Mengenalkan Buku Kepada Adik

16423142_10208249064809261_5347814824651514378_o.jpg

Alhamdulillah, hari ini usianya sudah 5 tahun. Semoga menjadi anak shalihah, sehat dan barakah ya adik Arfa Nazihah Ashri.

Sebagai seorang kakak, saya mengenalkan dia kepada buku. sejak dia hanya didongengkan oleh Ummi, sampai sekarang saat dia sudah mulai bisa mengeja huruf. Beberapa buku anak, biasanya saya dapat dari request kepada penerbit sebagai reward dari menulis resensi, tidak hanya bermodal resensi jika ada rezeki pun saya membeli buku anak juga. Selain untuk dibaca oleh adik saya, juga untuk saya bawa ketika membuka taman baca di Car Free Day Alun-alun Bondowoso (wah, jadi kangen buka taman baca lagi). Alhamdulillah, dia sudah mengenal buku, dan bahkan kadang minta dibelikan,  “Mas Adik belikan buku Naura-seri Naura Penerbit NouraBooks- yang ini ya, buku ini dan itu ya, dan bahkan salah satu permintaannya dari beberapa permintaannya ketika doa setelah shalat adalah meminta buku baru

Alhamdulillah, sebelum 6 februari, request saya atas buku anak karya Mbak Tethy  Ezokanzo dikabulkan oleh penerbit dan sampai. Jadilah ini buku baru di hari lahirnya. Semoga semakin mencintai buku dan ilmu ya Dik. Menjadi ahli ilmu yang mengamalkan menyebarkannya, aamiin… 🙂

Membeli Buku

13239253_10206332876905761_1382335321472006081_n

Alhamdulillah, itu yang saya ucapkan ketika datang untuk menemani kelas menulis kemarin siang. Adik-adik yang mengikuti kelas menulis punya inisiatif keren agar menumbuhkan minat baca teman-temannya. Masing-masing mereka membeli cukup banyak buku (kebetulan ada bazar buku murah MMU di Perpusda Bondowoso), dan mereka membawa buku-buku yang mereka beli itu ke sekolah. Mereka menaruh buku-buku tersebut di rak yang tidak dipakai, dan memperbolehkan teman-temannya untuk membaca selama istirahat.

Alhamdulillah, semoga ini merupakan salah satu angin segar budaya literasi di generasi muda yang ada di Bondowoso

Memiliki Buku

14068403_10206895203323570_942735099377625043_o

Memiliki buku bagi saya tidak hanya untuk dibaca sendiri, namun ada niatan lain yaitu membagi. Seperti membagi pembacaan saya atas sebuah buku melalui tulisan yang biasa saya kirim ke koran ataupun saya posting di blog.

Membagi pembacaan saya atas sebuah buku juga disampaikan secara lisan, dulu saat di Malang, saya membuat Klub Pecinta Buku Booklicious – Malang yang memiliki agenda pertemuan seminggu sekali untuk ngobrolin buku yang sedang dibaca atau telah dibaca dalam seminggu lalu (pertemuan semacam ini juga ingin saya lakukan di Bondowoso, masih mencari pecinta buku yang memiliki waktu untuk bertemu dan sharing). Selain itu saya biasanya menceritakan pembacaan saya atas sebuah buku kepada adik-adik yang saya temani belajar menulis di ekstrakurikuler kelas menulis sebagai pemicu untuk mulai menyenangi dunia membaca.

Selain membagi pembacaan atas sebuah buku melalui tulisan dan lisan, saya juga biasanya meminjamkan bukunya langsung untuk dibaca. Tapi, biasanya saya juga melihat orangnya dulu apakah bisa merawat buku dan apakah akan dikembalikan nantinya. Terkhusus untuk adik-adik kelas menulis, memang saya sengaja untuk membawa buku saat jadwal kelas menulis dan meminjamkan kepada mereka, agar yang tidak suka membaca menjadi suka membaca, juga agar bahan bacaan mereka bertambah sehingga lebih mempermudah proses belajar menulis mereka.

Sejatinya, memang sejak saya masih di Pondok Pesantren saya memiliki keinginan membuka Taman Baca, alhamdulillah buku-buku saya terus bertambah di antaranya banyak reward menulis resensi dari berbagai penerbit dan penulis. Saya juga biasanya memang sering request buku anak-anak kepada penerbit, karena sasaran saya lebih kepada generasi anak-anak kecil pra-sekolah hingga sekolah dasar. Karenanya, ketika membuka taman baca gratis di car free day alun-alun Bondowoso saya menempatkan buku anak-anak dan majalah Bobo di depan sendiri, agar anak-anak yang lewat ada ketertarikan untuk mampir dan membaca. Begitu juga untuk adik-adik kelas menulis yang sekolah dasar, buku-buku yang saya pinjamkan adalah buku dan majalah anak-anak dari seri KKPK hingga Majalah Bobo.

Peningkatan mutu pendidikan anak negeri melalui jalur literasi saya pilih sebagai jalan perjuangan, jalan jihad. Karena tidak bisa disangkal kemerdekaan salah satunya juga diawali oleh tokoh-tokoh yang gemar membaca juga menulis. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, Kartini, M. Natsir dan masih banyak yang lainnya.

