Membeli Buku

13239253_10206332876905761_1382335321472006081_n

Alhamdulillah, itu yang saya ucapkan ketika datang untuk menemani kelas menulis kemarin siang. Adik-adik yang mengikuti kelas menulis punya inisiatif keren agar menumbuhkan minat baca teman-temannya. Masing-masing mereka membeli cukup banyak buku (kebetulan ada bazar buku murah MMU di Perpusda Bondowoso), dan mereka membawa buku-buku yang mereka beli itu ke sekolah. Mereka menaruh buku-buku tersebut di rak yang tidak dipakai, dan memperbolehkan teman-temannya untuk membaca selama istirahat.

Alhamdulillah, semoga ini merupakan salah satu angin segar budaya literasi di generasi muda yang ada di Bondowoso

Memiliki Buku

14068403_10206895203323570_942735099377625043_o

Memiliki buku bagi saya tidak hanya untuk dibaca sendiri, namun ada niatan lain yaitu membagi. Seperti membagi pembacaan saya atas sebuah buku melalui tulisan yang biasa saya kirim ke koran ataupun saya posting di blog.

Membagi pembacaan saya atas sebuah buku juga disampaikan secara lisan, dulu saat di Malang, saya membuat Klub Pecinta Buku Booklicious – Malang yang memiliki agenda pertemuan seminggu sekali untuk ngobrolin buku yang sedang dibaca atau telah dibaca dalam seminggu lalu (pertemuan semacam ini juga ingin saya lakukan di Bondowoso, masih mencari pecinta buku yang memiliki waktu untuk bertemu dan sharing). Selain itu saya biasanya menceritakan pembacaan saya atas sebuah buku kepada adik-adik yang saya temani belajar menulis di ekstrakurikuler kelas menulis sebagai pemicu untuk mulai menyenangi dunia membaca.

Selain membagi pembacaan atas sebuah buku melalui tulisan dan lisan, saya juga biasanya meminjamkan bukunya langsung untuk dibaca. Tapi, biasanya saya juga melihat orangnya dulu apakah bisa merawat buku dan apakah akan dikembalikan nantinya. Terkhusus untuk adik-adik kelas menulis, memang saya sengaja untuk membawa buku saat jadwal kelas menulis dan meminjamkan kepada mereka, agar yang tidak suka membaca menjadi suka membaca, juga agar bahan bacaan mereka bertambah sehingga lebih mempermudah proses belajar menulis mereka.

Sejatinya, memang sejak saya masih di Pondok Pesantren saya memiliki keinginan membuka Taman Baca, alhamdulillah buku-buku saya terus bertambah di antaranya banyak reward menulis resensi dari berbagai penerbit dan penulis. Saya juga biasanya memang sering request buku anak-anak kepada penerbit, karena sasaran saya lebih kepada generasi anak-anak kecil pra-sekolah hingga sekolah dasar. Karenanya, ketika membuka taman baca gratis di car free day alun-alun Bondowoso saya menempatkan buku anak-anak dan majalah Bobo di depan sendiri, agar anak-anak yang lewat ada ketertarikan untuk mampir dan membaca. Begitu juga untuk adik-adik kelas menulis yang sekolah dasar, buku-buku yang saya pinjamkan adalah buku dan majalah anak-anak dari seri KKPK hingga Majalah Bobo.

Peningkatan mutu pendidikan anak negeri melalui jalur literasi saya pilih sebagai jalan perjuangan, jalan jihad. Karena tidak bisa disangkal kemerdekaan salah satunya juga diawali oleh tokoh-tokoh yang gemar membaca juga menulis. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, Kartini, M. Natsir dan masih banyak yang lainnya.

“Aku rela dipenjara asal bersama buku,” ucap Bung Hatta ketika dipenjara, “karena bersama buku aku bebas.” Semakna pula dengan tagline KCB-Mataram (Kelompok Cinta Baca Mataram) yang digawangi Wak Ical, “Membaca itu merdeka!”

