7 Tanda Cinta Rasul

sumber: http://islamforchristians.com/
        sumber: http://islamforchristians.com/

Mencintai adalah fitrah manusia. Namun, tiada yang lebih berhak dan utama untuk dicintai di dunia ini kecuali Allah dan Rasul-Nya. Sebab tak seorang pun di akhirat kelak yang ingin masuk neraka, maka menjadi penghuni surga dan berdekatan dengan Rasulullah adalah dambaan.

Rasulullah pernah menyabdakan bahwa seseorang akan bersama yang dia cintai di akhirat kelak. Jika kadar cintanya lebih besar kepada selain Rasulullah, maka dia tidak akan bersama Rasulullah di akhirat kelak. Sebaliknya, jika Rasulullah menjadi cinta utama setelah Allah, maka di surga dia akan berdekatan dengan Rasulullah. Masya Allah, betapa indahnya.

Lalu bagaimana bukti atau tanda cinta kepada Rasulullah? Ustadz Syafiq Riza bin Basalamah dalam pengajian di Masjid Al-Furqo, Maesan, Bondowoso (5 Januari 2016) mengatakan setidaknya ada tujuh tanda.

Pertama, percaya dan yakin kepada Rasulullah.

Kedua, berhukum dengan hukumnya.

Ketiga, mengikuti sunnah Rasul.

Keempat, mencintai segala sesuatu yang Rasul cintai.

Kelima, banyak mengingat Rasul.

Keenam, sering membaca sirah Nabi.

Ketujuh, sering bershalawat kepada Nabi.

Percaya dan yakin kepada Rasulullah tidak cukup dengan perkataan, “Aku cinta Nabi, Aku cinta Rasul.” Namun, di sisi lain tidak berhukum dengan hukumnya, tidak meneladaninya, tidak mengikuti sunnahnya.

Sahabat Nabi sebagai generasi terbaik, mereka benar-benar membuktikan kecintaan mereka kepada Nabi, dengan taat dan mengikuti apa yang Rasulullah lakukan. Seperti ketika Rasulullah mengatakan untuk merapatkan shaf jamaah ketika akan shalat, sahabat langsung melaksanakan tanpa interupsi atau pertanyaan. Ada banyak cerita tentang Rasul dan sahabatnya yang disampaikan oleh Ustadz Syafiq dalam kesempatan ini.

Suatu ketika Anas bin Malik melihat Rasulullah memakan sesuatu yang tidak disukai oleh Anas. Setelah melihat itu, Anas kemudian mencoba untuk menyukai makanan yang disukai oleh Rasulullah tersebut. Dalam lain kisah, ketika di dalam masjid Rasulullah menyuruh kepada para sahabat untuk duduk, ketika itu Ibnu Mas’ud masih di depan pintu. Mendengar Rasulullah menyuruh para sahabat duduk, Ibnu Mas’ud pun duduk di depan pintu. Melihat Ibnu Mas’ud duduk di depan pintu, Rasulullah memanggilnya untuk duduk di dalam masjid. Masya Allah, betapa taatnya generasi pertama Islam kepada Rasulullah.

Begitu juga sikap mereka terhadap sunnah Nabi, para sahabat radhiyaallahu ‘anhum tidak pernah menawar dan menolak dan berkata, “Ini kan hanya sunnah.” Sungguh dalam sunnah itu ada banyak kebaikan, misalnya dalam sunnah rawatib. Kita sadar betul bagaimana sulitnya mengkhusyukkan diri dalam shalat. Kita tahu betul, bahwa shalat kita seringkali masih banyak kurangnya. Maka, dengan sunnah rawatib, kekurangan kita tersebut akan ditembel atau akan membaikkan nilai shalat kita. Semoga kita dimudahkan dalam mengikuti sunnah Rasulullah.

Mengenal Rasulullah lebih dalam lagi dengan membaca sirah-nya, akan semakin membuat kita cinta kepada beliau. Dengan membaca sirah, kita pun akan tahu betapa berat ujian, tantangan, perjuangan dakwah beliau. Sangat berbeda, dengan kita, jauuh sekali perbedaannya. Dengan mengetahui, memahami dan merenungi kisah hidup Rasulullah, insya Allah akan semakin tumbuh benih cinta kita kepadanya.