“Aku rela dipenjara asal bersama buku,” ucap Bung Hatta ketika dipenjara, “karena bersama buku aku bebas.” Semakna pula dengan tagline KCB-Mataram (Kelompok Cinta Baca Mataram) yang digawangi Wak Ical, “Membaca itu merdeka!”

Begitulah, membaca adalah kebebasan juga kemerdekaan. Semoga di 71 tahun kemerdekaan negeri ini, semakin merata pembebasan buta aksara, semakin banyak orang membudayakan membaca, semakin besar kesadaran orang agar tidak asal bisa bicara juga nge-share informasi dunia maya tanpa mengetahui kebenarannya, semakin maju pendidikan Indonesia, semakin berprestasi anak negeri, juga semakin luas jalan anak negeri berprestasi untuk mengabdi untuk negeri sendiri.

Mari ambil kaca, apa yang sudah kita berikan untuk negeri ini. -Anies Baswedan

*adik-adik kelas menulis di SD Plus Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso.

Berani Menulis Itu Hebat

1411491286483391052
sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/1411491286483391052.jpg?t=o&v=760

Baru saja salah satu dari adik-adik saya yang mengikuti kelas menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso, mengirim inbox ke saya. Intinya, dia meminta maaf kalau dia dan salah satu temannya yang ikut lomba juga, tidak bisa membahagiakan saya karena belum menang lomba menulis cerpen PECI yang diadakan oleh Penerbit Indiva. Selamat ya adik-adik yang menjadi juara!

Wah, saya terharu. Padahal ya saya juga hanya membagi ilmu menulis cuma segitu aja, ya karena ilmu menulis saya sementara begitu aja, dan saya nggak minta mereka menang. Mereka mau dan berani menulis, kemudian mau dan berani mengirimkan untuk mengikuti lomba saja saya sudah senang. Saya kemudian jawab, “Lha gpp, santai aja, yang penting pengalaman. Ayo baca buku lagi, cari ide lagi, nulis lagi, nulis cerpen lagi, nulis puisi lagi, ngirim ke bobo, ngirim ke kompas dll. Semangat ya!”

“Siaaapp kak. Aku sma zahro udh ada judul, terus udh ada cerita nya. Jd tinggal ngelanjutin. Tp kalo beberapa minggu ini aku gak bisa ngelanjutin cerita nya. Kalo tangan ku udah normal baru nulis lagi kak,” jawab adik itu melalui inbox. Kabarnya tangannya memang pernah patah dan dioperasi, dan sekarang tangannya akan dioperasi lagi.

Semoga operasinya lancar, dan bisa menulis lagi. Semoga bisa mengikuti jejak Ayu (satu-satunya anak Bondowoso yang menulis buku KKPK). Tak hanya itu, semoga menginspirasi adik-adik kelasnya dan anak-anak SD lainnya yang ada di Bondowoso untuk ikutan menulis. Saya bahagia, karena mereka semangat! 🙂

Salah satu komentar atas status fesbuk saya di atas, mengatakan, “Bisa menulis sudah menjadi juara!” Saya pun mengamini, karena sejatinya, berani menulis dan berani mengirimkannya adalah sifat para juara. Berani menulis itu hebat! Semoga ini tidak mematahkan semangat adik-adik menulis kelas menulis saya, tetapi malah menjadi pelecut motivasi bagi mereka untuk semakin semangat belajar, membaca dan menulis. Tidak hanya untuk mereka semoga saya pun semangat belajar, membaca dan menulis. Semoga! 🙂

Tips Memosting Review Di Goodreads

Kalau kamu pecinta buku, Goodreads adalah salah satu media sosial yang kudu kamu miliki akunnya. Kalau kamu belum tahu apa itu Goodreads, akan saya jelaskan secara singkat ya.

Goodreads adalah media sosial tentang buku, tempat asyik untuk nongkrong para pecinta buku di dunia maya. Di sana kamu bisa memosting review atas buku yang sudah kamu baca, kamu juga bisa mencari buku-buku rekomendasi di sana. Dari genre anak-anak sampai dewasa, dari fiksi dan nonfiksi, dari puisi hingga komik.

Berdasarkan info dari Wikipedia, Goodreads adalah komunitas baca internasional yang didirikan pada Desember 2006 dan resmi dirilis pada 30 Januari 2007 oleh Otis Chandler dan Elizabeth Khuri. Otis adalah pemilik perusahaan penerbitan di Amerika Serikat yang juga menerbitkan Los Angeles Times.

Goodreads Indonesia dibentuk oleh Femmy Syahrani yang ditujukan untuk pembaca buku-buku berhasa Indonesia. Sampai April 2013, Goodreads mampu menjaring anggota sebanyak 9,384 orang dari Indonesia, dengan koleksi buku sebanyak 6364 buah buku dari berbagai genre. Selain nongkrong di dunia maya, biasanya mereka yang memiliki akun Goodreads juga mengadakan kopdar, seperti ketika saya di Malang. Kongkow di cafe, ngobrolin buku, saling pinjam, arisan untuk beli buku bahkan juga mengadakan bakti sosial waktu meletusnya Gunung Kelud beberapa waktu lalu. Seru pokoknya. Seperti tagline-nya, “Baca Itu Seru!”