Begitulah, membaca adalah kebebasan juga kemerdekaan. Semoga di 71 tahun kemerdekaan negeri ini, semakin merata pembebasan buta aksara, semakin banyak orang membudayakan membaca, semakin besar kesadaran orang agar tidak asal bisa bicara juga nge-share informasi dunia maya tanpa mengetahui kebenarannya, semakin maju pendidikan Indonesia, semakin berprestasi anak negeri, juga semakin luas jalan anak negeri berprestasi untuk mengabdi untuk negeri sendiri.

Mari ambil kaca, apa yang sudah kita berikan untuk negeri ini. -Anies Baswedan

*adik-adik kelas menulis di SD Plus Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso.

Berani Menulis Itu Hebat

1411491286483391052
sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/1411491286483391052.jpg?t=o&v=760

Baru saja salah satu dari adik-adik saya yang mengikuti kelas menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso, mengirim inbox ke saya. Intinya, dia meminta maaf kalau dia dan salah satu temannya yang ikut lomba juga, tidak bisa membahagiakan saya karena belum menang lomba menulis cerpen PECI yang diadakan oleh Penerbit Indiva. Selamat ya adik-adik yang menjadi juara!

Wah, saya terharu. Padahal ya saya juga hanya membagi ilmu menulis cuma segitu aja, ya karena ilmu menulis saya sementara begitu aja, dan saya nggak minta mereka menang. Mereka mau dan berani menulis, kemudian mau dan berani mengirimkan untuk mengikuti lomba saja saya sudah senang. Saya kemudian jawab, “Lha gpp, santai aja, yang penting pengalaman. Ayo baca buku lagi, cari ide lagi, nulis lagi, nulis cerpen lagi, nulis puisi lagi, ngirim ke bobo, ngirim ke kompas dll. Semangat ya!”

“Siaaapp kak. Aku sma zahro udh ada judul, terus udh ada cerita nya. Jd tinggal ngelanjutin. Tp kalo beberapa minggu ini aku gak bisa ngelanjutin cerita nya. Kalo tangan ku udah normal baru nulis lagi kak,” jawab adik itu melalui inbox. Kabarnya tangannya memang pernah patah dan dioperasi, dan sekarang tangannya akan dioperasi lagi.

Semoga operasinya lancar, dan bisa menulis lagi. Semoga bisa mengikuti jejak Ayu (satu-satunya anak Bondowoso yang menulis buku KKPK). Tak hanya itu, semoga menginspirasi adik-adik kelasnya dan anak-anak SD lainnya yang ada di Bondowoso untuk ikutan menulis. Saya bahagia, karena mereka semangat! 🙂

Salah satu komentar atas status fesbuk saya di atas, mengatakan, “Bisa menulis sudah menjadi juara!” Saya pun mengamini, karena sejatinya, berani menulis dan berani mengirimkannya adalah sifat para juara. Berani menulis itu hebat! Semoga ini tidak mematahkan semangat adik-adik menulis kelas menulis saya, tetapi malah menjadi pelecut motivasi bagi mereka untuk semakin semangat belajar, membaca dan menulis. Tidak hanya untuk mereka semoga saya pun semangat belajar, membaca dan menulis. Semoga! 🙂

7 Tanda Cinta Rasul

sumber: http://islamforchristians.com/
        sumber: http://islamforchristians.com/

Mencintai adalah fitrah manusia. Namun, tiada yang lebih berhak dan utama untuk dicintai di dunia ini kecuali Allah dan Rasul-Nya. Sebab tak seorang pun di akhirat kelak yang ingin masuk neraka, maka menjadi penghuni surga dan berdekatan dengan Rasulullah adalah dambaan.

Rasulullah pernah menyabdakan bahwa seseorang akan bersama yang dia cintai di akhirat kelak. Jika kadar cintanya lebih besar kepada selain Rasulullah, maka dia tidak akan bersama Rasulullah di akhirat kelak. Sebaliknya, jika Rasulullah menjadi cinta utama setelah Allah, maka di surga dia akan berdekatan dengan Rasulullah. Masya Allah, betapa indahnya.

Lalu bagaimana bukti atau tanda cinta kepada Rasulullah? Ustadz Syafiq Riza bin Basalamah dalam pengajian di Masjid Al-Furqo, Maesan, Bondowoso (5 Januari 2016) mengatakan setidaknya ada tujuh tanda.

Pertama, percaya dan yakin kepada Rasulullah.

Kedua, berhukum dengan hukumnya.