Selain membaca sirah Rasulullah, mengenal kehidupan orang-orang yang beliau cintai yakni para sahabat beliau juga akan menambah cinta kita kepada Rasulullah. Dengan mengenal para sahabatnya, kita akan semakin tahu betapa cinta para sahabat sangat besar dan kita pun termotivasi untuk semakin memupuk rasa cinta kita kepada beliau.

Dengan semakin bertambahnya rasa cinta kita kepada Rasulullah, maka buktikan di antaranya dengan mengikuti sunnahnya, mencintai sahabatnya, dan banyak bershalawat padanya. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, wa shohbihi wa man tabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddiin. Semoga Allah limpahkan shalawat kepada Rasulullah Muhammad ShallaAllahu ‘alaihi wa Sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, juga kepada pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, semoga kita semua termasuk di dalamnya. Aamiin….

Kita Hanya Butuh Satu Kata: Bersatu

sumber foto: karya Ahmad Ishlahuddin Dhuha
sumber foto: karya Ahmad                   Ishlahuddin Dhuha

Banyaknya artis dan public figure yang mencapai titik balik dan kemudian mempelajari agama, merupakan angin segar bagi negeri ini. Tentu saja, dengan begitu mereka tidak hanya dikagumi dengan bekal tampang dan skillnya (akting, menyanyi dll), tetapi semoga juga menginspirasi masyarakat untuk juga kembali pada agama.

Namun, tentu saja tidak semua suka dengan keputusan sang artis untuk kembali pada agama. Dari penggemar garis keras hingga sesama Islam tetapi berbeda pandangan menyayangkan sang artis menjadi aneh juga semakin jarang terlihat di dunia hiburan dan mengapa memilih Islam yang ‘itu’ yang dipelajari.

Saya pribadi senang dan suka, jika para artis itu kemudian mendekat pada agama dan mempelajarinya, tanpa memedulikan mereka belajar ke mana yang penting sesama ahlus Sunnah wal jama’ah atau sunni. Seperti Dedy Mizwar (yang sepertinya) belajar agama di Tarbiyah, Teuku Wisnu belajar kepada Salafi, Caesar belajar kepada Salafi, Arumi Bachsin belajar kepada Nahdhatul Ulama (Fatayat), Sakti ex Sheila On 7 yang belajar agama kepada Jama’ah Tabligh dan lain-lain.

Sekali lagi, ini seharusnya membuat kita senang, bahagia dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa  Ta’ala. Jika mereka membuat kesalahan-kesalahan yang mungkin belum mereka ketahui, maka nasehatilah mereka. Jangan cemooh, jangan ejek, jangan menjelekkan mereka. Nasehatilah mereka dengan sebaik-baik nasehat.

Kasus yang lagi ramai saat ini adalah tentang Teuku Wisnu yang dalam acaranya (Beriman-Trans TV) menyatakan bahwa bacaan Al-Fatihah tidak akan sampai (kepada siapapun), begitulah intinya. Maka, ramailah dunia (nyata) maya. Kalangan Nahdhiyin tentu tersinggung dengan ucapan Teuku Wisnu. Ada kalangan Nahdhiyyin atau juga yang tidak sependapat dengannya yang menasehati dengan lembut tetapi juga tak jarang (banyak) yang membully Teuku Wisnu habis-habisan.

Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini? Bolehlah kiranya saya yang faqir ilmu ini sedikit berkomentar.

Teuku Wisnu sebagai pembawa acara Beriman Trans TV dan sebenarnya menyatakan hal tersebut tidaklah mengherankan. Teuku Wisnu mempelajari Islam kepada Salafi dan Trans TV adalah sebagai TV Swasta yang sering mengakomodir ustadz-ustadz kalangan Salafi, artis yang belajar di Jama’ah Tabligh (Derry Sulaiman) dan jarang mengakomodir dari kalangan Nahdhiyin. Beberapa kali Trans Tv membuat berang warga Nahdhiyin dan seharusnya itu dijadikan pelajaran. Trans Tv dan ustadz-ustadz Salafi di dalamnya  sebaiknya tidak terlalu mempermasalahkan khilafiyah tetapi menginfokan hal-hal yang akan menyatukan umat. Akomodir dong semua ahlussunnah wal jama’ah di Trans TV, itu baru jempol, menyejukkan.

Karena apa?

Kita hanya butuh satu kata: Bersatu.