Nah, sekarang saya mau sharing tips memosting review di Goodreads ya!

1. Kamu harus punya dulu akun Goodreads 😀

daftar Goodreads dulu
daftar Goodreads dulu

2. Cari buku yang sudah kita baca dan yang akan kita posting reviewnya di kolom pencarian.

cari buku yang sudah dibaca
cari buku yang sudah dibaca

3. Setelah ketemu buku yang sudah kamu baca. Klik bawah cover, pilih read (dikotak biru) yang berarti kamu telah membaca buku itu.

memilih read
memilih read

4. Setelah memilih read nanti akan keluar ruang untuk memosting review.

ruang posting review
ruang posting review

5. Kita isi review dan juga bisa memberi bintang atas buku yang sudah dibaca.

4. review

6. Resensi sudah masuk di Goodreads dan akan dibaca oleh semua orang yang memiliki akun Goodreads.

5. resensi kita masuk di goodreads

Gimana mudah kan mosting review di Goodreads?

Tambahan info, bagi sebagian penulis ada yang malas untuk membuka Goodreads. Kenapa? Karena sebagian pembaca yang gabung di Goodreads sukanya hanya mengkritik dan menjelekkan karya penulis. Tidak ada bagus-bagusnya dari karya penulis. Nah, sebagai pembaca yang baik seharusnya kita tidak begitu. Goodreads kita jadikan tempat sharing dan berkomentar dengan baik saja ya, kita kritik penulis dengan kritikan yang membangun, bahasa yang santun dan ceritakan pula hal-hal yang bagus dalam karyanya. Jadi, intinya seimbang gitulah ya. Masak penulis sudah capek-capek nulis, akhirnya cuma dikritik tanpa ada saran yang membangun? Ayo jadi member Goodreads yang baik! 😀

Selamat berakhir pekan, selamat membaca dan selamat memosting review sahabat pecinta buku. Btw, saya lagi baca buku Merindu Cahaya de Amstel karya Mba Arumi E. Kamu lagi baca apa? 😀

sumber: arumi-stories.blogspot.com
            sumber: arumi-stories.blogspot.com

 

Toko Gadget Tumbuh Bak Jamur, Toko Buku Runtuh Bak Dibom

sumber: http://www.fardelynhacky.com/
sumber: http://www.fardelynhacky.com/

Selalu saja saya menemukan hal baru, termasuk renungan baru, ketika membuka taman baca di Car Free Day Alun-Alun Bondowoso yang digagas oleh Bondowoso Writing Community. Pagi itu, tikar yang digelar sudah dipenuhi oleh banyak pengunjung dari anak-anak hingga orang tua.

Ada seorang bapak yang saya merasa pernah bertemu entah di mana, dia membaca buku Ayah Edy Punya Cerita. Setelah meregangkan otot tubuh, dan memotret pengunjung, saya duduk di salah satu tikar yang masih kosong. Kebetulan berdekatan dengan bapak yang membaca buku Ayah Edy itu.

“Nggak bisa dipinjam buku ini ya mas?” tanyanya.

“Belum boleh pak” saya jawab sambil tersenyum.

Kemudian kami mengobrol.

Dia mengatakan bahwa buku Ayah Edy yang dia baca itu sangat bagus. Menurutnya, menjadi orangtua juga perlu ilmu. Nggak ujug-ujug sudah bisa, karena merasa sudah dewasa. Padahal, ada banyak ilmu tentang parenting yang perlu diketahui, utamanya untuk mengatasi problem anak-anak masa kini.

“Nggak bisa habis nih mas, kalau Cuma baca-baca di sini,” ujarnya lagi.

“Iya sih Pak, tapi ya memang belum bisa dipinjam. Kalau ingin menghabiskan buku itu, kalau bisa minggu depan datang lagi aja ya Pak. Insya Allah tiap hari minggu kamu buka taman baca di sini,” saya menyarankan.

Bapak itu melanjutkan bacanya lagi.

“Buku mas semua ini ya?” Tanyanya lagi.

“Kebetulan iya Pak, biasanya ada buku teman-teman BWC yang lain,”

“Wah banyak ya buku koleksi mas. Mas Siapa tadi?”

“Saya Ridho Pak. Iya Pak, Alhamdulillah saya dapat buku-buku ini dari penerbit. Sebagai imbalan meresensi buku-buku yang mereka terbitkan.”

“Wah, enak ya mas.”

“Iya pak, Alhamdulillah.”

Diam sejenak.

Semenit kemudian bapak itu, memperkenalkan diri dan ternyata dia adalah pemilik Toko Dian. FYI, Toko Dian adalah toko yang menjual buku, majalah, koran, dan berbagai perlengkapan sekolah. Tapi sayangnya kini, Toko Dian harus menggulung tikar. Dulu, saat masih SD, saya biasa mengumpulkan uang saku untuk membeli Majalah Mentari. Salah satu toko buku tempat saya beli majalah ya Toko Dian itu. Aha! Ya, akhirnya saya ingat pernah melihat bapak itu ketika membeli Majalah Mentari beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, bertemu dengan salah satu pemilik toko buku yang berjasa membuat saya cinta membaca, meski saat ini tokonya sudah tidak buka lagi.

