Memiliki Buku

14068403_10206895203323570_942735099377625043_o

Memiliki buku bagi saya tidak hanya untuk dibaca sendiri, namun ada niatan lain yaitu membagi. Seperti membagi pembacaan saya atas sebuah buku melalui tulisan yang biasa saya kirim ke koran ataupun saya posting di blog.

Membagi pembacaan saya atas sebuah buku juga disampaikan secara lisan, dulu saat di Malang, saya membuat Klub Pecinta Buku Booklicious – Malang yang memiliki agenda pertemuan seminggu sekali untuk ngobrolin buku yang sedang dibaca atau telah dibaca dalam seminggu lalu (pertemuan semacam ini juga ingin saya lakukan di Bondowoso, masih mencari pecinta buku yang memiliki waktu untuk bertemu dan sharing). Selain itu saya biasanya menceritakan pembacaan saya atas sebuah buku kepada adik-adik yang saya temani belajar menulis di ekstrakurikuler kelas menulis sebagai pemicu untuk mulai menyenangi dunia membaca.

Selain membagi pembacaan atas sebuah buku melalui tulisan dan lisan, saya juga biasanya meminjamkan bukunya langsung untuk dibaca. Tapi, biasanya saya juga melihat orangnya dulu apakah bisa merawat buku dan apakah akan dikembalikan nantinya. Terkhusus untuk adik-adik kelas menulis, memang saya sengaja untuk membawa buku saat jadwal kelas menulis dan meminjamkan kepada mereka, agar yang tidak suka membaca menjadi suka membaca, juga agar bahan bacaan mereka bertambah sehingga lebih mempermudah proses belajar menulis mereka.

Sejatinya, memang sejak saya masih di Pondok Pesantren saya memiliki keinginan membuka Taman Baca, alhamdulillah buku-buku saya terus bertambah di antaranya banyak reward menulis resensi dari berbagai penerbit dan penulis. Saya juga biasanya memang sering request buku anak-anak kepada penerbit, karena sasaran saya lebih kepada generasi anak-anak kecil pra-sekolah hingga sekolah dasar. Karenanya, ketika membuka taman baca gratis di car free day alun-alun Bondowoso saya menempatkan buku anak-anak dan majalah Bobo di depan sendiri, agar anak-anak yang lewat ada ketertarikan untuk mampir dan membaca. Begitu juga untuk adik-adik kelas menulis yang sekolah dasar, buku-buku yang saya pinjamkan adalah buku dan majalah anak-anak dari seri KKPK hingga Majalah Bobo.

Peningkatan mutu pendidikan anak negeri melalui jalur literasi saya pilih sebagai jalan perjuangan, jalan jihad. Karena tidak bisa disangkal kemerdekaan salah satunya juga diawali oleh tokoh-tokoh yang gemar membaca juga menulis. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, Kartini, M. Natsir dan masih banyak yang lainnya.

“Aku rela dipenjara asal bersama buku,” ucap Bung Hatta ketika dipenjara, “karena bersama buku aku bebas.” Semakna pula dengan tagline KCB-Mataram (Kelompok Cinta Baca Mataram) yang digawangi Wak Ical, “Membaca itu merdeka!”

Begitulah, membaca adalah kebebasan juga kemerdekaan. Semoga di 71 tahun kemerdekaan negeri ini, semakin merata pembebasan buta aksara, semakin banyak orang membudayakan membaca, semakin besar kesadaran orang agar tidak asal bisa bicara juga nge-share informasi dunia maya tanpa mengetahui kebenarannya, semakin maju pendidikan Indonesia, semakin berprestasi anak negeri, juga semakin luas jalan anak negeri berprestasi untuk mengabdi untuk negeri sendiri.

Mari ambil kaca, apa yang sudah kita berikan untuk negeri ini. -Anies Baswedan

*adik-adik kelas menulis di SD Plus Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso.

Cara Melihat Jumlah Kata Dalam Microsoft Word

Bagi seorang penulis, dosen, mahasiswa, guru, atau bahkan murid, ada tugas menulis dengan berbagai ketentuan. Salah satunya harus ditulis sebanyak bla-bla-bla kata. Nah, masih ada yang belum tahu bagaimana cara melihat jumlah kata dalam microsoft word, khususnya bagi yang baru belajar menggunakan komputer. Saya mencoba memberi tips, sebenarnya mudah kok.