Ketiga, mengikuti sunnah Rasul.

Keempat, mencintai segala sesuatu yang Rasul cintai.

Kelima, banyak mengingat Rasul.

Keenam, sering membaca sirah Nabi.

Ketujuh, sering bershalawat kepada Nabi.

Percaya dan yakin kepada Rasulullah tidak cukup dengan perkataan, “Aku cinta Nabi, Aku cinta Rasul.” Namun, di sisi lain tidak berhukum dengan hukumnya, tidak meneladaninya, tidak mengikuti sunnahnya.

Sahabat Nabi sebagai generasi terbaik, mereka benar-benar membuktikan kecintaan mereka kepada Nabi, dengan taat dan mengikuti apa yang Rasulullah lakukan. Seperti ketika Rasulullah mengatakan untuk merapatkan shaf jamaah ketika akan shalat, sahabat langsung melaksanakan tanpa interupsi atau pertanyaan. Ada banyak cerita tentang Rasul dan sahabatnya yang disampaikan oleh Ustadz Syafiq dalam kesempatan ini.

Suatu ketika Anas bin Malik melihat Rasulullah memakan sesuatu yang tidak disukai oleh Anas. Setelah melihat itu, Anas kemudian mencoba untuk menyukai makanan yang disukai oleh Rasulullah tersebut. Dalam lain kisah, ketika di dalam masjid Rasulullah menyuruh kepada para sahabat untuk duduk, ketika itu Ibnu Mas’ud masih di depan pintu. Mendengar Rasulullah menyuruh para sahabat duduk, Ibnu Mas’ud pun duduk di depan pintu. Melihat Ibnu Mas’ud duduk di depan pintu, Rasulullah memanggilnya untuk duduk di dalam masjid. Masya Allah, betapa taatnya generasi pertama Islam kepada Rasulullah.

Begitu juga sikap mereka terhadap sunnah Nabi, para sahabat radhiyaallahu ‘anhum tidak pernah menawar dan menolak dan berkata, “Ini kan hanya sunnah.” Sungguh dalam sunnah itu ada banyak kebaikan, misalnya dalam sunnah rawatib. Kita sadar betul bagaimana sulitnya mengkhusyukkan diri dalam shalat. Kita tahu betul, bahwa shalat kita seringkali masih banyak kurangnya. Maka, dengan sunnah rawatib, kekurangan kita tersebut akan ditembel atau akan membaikkan nilai shalat kita. Semoga kita dimudahkan dalam mengikuti sunnah Rasulullah.

Mengenal Rasulullah lebih dalam lagi dengan membaca sirah-nya, akan semakin membuat kita cinta kepada beliau. Dengan membaca sirah, kita pun akan tahu betapa berat ujian, tantangan, perjuangan dakwah beliau. Sangat berbeda, dengan kita, jauuh sekali perbedaannya. Dengan mengetahui, memahami dan merenungi kisah hidup Rasulullah, insya Allah akan semakin tumbuh benih cinta kita kepadanya.

Selain membaca sirah Rasulullah, mengenal kehidupan orang-orang yang beliau cintai yakni para sahabat beliau juga akan menambah cinta kita kepada Rasulullah. Dengan mengenal para sahabatnya, kita akan semakin tahu betapa cinta para sahabat sangat besar dan kita pun termotivasi untuk semakin memupuk rasa cinta kita kepada beliau.

Dengan semakin bertambahnya rasa cinta kita kepada Rasulullah, maka buktikan di antaranya dengan mengikuti sunnahnya, mencintai sahabatnya, dan banyak bershalawat padanya. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, wa shohbihi wa man tabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddiin. Semoga Allah limpahkan shalawat kepada Rasulullah Muhammad ShallaAllahu ‘alaihi wa Sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, juga kepada pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, semoga kita semua termasuk di dalamnya. Aamiin….