“Sudah lama nutupnya mas. Bertambah tahun, pelanggan semakin berkurang, padahal selain laba menjual buku itu lumayan, bagi saya membaca itu sangat bermanfaat.

“Saya merasakan sendiri kalau membaca itu sangat bermanfaat, keluarga saya terbiasa membaca buku semua, Majalah Intisari selalu langganan, bahkan maaf, saat buang air besar saja disediakan buku bacaan,” katanya sambil tertawa.

Bapak itu pun melanjutkan membacanya lagi.

Diam. Senyap.

sumber: fanspage Bondowoso Writing Community
sumber: fanspage Bondowoso Writing Community

Saya terkenang dengan masa lalu. Nostalgia. Ya, ada banyak toko buku, majalah dan koran di Bondowoso. Toko Doni, Sumber Ilmu, Samson, Ayu Media, UD. Siswa, Toko Dian, dan ada satu lagi saya lupa namanya. Tapi, saat ini hampir semuanya sudah gulung tikar. Sampai saat ini yang masih eksis adalah Toko Doni, Sumber Ilmu, Ayu Media, UD. Siswa, itupun hidup segan mati tak mau. Toko Doni setahu saya buku-bukunya rata-rata buku yang sudah lama dan jarang terbitan baru. Ayu Media pun sama, tetapi untuk majalah, koran, tabloid, masih lancar. UD. Siswa kini menjadi semacam rumah makan tetapi tetap menjual koran, tabloid satu dua. Sebenarnya ada toko buku baru selepas saya menjadi pengabdian di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Saya juga sempat nitip buku dan majalah di sana, namun ternyata toko buku tersebut hanya bertahan sekitar dua tahun.

Ada apa ini? Fenomena apa ini? Apa hal semacam ini tidak meresahkan?

Sudah lama saya memikirkan ini. Toko buku di kotaku ini sepi bahkan mati, sedangkan toko gadget semakin banyak bak jamur. Apa permasalahannya? Kalau saya amati, gadget bagi semua orang sangat digemari, sedangkan membaca dan buku sangat kurang digemari. Hal ini berarti ada orang yang membaca, tapi itu pun sangat sedikit (tanpa menafikan mereka yang membaca versi digital via ponsel pintar). Sehingga, beginilah jadinya, toko buku sedikit atau bahkan tidak ada, sedangkan toko gadget terus bertambah. Seharusnya, kedua toko ini tumbuh bersama. Karena, saya kira keduanya bisa saling mendukung dan itu bisa menjadi corong kemajuan. Tetapi kalau hanya gadget saja yang semakin digemari, maka akan menimbulkan beberapa efek negatif, seperti kebergantungan anak pada Google sehingga malas membuka kamus atau buku, padahal dengan membuka kamus dan membaca buku ada pembelajaran di sana. Selain itu, ada efek negatif yang sangat tidak baik jika sejak kecil anak-anak sudah mengenal gadget, seperti mudah marah, labil dll. Hal ini berdasarkan penelitian Yee Jin-Shin seorang psikiater asal Korea. Bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Mendidik Anak di Era Digital, dan sudah saya buat resensinya https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/03/11/mendidik-anak-di-era-digital/.

Jujur saja, apa yang saya tulis ini bukan sok peduli. Ya, karena memang passion saya di dunia ini. Saya merasa dunia pendidikan tidak akan maju tanpa buku, Karena buku adalah salah satu media belajar. Saya ingin Indonesia maju, saya ingin Bondowoso maju. Maju dengan tetap beriman kepada Tuhan. Itu saja. Sangat lucu bukan, jika kita hanya  pandai menggunakan karya orang (gawai atau gadget), tetapi kita tidak bisa berkreasi sendiri. Kita sebenarnya bisa. Ya bisa, jika mau belajar salah satunya dengan membaca. Karena tanpa membaca, kita bukan siapa-siapa. Tanpa membaca kita akan kalah. Semoga taman baca dan kegiatan literasi lainnya yang diadakan Bondowoso Writing Community, bisa memberikan sumbangsih bagi kemajuan Bondowoso. Walaupun hanya sedikit, setidaknya memberikan stimulus agar orang tergerak untuk membaca dan belajar. Semoga ke depan semakin banyak orang di Bondowoso akan pentingnya literasi 🙂

*reportase tentang taman baca Bondowoso Writing Community dimuat di Harian Surya

https://penulispembelajar.wordpress.com/2015/04/27/baca-buku-gratis-di-taman-baca-bwc/

Asyiknya Menulis Resensi

Contoh Resensi saya atas buku Sekali, Hidup Sepenuh Hati di Majalah Motivasi Nasional Milik Andrei Wongso Edisi Nopember
Contoh Resensi saya atas buku Sekali, Hidup Sepenuh Hati di Majalah Motivasi Nasional Milik Andrei Wongso Edisi Nopember

Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa menulis resensi buku, tidak memiliki keistimewaan. Karena hanya menulis dan mengomentari karya orang. Dulunya saya pun menganggap begitu. Dulu saya menganggap menulis resensi buku tidak wow, ketimbang menulis puisi, cerpen atau artikel di media massa. Saya kadang juga menulis resensi buku, tapi gak sering seperti sekarang. Dulu menulis resensi buku karena iseng setelah baca satu buku, karena buku yang dibaca bagus sekali versi saya.