Selain permintaan kepada ustadz-ustadz Salafi dn Trans TV, bolehlah faqir ilmu seperti saya ini meminta Bang Teuku Wisnu untuk belajar agama lagi, terus dan terus. Lanjutkan saja belajar kepada ustadz-ustadz yang ada di Salafi, tetapi mohon baca juga kitab-kitab saudara Nahdhiyin yang cukup banyak berbeda pendapat dengan saudara Salafi. Agar apa? Agar, kita memahami di mana akar masalahnya, tidak mempermasalahkan khilafiyah dan lebih bijak memahami perbedaan dalam kalangan ahlussunnah, dan sering menggaungkan persatuan umat Islam. Tentu ini lebih jempol bang, barakallah 🙂

Lalu bagaimana dengan kita, yang lebih banyak menjadi penonton tetapi lebih sering menjadi yang paling ramai? Betul tidak ya?hehe

Saya kira sikap kita adalah seperti yang sudah saya sebutkan di atas, menasehati Bang Teuku dengan baik, tanpa menjelekkan dia. Itulah lebih baik bagi kita, bukankah sebaiknya kita berkata yang baik atau diam saja? Pilihlah dua dari itu saudaraku. Itulah kebaikan bagi kita, ya bukan hanya bagi Anda sendiri, tetapi kita semua.

Bukankah sikap Bang Teuku Wisnu sudah hebat ketika meminta maaf via twitter dan insya Allah akan meminta maaf pada acara Beriman pula? Semoga sikap baik ini ditiru oleh ustadz-ustadz saudara seiman kita di Salafi untuk lebih berhati-hati dalam berucap apalagi masalah khilafiyah. Cukup sudah, sengketa kita (umat) yang tiada habisnya ini. Cukup, kita doakan Bang Teuku semakin baik pemahamam keislamannya dan kita dukung selalu dalam upayanya memperbaiki diri. Semoga kita semua istiqamah di jalan-Nya.

Sekali lagi, kita hanya butuh satu kata: Bersatu.

Saya adalah keturunan Muhammadiyah, tetapi saudara-saudara saya berkultur NU. Orangtua saya Muhammadiyah, Mbah-Mbah saya Nu juga Muhammadiyah. Pakde, om, saudara-saudara saya yang lain lebih banyak yang NU. Saya mondok di Pondok Pesantren yang punya cita-cita menyatukan umat, sehingga salah satu kalimat yang sering diucapkan Kiai adalah, “NU Persis Muhammadiyah.” Dari pandangan ini saya pun mendambakan persatuan Islam.

Di kampus saya berteman dengan aktivis berbagai kalangan, Tarbiyah, Muhammadiyah, NU, dan HT. Karena saya tak ingin terkotak-kotakkan sehingga umat tidak bersatu. Meski keluarga saya Muhammadiyah, saya sangat bersimpati kepada saudara-saudara seiman di Tarbiyah yang saya tahu aktivisnya rajin shalat di Masjid, menjaga adab pergaulan islami, dll. Meski keluarga saya Muhammadiyah, saya bersimpati kepada saudara-saudara seiman di HT, yang menyeru bahwa akan ada saatnya Khilafah Islamiyah hadir kembali di muka bumi dan aktivisnya mirip dengan aktivis Tarbiyah yang rajin shalat di masjid dll. Meski keluarga saya Muhammadiyah saya juga simpati kepada saudara-saudara seiman saya di NU, mereka membumi dan sifat jama’ahnya kuat. Meski keluarga saya Muhammadiyah, saya simpati kepada semua orman, gerakan, harakah Islam sepanjang masih ahlussunnah. Meski keluarga saya Muhammadiyah, saya saat ini mungkin bukan Muhammadiyah tetapi ‘Muhammadiyah’ dengan arti pengikut Nabi Muhammad ShallaAllahu ‘alaihi wa Sallam.

Saya sangat ingin umat ini bersatu. Saya sangat ingin melihat persatuan ahlussunnah, sehingga musuh-musuh pun keder. Perbedaan pandangan Mazhab, itu biasa dalam ahlussunnah, bukankah sejak dulu ulama masyhur sudah ada perbedaan pendapat? Perhatian kita seharusnya adalah persatuan. Lihat saja, berapa banyak muslim dan negeri Islam terdzalimi? Namun kita hanya membahas dan berdebat tentang hal-hal yang tidak akan pernah selesai. Bukankah sesama muslim dan mukmin itu bersaudara? Papua, Pattani, Rohongya, Suriah, Palestina dan lainnya. Bukankah kesedihan mereka adalah kesedihan kita juga?  Masih banyak tugas kita semua, masih banyak PR umat ini, masih banyak saudara seiman kita yang masih terjajah. Kapan kita akan membebaskan mereka kalau kita terus menerus bertengkar soal khilafiyah? Mari campakkan segala macam ego kelompok, demi sesuatu yang lebih besar, Islam. Kita adalah satu, Islam. Pertengkaran dan permusuhan karena khilafiyah, hanya akan membuat musuh kita yang sebenarnya tepuk tangan dan tertawa.