  1. Bukalah microsoft word. 1
  2. Cek yang saya lingkari. Jika tidak ada tulisan maka, jumlah word atau kata adalah nol.2
  3. Kemudian tulisan apa yang ingin ditulis. Lalu cek lagi yang saya lingkari, jumlah kata sudah ada yaitu 455 words.3
  4. Tambahan. Mungkin ada yang bingung juga bagaimana cara mengatur spasi. Klik saja tanda ini, 6. Tinggal dipilih, spasi 1,0, spasi 1,5, dan lain-lain.
  5. Cek dua gambar di bawah.
    4
    1
    5
    2

    Yang pertama spasi 1,0, yang kedua spasi 1.15. Ada perbedaannya kan?   Alhamdulillah selesai sharing sederhana ini,  semoga ada manfaatnya. Mudah kan? 🙂

(Kelompok) Islam

nancy beyer

Apakah boleh berbangga dengan kelompok Islam? Boleh. Namun, jangan berlebihan. Berbanggalah dengan Islamnya. Konstribusi kelompok terhadap Islam tidak diragukan banyaknya, namun tidak sedikit pula karena urusan kelompok, ukhuwah renggang, mau menang sendiri, mau benar sendiri, merasa bukan saudara, bahkan memvonis kafir. Tidak sedikit kisah mengiris hati, hingga tak sanggup menahan air mata hanya karena berbeda kelompok meski sesama Muslim. Selama perbedaan pada hal yang dibolehkan juga memiliki dasar sesuai ahlussunnah wal jama’ah, pahamilah dan berlapang dadalah!

Jangan sampai ‘musuh’ tertawa dan bertepuk tangan atas sikap bercerai-berai kita.

credit: Nancy Byer

Manusia dan Pencipta

sail

Apalah daya manusia tanpa Sang Pencipta. Maka, meminta pertolongan kepada-Nya, adalah keniscayaan. Karena hanya Dia yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas kehidupan manusia. Meminta pertolongan kepada Allah dengan cara bersabar dan mengerjakan shalat.

Insya Allah, Allah akan menolong cepat atau lambat. Insya Allah, yakinlah! 🙂

*credit: Maximilian Weisbecker

 

Tunas Cahaya

IMG_7599
Kita adalah tunas
yang disiram di sepertiga malam
dengan air bak zam-zam
mata air tercurah nan berkhasiat

Kita adalah bebunga
yang tumbuh di kebun cahaya
berkembang merekah indah
mewangi mewarnai dunia

: terima kasih atas
segala siram yang tak terhingga

semoga Allah curahkan berkah tak terkira

*oleh-oleh temu alumni nasional Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso 15-17 Juli 2016, credit:Abdurrahman Abdullah

 

Berani Menulis Itu Hebat

1411491286483391052
sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/1411491286483391052.jpg?t=o&v=760

Baru saja salah satu dari adik-adik saya yang mengikuti kelas menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso, mengirim inbox ke saya. Intinya, dia meminta maaf kalau dia dan salah satu temannya yang ikut lomba juga, tidak bisa membahagiakan saya karena belum menang lomba menulis cerpen PECI yang diadakan oleh Penerbit Indiva. Selamat ya adik-adik yang menjadi juara!

Wah, saya terharu. Padahal ya saya juga hanya membagi ilmu menulis cuma segitu aja, ya karena ilmu menulis saya sementara begitu aja, dan saya nggak minta mereka menang. Mereka mau dan berani menulis, kemudian mau dan berani mengirimkan untuk mengikuti lomba saja saya sudah senang. Saya kemudian jawab, “Lha gpp, santai aja, yang penting pengalaman. Ayo baca buku lagi, cari ide lagi, nulis lagi, nulis cerpen lagi, nulis puisi lagi, ngirim ke bobo, ngirim ke kompas dll. Semangat ya!”

“Siaaapp kak. Aku sma zahro udh ada judul, terus udh ada cerita nya. Jd tinggal ngelanjutin. Tp kalo beberapa minggu ini aku gak bisa ngelanjutin cerita nya. Kalo tangan ku udah normal baru nulis lagi kak,” jawab adik itu melalui inbox. Kabarnya tangannya memang pernah patah dan dioperasi, dan sekarang tangannya akan dioperasi lagi.

Semoga operasinya lancar, dan bisa menulis lagi. Semoga bisa mengikuti jejak Ayu (satu-satunya anak Bondowoso yang menulis buku KKPK). Tak hanya itu, semoga menginspirasi adik-adik kelasnya dan anak-anak SD lainnya yang ada di Bondowoso untuk ikutan menulis. Saya bahagia, karena mereka semangat! 🙂

Salah satu komentar atas status fesbuk saya di atas, mengatakan, “Bisa menulis sudah menjadi juara!” Saya pun mengamini, karena sejatinya, berani menulis dan berani mengirimkannya adalah sifat para juara. Berani menulis itu hebat! Semoga ini tidak mematahkan semangat adik-adik menulis kelas menulis saya, tetapi malah menjadi pelecut motivasi bagi mereka untuk semakin semangat belajar, membaca dan menulis. Tidak hanya untuk mereka semoga saya pun semangat belajar, membaca dan menulis. Semoga! 🙂