Ada kakak kelas saya di pondok yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, dapat buku dan fee juga. Saya waktu itu kurang respon. Kemudian ada teman fesbuk seorang penulis yang mengatakan bahwa menulis resensi buku itu enak, bisa dapat buku gratis. Dia memperlihatkan buku-buku yang dia dapatkan secara gratis dari penerbit. Nah dari itu, saya akhirnya penasaran!

Saya pun mencoba menulis resensi buku sekaligus pede mengirimkannya ke media. Setelah beberapa lama, dimuatlah satu persatu, Alhamdulillah. Saya pun ketagihan untuk menulis resensi buku. Ini alasannya, pertama karena dapat buku gratis dari penerbit, kadang lebih dari satu buku bisa sampai lima buku lebih dari satu kali meresensi. Kedua, saya dapat fee baik dari media ataupun penerbit. Bahkan, waktu masih di Malang saya juga dapat honor apresiasi dari Kemahasiswaan. Asyik ya! 😀

Selain itu asyiknya meresensi adalah bisa jadi ajang berkenalan dengan penulisnya. Asyiknya juga kenal dengan marketing penerbit, setelah kenal biasanya mereka akan mengundang kita jika ada kegiatan penerbit atau lagi liburan ke tempat yang kita tempati. Beberapa kali saya bertemu dengan marketing penerbit yang lagi ada kegiatan di Malang atau lagi liburan ke Malang. Nggak hanya sekedar bertemu, ngobrol, selfie aja, biasanya juga dapat bingkisan dari mereka. Kadang buku aja, kadang buku plus kaos, cangkir, goodie bag. Asyik kan? 😀

Ada lagi nih yang asyik bagi saya, karena menulis resensi buku saya jadi bisa terbang ke Jakarta gratis PP. Waktu itu, tepatnya 22 Desember 2013 saya terpilih jadi pembicara di acara Gagas Media, Kumpul Penulis dan Pembaca 2013. Saya diminta  mengisi talkshow tentang menulis resensi buku. Saya nggak nyangka awalnya. Alhamdulillah, rejeki. Asyik nggak nih? 😀

Di awal Ramadhan tahun lalu saya juga diundang Penerbit Mizan ke Jakarta untuk menghadiri acara mereka. Saya diberi uang untuk tiket kereta PP. Ini nih rejeki jadi peresensi buku! Saya mulai aktif menulis resensi buku sejak tahun 2012, sampai saat ini buku gratis saya sudah 500an buku lho, Alhamdulillah wa asyik kan? 😀

Gimana, pengin menulis resensi buku? Bingung mau nulis resensi itu gimana? Saran saya cob abaca contoh-contoh resensi yang ada di media massa atau blog, Cuma gunakan teori ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Kalau masih sulit, coba Ini nih pengalaman saya dalam menulis resensi:

  1. Memilih buku baru untuk diresensi. Misalnya sekarang tahun 2015, kita pilih buku-buku terbitan tahun 2015. Karena semua media cetak hanya memuat resensi buku yang baru. Kalau media online ada juga yang memuat resensi buku-buku lama.
  2. Membaca buku sampai selesai dengan teliti dan serius. Jangan sampai ada kata yang terlewatkan. Catat apa-apa yang penting dalam buku yang kiranya akan dimasukkan dalam resensi, selain itu juga bisa menulis kesalahan tulis kata, EYD, tanda baca.  Juga kata-kata atau kalimat yang menarik yang mungkin bisa dijadikan menjadi salah satu paragraf dalam resensi. Kalau malas menulis, saat ini ada panahan yang bisa ditempel ke buku, untuk menandai bagian-bagian yang akan dimasukkan dalam resensi. Manfaat panahan juga agar buku tidak perlu dilipat, sehingga tidak rusak.
  3. Selesai membaca segeralah untuk menulis resensinya, agar tidak kedahuluan resensor lain menulis resensi buku yang sama. Ini bukan tidak mungkin, dan ini cukup sering saya alami, kedahuluan orang.
  4. Cara saya menulis resensi:
  5. Jika buku kumpulan tulisan dengan satu tema sama, saya meringkas semua tulisan itu sebagai isi resensi. Kadang pula saya hanya mengambil beberapa bagian yang menarik untuk saya ceritakan dalam resensi. Jika novel, saya menceritakan dengan singkat isi novel.
  6. Karena resensi buku tidak hanya sekedar mereview sebuah buku. Maka di dalamnya juga ada sanjungan kelebihan sebuah buku, kritik dan saran terhadap sebuah buku. Juga perbandingan dengan buku bertema sama yang ditulis penulis lain, buku-buku yang ditulis oleh penulis yang sama. Termasuk juga resensi resensor lain tentang buku yang kita resensi di media lain mungkin ada kesalahan resensi atau kesalahan pengambilan data dalam buku yang dia resensi, maka kita perbaiki dalam resensi yang kita tulis.
  7. Soal judul memang biasanya agak lama saya berfikir mencari yang menarik. Karena kepala tulisan menjadi awal sebuah resensi akan dibaca atau tidak. Biasanya saya mengambil salah satu sub judul di kumpulan tulisan yang saya resensi. Biasanya juga mencari tema pokok sebuah buku yang diracik menjadi judul yang menarik.
  8. Setelah jadi kirimlah ke media cetak dahulu, kemudian jika lama tak ada kabar kirimlah ke media online saja. Cukup banyak media online yang menerima naskah resensi dari penulis lepas. Tapi alangkah baiknya, kirim ke media cetak terlebih dahulu, karena banyak sekali media cetak yang menerima resensi saat ini.
  9. Nah, bila sudah ada resensi kita yang dimuat di sebuah media, baik cetak atau online. Kirimlah email ke email penerbit buku yang Anda resensi. Dengan isi bahwasanya resensi karya Anda tentang buku terbitan penerbit tersebut dimuat di media blab la bla. Misal ini yang biasanya saya kirim:

Kepada: Yth. Penerbit Metagraf (Tiga Serangkai) Pak Kurniawan. di Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Bersama ini penulis kirimkan link http://annida-online.com/artikel-6468-pengusaha-emperan-penghasilan-milyaran.html Resensi yang berjudul Pengusaha Emperan Penghasilan Milyaran yang dimuat di Annida Online 19 Desember 2012. Saya sertakan juga softfilenya.

Resensi tersebut merupakan resensi atas buku terbitan Metagraf, yang berjudul: Emperpreuner, karya Wahyu Liz Adaideaja. Besar harapan penulis, pihak Tiga Serangkai dapat melanjutkan kerjasama dibidang peresensian ini. Untuk itu penerbit dapat mengirimkan buku terbitan terbaru kepada penulis untuk diresensi atau dalam bentuk yang lain. Gajah Mada yang 1,2,3 kalau ada boleh yang lain juga. Terima kasih 🙂

Berikut biodata saya, bila diperlukan:

Muhammad Rasyid Ridho

Alamat Jln Myj Panjaitan No 26 Dabasah Bondowoso Jawa Timur

No Hp: 085933138891

No Rek BNI cabang UMM an M.Rasyid Ridho 02027*****

Demikian surat ini penulis sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya penulis sampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Salam Hormat, Peresensi,

Muhammad Rasyid Ridho

  1. Terakhir, Taraaa! selamat menunggu kiriman buku gratis sampai ke rumah Anda.

Yup, saya kira ini yang bisa saya bagi kepada teman-teman sekalian, silakan jika ada pertanyaan. Jika bisa saya akan jawab 😀

berkaitan dengan dua artikel lain saya.

1. https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2012/12/30/mau-dapat-buku-gratis-tulislah-resensi/

2. https://penulispembelajar.wordpress.com/2013/11/20/daftar-media-yang-menerima-resensi-buku/

*pernah menjadi bahan diskusi di grup kompilasi 50 hari Pak Nassirun Purwokartun.

Daftar Media Yang Menerima Resensi Buku

1.       Bisnis Indonesia                                                              : redaksi@bisnis.co.id rubrik resensi di hari minggu. Ada honor. – Kabarnya media ini sudah sulit diakses, kalau bisa mengirim ke media lain saja.

2.       Jateng Pos                                                                         : jatengpos@yahoo.co.id rubrik resensi di hari minggu. Tidak ada honor.

3.       Koran Jakarta                                                                   :  opini@koran-jakarta.com subjek: Perada terbit tiap hari kecuali minggu ada honor.

INFORMASI KETENTUAN NASKAH PERADA

YTH Bapak/Ibu
Pengirim Perada
Dengan hormat,
Terima kasih telah berkenan mengirim resensi ke Koran Jakarta. Untuk selanjutnya, mohon berkenan melengkapi (jika belum lengkap) klausul berikut ini:

A SETIAP KALI mengirim resensi dimohon SELALU menyertakan:

1. Kartu Identitas (KTP)
2. Nomor kontak yang dapat dihubungi
3. Foto diri
4. Nomor rekening
5. Pendidikan terakhir

B Tentang tulisan

1. Panjang minimal 4.000 karakter (dengan spasi).
2. Orisinal
3. Komprehensif dalam mengupas
4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
5. Menggunakan logika bahasa yang mudah dicerna
6. Tidak salah ketik
7. Menyertakan kutipan-kutipan buku
8. Menyertakan cover buku
9. Buku tahun ini
10. Buku di atas 200 halaman

Perada dikirim lewat opinikoranjakarta@yahoo.co.id,opinikoranjakarta@gmail.com

Salam dan hormat

Redaksi

4.       Harian Bhirawa                                                                : harian_bhirawa@yahoo.com  rubrik resensi di hari jumat, tidak ada honor.