Asyiknya Menulis Resensi

Contoh Resensi saya atas buku Sekali, Hidup Sepenuh Hati di Majalah Motivasi Nasional Milik Andrei Wongso Edisi Nopember
Contoh Resensi saya atas buku Sekali, Hidup Sepenuh Hati di Majalah Motivasi Nasional Milik Andrei Wongso Edisi Nopember

Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa menulis resensi buku, tidak memiliki keistimewaan. Karena hanya menulis dan mengomentari karya orang. Dulunya saya pun menganggap begitu. Dulu saya menganggap menulis resensi buku tidak wow, ketimbang menulis puisi, cerpen atau artikel di media massa. Saya kadang juga menulis resensi buku, tapi gak sering seperti sekarang. Dulu menulis resensi buku karena iseng setelah baca satu buku, karena buku yang dibaca bagus sekali versi saya.

Ada kakak kelas saya di pondok yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, dapat buku dan fee juga. Saya waktu itu kurang respon. Kemudian ada teman fesbuk seorang penulis yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, bisa dapat buku gratis. Dia memperlihatkan buku-buku yang dia dapatkan secara gratis dari penerbit. Nah dari itu, saya akhirnya penasaran!

Saya pun mencoba menulis resensi buku sekaligus pede mengirimkannya ke media. Setelah beberapa lama, dimuatlah satu persatu, Alhamdulillah. Saya pun ketagihan untuk menulis resensi buku. Ini alasannya, pertama karena dapat buku gratis dari penerbit, kadang lebih dari satu buku bisa sampai lima buku lebih dari satu kali meresensi. Kedua, saya dapat fee baik dari media ataupun penerbit. Bahkan, waktu masih di Malang saya juga dapat honor apresiasi dari Kemahasiswaan. Asyik ya! 😀

Selain itu asyiknya meresensi adalah bisa jadi ajang berkenalan dengan penulisnya. Asyiknya juga kenal dengan marketing penerbit, setelah kenal biasanya mereka akan mengundang kita jika ada kegiatan penerbit atau lagi liburan ke tempat yang kita tempati. Beberapa kali saya bertemu dengan marketing penerbit yang lagi ada kegiatan di Malang atau lagi liburan ke Malang. Nggak hanya sekedar bertemu, ngobrol, selfie aja, biasanya juga dapat bingkisan dari mereka. Kadang buku aja, kadang buku plus kaos, cangkir, goodie bag. Asyik kan? 😀

Ada lagi nih yang asyik bagi saya, karena menulis resensi buku saya jadi bisa terbang ke Jakarta gratis PP. Waktu itu, tepatnya 22 Desember 2013 saya terpilih jadi pembicara di acara Gagas Media, Kumpul Penulis dan Pembaca 2013. Saya diminta  mengisi talkshow tentang menulis resensi buku. Saya nggak nyangka awalnya. Alhamdulillah, rejeki. Asyik nggak nih? 😀

Di awal Ramadhan tahun lalu saya juga diundang Penerbit Mizan ke Jakarta untuk menghadiri acara mereka. Saya diberi uang untuk tiket kereta PP. Ini nih rejeki jadi peresensi buku! Saya mulai aktif menulis resensi buku sejak tahun 2012, sampai saat ini buku gratis saya sudah 500an buku lho, Alhamdulillah wa asyik kan? 😀

Gimana, pengin menulis resensi buku? Bingung mau nulis resensi itu gimana? Saran saya cob abaca contoh-contoh resensi yang ada di media massa atau blog, Cuma gunakan teori ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Kalau masih sulit, coba Ini nih pengalaman saya dalam menulis resensi:

  1. Memilih buku baru untuk diresensi. Misalnya sekarang tahun 2015, kita pilih buku-buku terbitan tahun 2015. Karena semua media cetak hanya memuat resensi buku yang baru. Kalau media online ada juga yang memuat resensi buku-buku lama.
  2. Membaca buku sampai selesai dengan teliti dan serius. Jangan sampai ada kata yang terlewatkan. Catat apa-apa yang penting dalam buku yang kiranya akan dimasukkan dalam resensi, selain itu juga bisa menulis kesalahan tulis kata, EYD, tanda baca.  Juga kata-kata atau kalimat yang menarik yang mungkin bisa dijadikan menjadi salah satu paragraf dalam resensi. Kalau malas menulis, saat ini ada panahan yang bisa ditempel ke buku, untuk menandai bagian-bagian yang akan dimasukkan dalam resensi. Manfaat panahan juga agar buku tidak perlu dilipat, sehingga tidak rusak.
  3. Selesai membaca segeralah untuk menulis resensinya, agar tidak kedahuluan resensor lain menulis resensi buku yang sama. Ini bukan tidak mungkin, dan ini cukup sering saya alami, kedahuluan orang.
  4. Cara saya menulis resensi:
  5. Jika buku kumpulan tulisan dengan satu tema sama, saya meringkas semua tulisan itu sebagai isi resensi. Kadang pula saya hanya mengambil beberapa bagian yang menarik untuk saya ceritakan dalam resensi. Jika novel, saya menceritakan dengan singkat isi novel.
  6. Karena resensi buku tidak hanya sekedar mereview sebuah buku. Maka di dalamnya juga ada sanjungan kelebihan sebuah buku, kritik dan saran terhadap sebuah buku. Juga perbandingan dengan buku bertema sama yang ditulis penulis lain, buku-buku yang ditulis oleh penulis yang sama. Termasuk juga resensi resensor lain tentang buku yang kita resensi di media lain mungkin ada kesalahan resensi atau kesalahan pengambilan data dalam buku yang dia resensi, maka kita perbaiki dalam resensi yang kita tulis.
  7. Soal judul memang biasanya agak lama saya berfikir mencari yang menarik. Karena kepala tulisan menjadi awal sebuah resensi akan dibaca atau tidak. Biasanya saya mengambil salah satu sub judul di kumpulan tulisan yang saya resensi. Biasanya juga mencari tema pokok sebuah buku yang diracik menjadi judul yang menarik.
  8. Setelah jadi kirimlah ke media cetak dahulu, kemudian jika lama tak ada kabar kirimlah ke media online saja. Cukup banyak media online yang menerima naskah resensi dari penulis lepas. Tapi alangkah baiknya, kirim ke media cetak terlebih dahulu, karena banyak sekali media cetak yang menerima resensi saat ini.
  9. Nah, bila sudah ada resensi kita yang dimuat di sebuah media, baik cetak atau online. Kirimlah email ke email penerbit buku yang Anda resensi. Dengan isi bahwasanya resensi karya Anda tentang buku terbitan penerbit tersebut dimuat di media blab la bla. Misal ini yang biasanya saya kirim:

Kepada: Yth. Penerbit Metagraf (Tiga Serangkai) Pak Kurniawan. di Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Bersama ini penulis kirimkan link http://annida-online.com/artikel-6468-pengusaha-emperan-penghasilan-milyaran.html Resensi yang berjudul Pengusaha Emperan Penghasilan Milyaran yang dimuat di Annida Online 19 Desember 2012. Saya sertakan juga softfilenya.

Resensi tersebut merupakan resensi atas buku terbitan Metagraf, yang berjudul: Emperpreuner, karya Wahyu Liz Adaideaja. Besar harapan penulis, pihak Tiga Serangkai dapat melanjutkan kerjasama dibidang peresensian ini. Untuk itu penerbit dapat mengirimkan buku terbitan terbaru kepada penulis untuk diresensi atau dalam bentuk yang lain. Gajah Mada yang 1,2,3 kalau ada boleh yang lain juga. Terima kasih 🙂

Berikut biodata saya, bila diperlukan:

Muhammad Rasyid Ridho

Alamat Jln Myj Panjaitan No 26 Dabasah Bondowoso Jawa Timur

No Hp: 085933138891

No Rek BNI cabang UMM an M.Rasyid Ridho 02027*****

Demikian surat ini penulis sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya penulis sampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Salam Hormat, Peresensi,

Muhammad Rasyid Ridho

  1. Terakhir, Taraaa! selamat menunggu kiriman buku gratis sampai ke rumah Anda.

Yup, saya kira ini yang bisa saya bagi kepada teman-teman sekalian, silakan jika ada pertanyaan. Jika bisa saya akan jawab 😀

berkaitan dengan dua artikel lain saya.

1. https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2012/12/30/mau-dapat-buku-gratis-tulislah-resensi/

2. https://penulispembelajar.wordpress.com/2013/11/20/daftar-media-yang-menerima-resensi-buku/

*pernah menjadi bahan diskusi di grup kompilasi 50 hari Pak Nassirun Purwokartun.

