaimana dengan cerpen yang menginspirasi banyak orang ini, ‘Ketika Mas Gagah Pergi’. Sebuah cerpen remaja yang fenomenal karya Helvy Tiana Rosa di era 1990-an. Cerpen ini dianggap sebagai pelopor kebangkitan Sastra Islam Kontemporer di Indonesia kala itu. KMGP-singkatan cerpen ini- dianggap juga sebagai cerpen yang turut mempengaruhi semangat belajar Islam di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia. Tak hanya itu cerpen juga merupakan inspirator banyak muslimah yang akhirnya tersadar untuk memakai hijab, luar biasa.

Cerpen ini awalnya dimuat di Majalah Annida pada tahun 1993, menceritakan tentang Gita yang bercerita tentang masnya, Mas Gagah namanya. Gita heran dengan masnya, Mas Gagah berubah 100% persen. Mas Gagah yang supel dengan perempuan –teman-teman Gita-, selera musiknya rock, pakaian yang necis. Kini berubah dengan selalu berhati-hati berinteraksi dengan perempuan sampai menundukkan pandangan, music rock kini berganti Al-Qur’an dan nasyid, pakaian yang sering dia pakai sering baju koko plus shalat di masjid tepat waktu. Adik mana yang nggak kaget kakaknya berubah drastis begitu?

Awalnya perubahan Mas Gagah aneh bagi Gita, tapi dengan perubahan masnya itu, akhirnya dia juga mencoba merubah gaya tomboynya, sampai nanti di akhir cerita Mas Gagah meninggal akibat kecelakaan. Dan hal itu membuat Gita merasa kehilangan yang sangat, kehilangan masnya yang memberi cipratan hidayah untuknya, sejak itu pula dia ber’azzam menjadi muslimah yang baik sesuai syari’at Islam.

Cerpen fenomenal ini memang sangat menyentuh pembacanya, sentuhannya membangkitkan inspirasi untuk berbuat baik. Ini menunjukkan sentuhan hati penulis yang begitu dalam, Bunda Helvy menulis dengan hati. Tak ayal jika cerpen tersebut sudah terjual 10.000 ekslempar sebelum dicetak tahun 1997 oleh Pustaka Annida dengan cerpen-cerpen Helvy yang lain, dan pada tahun 2000 dicetak ulang oleh Syamil Cipta Media terus mengalami cetak ulang lebih dari 15 kali.

Dalam cetakan baru yang diterbitkan oleh Asma Nadia Publishing House, berjudul Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali. KMGP menjadi cerpen pertama, selain itu ada cerpen-cerpen lain yang juga menginspirasi. Cerpen-cerpen yang banyak berbicara tentang misteri hidayah yang tak bisa diterka kapan datangnya, tentang peristiwa di daerah-daerah Islam yang tertindas. Inilah cerpen-cerpen yang lahir dari hati yang bersih.

Bedanya, KMGP dalam edisi baru ini mengalami penambahan halaman menjadi novellet, yang dileburkan di dalamnya cerpen Helvy yang berjudul “Lelaki Tak Bernama”. Berawal dari 15 halaman, menjadi 64 halaman. Walau dilebur dengan cerpen lain, itu tak membuat KMGP kehilangan spiritnya. Hal itu, malah menambah spirit, karena cerpen yang dilebur itu juga cerpen yang juga banyak mendapatkan sambutan.

Ditambah lagi, cerita di dalamnya pun semakin bermakna. Satu hal yang saya tangkap, setiap yang hilang satu maka akan tumbuh lebih banyak lagi, maka akan tumbuh seribu lagi. Ketika Mas Gagah meninggal, maka akan lahir Mas Gagah-Mas Gagah berikutnya, maka akan terus lahir seribu Mas Gagah lagi yang akan menginspirasi banyak orang, menginspirasi semesta. Kiranya, tak berlebihan apa yang saya tangkap dari maksud Bunda Helvy meleburkan dua cerpen itu menjadi satu.

Ketika cerpen ini juga akan segera difilmkan, akhirnya saya tak sabar untuk menunggu, kapan film KMGP diputar di bioskop seluruh Indonesia. Di sisi lain juga saya penasaran, apakah nanti filmnya akan sama menginspirasi banyak orang, lebih dari itu atau bahkan tidak, semoga rasa penasaran saya ini berbuah baik, karena saya pribadi berharap baik, semoga.