5.       Radar Surabaya                                                               : radarsurabaya@yahoo.com  rubrik resensi di hari minggu. Ada honor.

 

7.        Malang Post                                                                     : redaksi@malang-post.com       rubrik resensi di hari minggu. Tidak ada honor.

 

8.       Koran Madura                                                                 : opini.koranmadura@gmail.com  subjek:  Budaya  rubrik resensi di hari jumat, tidak ada honor. – Koran Madura saat ini menjadi media online.

 

9.   Majalah Luar Biasa                                                         : redaksi@majalahluarbiasa.com Ada Honor. – Kabarnya media ini sudah tidak terbit.

10.   Tribun Jogja                                                                      : redaksi@tribunjogja.com subjek: Pustaka  rubrik resensi di hari minggu. Tidak ada honor.

 

11.   Annida Online                                                                  : majalah_annida@yahoo.com – sudah tidak ada rubrik resensi.

12.   Wasathon.com                                                                : wasathon@gmail.com

13.   Rimanews.com                                                                : rimanews@gmail.com

14.   Dakwatuna.com                                                              :  dakwatuna@gmail.com

15.   Majalah Walida                                :  walida_pwa@yahoo.co.id ada honor

16.   Majalah Matan                : matan_pwm@yahoo.com ada honor

17.   Lampung Post                                                                                 :  redaksilampost@yahoo.com  lampostminggu@yahoo.com rubrik resensi di hari minggu, ada honor.

 

18.   Metro Riau                                                        : metro_riau@ymail.com  rubrik resensi di hari minggu. Tidak ada honor.

19.   Riau Pos                                              :  amin_ripos@yahoo.com

20.    Madura Channel.com                  : lembayung_88@yahoo.com

21.    MediaMahasiswa.com                                : artikel@mediamahasiswa.com

22.  Harian Singgalang                  : hariansinggalang@yahoo.co.id, a2rizal@yahoo.co.id hari minggu

23. Okezone : Redaksi@okezone.com

24. Bernas Jogja: bernasjogja@yahoo.com

25. Nabawia.com : redaksi@nabawia.com, cc: mubarak@nabawia.com

26. Indoleader.com : mygunawan@gmail.com

27. Koran Sindo : ranggarai@yahoo.com

28. Harian Nasional: bookreview@harian-nasional.com

29. Koran Pendidikan: koran.pendidikan@gmail.com

30. Suara Merdeka: swarasensi@yahoo.com tiap hari selasa

31. Kompas: kompas@kompas.co.id / kompas@kompas.com / opini@kompas.co.id / opini@kompas.com

32. Jawa Pos: opini@jawapos.co.id / ariemetro@yahoo.com

33. Koran Tempo: ktminggu@tempo.co.id / koran@tempo.co.id

34. Media Indonesia: redaksi@mediaindonesia.co.id / opinimi@yahoo.com

36. Kabar Madura: kabarsastrabudaya@gmail.com

37. Radar Malang: sastra.radarmalang@gmail.com

38. Tribun Kaltim: red.minggu@gmail.com

39. Koran Rakyat Jateng: budaya@rakyatjateng.com

40. Tribun Jateng: redaksi@tribunjateng.com dan tribunjateng@gmail.com

41. Kedaulatan Rakyat: resensikrm@yahoo.com

42. Koran Rakyat Sumbar: sastrasumbar@yahoo.com

43. Padang Ekspress: redaksi@padangekspres.co.id

44. Radar Madura: sastra_rm@yahoo.com dan jprmsasbud@yahoo.com

45. Majalah Auleea:majalah.auleea@gmail.com

46. Majalah Suluh Madura: obbath@gmail.com

Ini beberapa alamat media yang saya tahu, silakan bisa menambahi di komentar jika ada alamat media lain terima kasih J Nah, alamat media sudah tahu. Bagaimana cara ngirimnya? Jaman udah canggih, pake email dong. Kalau saya biasa make surat pengantar di badan email: Gini nih contohnya:

Email: radarsurabaya@yahoo.com

Subjek: Resensi Buku: Bulan Madu Murah Meriah di Tanah Air

Salam Sejahtera

Yth Redaksi Rubrik Resensi Radar Surabaya Di Tempat Bersama ini saya mengantarkan naskah Resensi saya Nama: Muhammad Rasyid Ridho Judul Buku: Amazing Honeymoon Judul Resensi: Bulan Madu Murah Meriah di Tanah Air Status: Pustakawan, Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang No Rek BNI cabang UMM an M.Rasyid Ridho 0202737477

no hp 085933138891

Karya-karyanya berupa cerpen, artikel, resensi, dan puisi juga dimuat di beberapa media offline maupun online, antara lain di Kompas, Kompas.com, Jawa Pos, Koran Jakarta, Radar Surabaya, Jeteng Pos, Malang Post, Republika, HArian Bhirawa,  Harian Surya, Metro Riau, Majalah Matan,  Majalah Gizone, Majalah Sabili, Koran Kampus UMM Bestari, Okezone.com, Annida online, Eramuslim.com, Analisisnews.com, Dakwatuna.com, Fimadani.com, Rimanews.com, Wawasanews.com, Wasathon.com, Minimagz Gen_M2. Dengan ini pula saya menyatakan karya saya ini asli karya saya (bukan plagiat) dan belum pernah dimuat di mana pun.Terima kasih atas perhatiannya, semoga berkenan dan bisa di muat di rubrik Resensi Radar Surabaya berikutnya. Senang sekali bila tulisan saya ini bisa dimuat di radar nomer satu ini, sekali lagi terima kasih. Salam sejahtera

 

Nah, subjek email tergantung mengirim ke media apa. Di atas ada beberapa media yang saya beri tambahan misal subjek: Perada bila di koran jakarta karena memang berbeda dengan yang lain yang cukup mengisi subjek dengan Resensi Buku.