Berbagi dan Menginspirasi Melalui Profesi

IMG-20130915-WA002
Kelas Inspirasi Malang

“Coba siapa yang bisa sebutkan nama panjang kakak?”

“Kalau nggak ada yang bisa kakak nggak akan beri sesuatu deh”
Siswa-siswi kelas empat masih tak ada yang menjawab. Kemudian Ayu bertanya, “Siapa yang tahu Nasution itu di mana?” Tidak ada yang tahu juga.

Ayu bilang Pulau Sumatera, dan anak-anak dengan suara rebutan menyebutkan Aceh. Karena salah Ayu membenarkan daerah asalnya dari Medan.

IMG_4452
doc pribadi

            Tripod sudah terpasang. Ayu mengatakan bahwa akan memberi ilmu tentang dunia fotografi. Namun, entahlah anak-anak kelas 4 masih diam walau mata dan kepala mereka menoleh kanan-kiri.

            Ayu memulai dengan memberi teknik pengambilan foto. Sebelumnya Ayu bertanya, ada apa saja kira-kira? Anak-anak tidak ada yang tahu. Ayu mengatakan yang pertama, bird eye.

Relawan mengajari salah satu siswi yang ingin praktik human eye
doc pribadi

            “Ayo adek-adek apa arti bird?”

            “Burung” beberapa mereka menyahut.

            “Betul, kalau eye?” 

            “Mata” beberapa dari mereka lagi yang menyahut.

            “Jadi ini apa maksudnya?”

            “Mata burung” salah satu dari anak kelas empat menjawab.

            “Nah betul itu, jadi cara mengambilnya foto seperti mata burung. Gimana mata burung itu adek-adek?”

            Mereka diam seperti berpikir. Lalu ada yang memperagakan kalau burung matanya lihat ke bawah ketika dia terbang.

Praktik tekhnik bird eye oleh salah siswa
doc pribadi
praktik frog eye dengan mode;
doc pribadi
praktik human eye memakai tripod
doc pribadi

            Ayu pun mencari anak yang mau mempraktikannya tanpa kamera dulu. Ada satu anak yang memberanikan diri. Setelah ada satu anak memberanikan diri yang lain pun ikut berani. Tapi rata-rata hanya laki-laki yang berani. Yang perempuan masih malu. Mereka mau kalau dipaksa.

            Teknik kedua dan ketiga adalah human eye dan frog eye. Anak-anak semakin tertarik dengan paparan Ayu. Anak-anak seakan nggak bosan karena Ayu menyelingi dengan praktik langsung. Ketika Ayu bertanya, “Siapa yang ingin menjadi fotografer?” ada di antara mereka yang mengacungkan jari. Ketika Ayu bertanya, “siapa yang ingin jadi yang difoto?” ada beberapa di antara mereka mengacungkan jari.

            Setelah banyak dari putra yang praktik langsung dengan memegang kamera, siswi juga ingin ternyata. Mereka malah meminta untuk mencoba, Ayu pun senang karena respon anak-anak baik, bahkan bisa dibilang sangat. Setelah menjadi fotografer gentian menjadi modelnya. Mereka sangat antusias.

            Ini hari di mana saya menjadi seorang relawan menjadi seorang fotografer. Bila sebelumnya saya menjadi pembicara jurnalistik atau menulis. Sekarang tugas saya lain, yakni menjadi pembidik objek dengan kamera. Ingin sih menjadi relawan pengajar, tapi rasanya belum apa-apa saya dalam menulis. Buku solo saja belum. Karenanya saya memilih menjadi fotografer saja walau masih amatiran sebagai partisipasi saya dalam acara yang sangat baik seperti Kelas Inspirasi.

            Kelas Inspirasi. Sekilas tahu dari fesbuk kalau ini adalah salah satu sub kegiatan yang diadakan oleh Indonesia Mengajar yang didirikan oleh Pak Anies Baswedan. Indonesia Mengajar sendiri sudah cukup terkenal, sekarang sudah angkatan ke tujuh dan sudah dibuka angkatan ke delapan. Bahkan sudah dua angkatan yang saya tahu telah menulis kisah perjuangan mereka ketika menjadi pengajar muda di pulau-pulau pelosok.