 

Perlu diingat juga yang saya tahu tidak semua penerbit yang memberikan reward, kepada peresensi. Yang saya tahu yang memberi reward di antaranya, Mizan, Bentang, Tiga Serangkai, Diva Press, Gramedia Serambi, Zaman dan Noura Books. Silakan jika teman-teman punya buku baru beberapa penerbit yang saya sebutkan di atas. Bisa dicoba ditulis resensinya dan dikirim ke media.

Bagaimana cara menulis resensi buku? bagaimana cara melapor pemuatan resensi di media kepada penerbit? Buka link ini ya http://ridhodanbukunya.wordpress.com/2012/12/30/mau-dapat-buku-gratis-tulislah-resensi/ Selamat menulis resensi!:)

Menulislah, Sebelum Hilang Ingatan

                Kamis lalu (24/5/2012), pagi sekitar jam enam saya mengsms salah satu nama dalam list friend  ponsel saya. Saya menanyakan jam berapa saya diharap hadir di ruangan acara. Selang beberapa menit, sms balasan masuk di ponsel saya yang mengatakan jam 9 sudah di tempat lebih baik. Ya, saya mengsms dan mendapat balasan sms dari salah satu panitia seminar penulisan yang diadakan oleh Bem Fisip 2011-2012 UMM. Setelah sebelumnya saya mendapat sms yang menodong saya untuk menjadi pembicara dalam acara mereka tersebut yang bertema ‘Mari Berkarya Melalui Tulisan’. Setelah bepikir dan permintaan mereka yang sedikit memaksa, akhirnya saya mengiyakan permintaan untuk menjadi pembicara. Setelah melihat term of reference yang diberikan panitia kepada saya, saya memilih berangkat jam 9 saja. Karena dalam jadwal saya mengisi jam 10.45, jam setengah sepuluh saya sudah ada di tempat. Saya duduk di depan ruangan bersama panitia acara sambil menunggu teman saya perwakilan dari Forum Lingkar Pena Cabang Malang Raya Muhammad Hafidz Mubarok sekaligus menyimak apa yang dikatakan oleh pembicara pertama. Sesuai jadwal acara pertama diisi oleh salah satu Dosen Ilmu Komunikasi Arief Hidayatullah S.Ikom. Dosen dan penulis buku Menulis Inspirasi ini memberikan banyak teori dan juga motivasi menulis kepada peserta seminar. Arief mengatakan, agar kita mendapatkan inspirasi untuk menulis, maka kita harus selalu sadar dalam menjalani hidup. Jika tidak, maka akan banyak inspirasi berupa ide yang tidak bisa kita tangkap. Sayang sekali jika begitu, selain itu dia juga mengatakan, menulislah sebelum kita kehilangan ingatan. Pemateri kedua yaitu Dosen Ilmu Hubungan Internasional Suyatno Ph.D. Suyatno yang juga menjadi salah satu dosen di salah satu universitas di Malaysia ini, memberi cara dan teori dalam penulisan ilmiah yang benar. Karena memang Suyatno cukup ahli dalam bidang ini, selain itu dia juga mengatakan jangan sampai menulis itu hanya dengan niat kapitalis yakni ingin mendapatkan materi. Karena menurut dia, hal itu akan merusak usaha yang dimulai dari awal ketika usaha menulis tak menghasilkan apa-apa maka yang ada hanya kecewa. Jadi, walaupun dengan menulis bisa mendatkan materi atau jalan-jalan keluar negeri gratis seperti apa yang sudah dia alami, jangan jadikan itu sebagai motif kita untuk menulis. Selesai pembicara kedua, maka berlanjut ke acara ketiga yakni diskusi panel yang saya menjadi pembicara sendiri, Hafidz perwakilan dari FLP Malang Raya dan Chintya perwakilan dari NBC Malang. Pemberian materi dimulai dari saya, yang banyak memberikan cerita bagaimana awal saya menulis, proses buku-buku saya dan aktivitas saya dengan komunitas kepenulisan yang saya ikuti. Kemudian dilanjutkan oleh Hafidz yang memberikan materi tentang apa itu FLP, bagaimana pendaftarannya, dan lainnya. Begitupun Chintya memberikan materi tentang apa itu NBC (Nulisbuku.com), apa saja kegiatannya, dan lainnya. Panitia berharap, setelah acara ini semoga peserta yang telah termotivasi untuk menulis, mendapatkan follow up dengan mengikuti komunitas yang cocok dengannya.