            Dengan menjadi relawan fotografer saya jadi tahu seperti apa sebenarnya kegiatan ini. Karena tidak menutup kemungkinan di masa depan kelak saya bisa beralih menjadi relawan pengajar. Ya, jika memang saya benar-benar pantas sih.

            Saya dikumpulkan bersama teman-teman kelompok 11. Kami ditempatkan di sebuah SD negeri yang masih di daerah kota namun sudah masuk-masuk dan mewah (mepet sawah).

            Ketika hari sabtu seluruh relawan diundang untuk menyatukan visi, kelompok 11 berkumpul da nada guru SD dari tempat yang akan kami datangi nanti. Mereka mengatakan bahwa SD mereka biasa, yang membuat bayangan saya ya nggak bagus seperti ketika saya datang ke sana waktu survey.

            Namun memang jika dibandingkan dengan SD lain, sarana dan prasarana SD tempat kami ditugaskan masih kurang. Namun saya melihat hal tersebut tidak menggoyahkan semangat anak-anak SD Bandulan 5 dan mereka masih bisa tersenyum.

            Terbukti ketika hari H, mereka semua memakai baju khas pahlawan sebagai peringatan Hari Pahlawan 10 November. Ketika kami membuka acara dengan yel-yel penyemangat dan chicken dance mereka sangat antusias dan senang. Terlihat dari wajah unyu dan polos mereka.

            Di kelas lain ada Mas Edi Suprayitno, seorang programmer yang menjadi relawan pengajar. Mas Edi banyak bercerita bagaimana berdarah-darahnya dia untuk sekolah hingga menjadi seorang programmer sekarang. Tidak seperti di kelas Ayu, kelas Mas Edi lebih sunyi karena dia banyak cerita. Namun, saya kira inti pembicaraan Mas Edi bisa diambil oleh anak-anak SD ini sebagai inspirasi dan motivasi untuk meraih cita-cita, semoga.

Mas Edi Suprayitno
doc pribadi
Pak Amin Sobirin berkenalan
doc pribadi
relawan bercerita tengtang orang cacat yang sukses
doc pribadi
Siap Bertempur dalam arti menuntut ilmu
doc pribadi
siswa-siswi menggambar dan menulis apa cita-citanya4
doc pribadi
Sebelum masuk kelas relawan mengajak siswa-siswa Chicken Dance dulu
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama guru SDN Bandulan 5 Malang1
doc pribadi
Fasilitator relawan foto bersama murid dan guru SDN Bandulan 5 Malang3
doc pribadi

            Pengajar terakhir ada Pak Amin Sobirin dari Bentoel. Seperti Mas Edi, Pak Amin banyak berbicara namun kelebihannya dia memakai laptop dan proyektor sehingga anak-anak juga tidak terlalu bosan dan semakin hidup inspirasinya karena ada visualisasi.

            Pak Amin yang paling tua di antara relawan juga fasilitator menjadi yang kami ikuti (pemimpin). Memang juga saran-sarannya bagus. Tak jarang kami langsung mengiyakan saja. Seperti ada yel-yel juga chicken dance usulan pak Amin dan memang tarian itu hanya Pak Amin yang bisa, hehe.

            Sebagai awal perkenalan menari sambil tertawa cukup menyambungkan antara relawan dan para murid. Hingga akhir acara, walau molor dari perencanaan murid SDN Bandulan 5 masih antusias. Dari permintaan kami agar mereka menulis dan menggambar apa cita-cita mereka kelak di kertas yang kami bagikan. Yang saya lihat ada di antara mereka menggambar pemain bola yang berarti dia ingin menjadi pemain sepak bola. Kertas itu kamis suruh untuk ditempelkan di kamarnya agar terus dibaca dan menjadi motivasi terus-menerus bagi mereka, semoga mampu diraih segala cita-cita mereka.

            Akhirnya, di Kelas Inspirasi ini saya tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam memotret. Namun saya juga mendapatkan persaudaraan, tulus berbagi, tulus menginspirasi, dan berbakti dengan melakukan tindakan nyata walaupun kecil dan hanya sehari. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dari tahun ke tahun dan saya bisa kembali berpartisipasi. Mari menginspirasi dan berbagi melalui profesi!

14 November 2013 sehabis shubuh yang dingin