Meski saya hanyalah seorang faqir ilmu, bolehlah saya berkata: Bersatulah wahai umat! Bersatulah ahlus Sunnah!

Sekali lagi, ya sekali lagi, sebelum saya mengakhiri tulisan ini. Kita hanya butuh satu kata: Bersatu.

DNA: Mencari Bibit-Bibit Unggul Munsyid

Hujan tetap turun setia sejak siang hari di sekitar Bondowoso. Meski selepas isya hujan pun tunai, malam yang dingin semakin menjadi. Karena kegiatan adalah napas hidup di pondok pesantren, maka malam yang dingin bukan penghalang. 12 Februari 2015, selepas Isya gedung serba guna (GSG) Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso hingga di luar gedung dipenuhi oleh santriwan dan santriwati.

Mereka menghadiri acara roadshow salah satu tim nasyid (lagu islami) dari Kota Jember, yaitu DNA. DNA, bukan apa yang dipelajari dalam pelajari dalam biologi, tetapi DNA adalah singkatan dari Djember Nasyid Accapella. Roadshow DNA dilakukan dibeberapa kota di Jawa Timur khususnya se eks-karisidenan Besuki, di Bondowoso DNA memilih Pondok Pesantren Al-Ishlah tempatnya.

Kehadiran DNA disambut meriah. Ada sekitar 500an santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Ishlah yang mengikuti acara ini. Acara dibuka oleh Ustadz Rastiadi S.Pdi selaku wakil Majelis Pengasuhan Santri (MPS) Putra. “Berdakwah tidak hanya dilakukan dengan berbicara (ceramah), tetapi juga bisa dilakukan dengan seni musik. Salah satunya nasyid accapella yang dilakukan oleh kakak-kakak dari DNA ini.”

DNA digawangi oleh 6 personil, yaitu Jaka, Kamal, Yanuar, Agus, Didin, dan Syaifuddin. Nama terakhir tidak hadir karena sedang co-ass FKG Unej. Setelah memperkenalkan diri, Kamal mengatakan bahwa accapella itu no instrument mouth only. Accapella musiknya semua memakai mulut, karena unik dan murah inilah salah satu alasan kenapa DNA memilih mensyiarkan Islam melalui accapella.

DNA diketuai oleh Jaka, yang sudah pernah menelurkan album nasyid accapella di daerahnya dulu, Samarinda. Setelah menetap di Jember, Jaka mengajak teman-teman di pengajiannya yang berminat di dunia nasyid. Setelah sepakat personilnya, maka jadilah DNA. “Jika ada yang bilang accapella identik dengan salah satu agama, saya mengatakan tidak. Karena yang menemukan not (musik) itu ilmuwan muslim. Karenanya dalam not ada pengucapan “fa”, yang orang Barat tidak mampu mengucapnya dengan fasih,” tambah Jaka.

Tujuan diadakannya roadshow nasyid ini, DNA berharap akan lahir bibit-bibit generasi munsyid (penyanyi nasyid) accapella yang luar biasa dari Pondok Pesantren Al-Ishlah. Selain itu sebagai follow up, DNA akan mengadakan lomba nasyid se eks-karisidenan Besuki. Acara tidak hanya dilakukan talkshow semata, tetapi diselingi dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh grup nasyid yang sudah menelurkan satu album ini dan grup nasyid Pondok Pesantren Al-Ishlah, Shoutul Ishlah Junior, yang menyanyikan cover dua lagu Rhoma Irama dengan accapella.

Ada lima lagu nasyid yang dinyanyikan oleh DNA, salah satunya sebagai lagu terakhir yaitu cover lagu Goyang Dumang dengan pengubahan syair dan judulnya menjadi Ayo Baca Qur’an! Lagu yang nge-beat namun bisa di-accapellakan dengan baik oleh DNA. Penonton  semua antusias menonton dan mendengarkan. Karena selain menghibur dengan lirik yang bermakna, sepulang dari acara mereka pun akan terinspirasi dan ingin mengikuti jejak DNA. Semoga!

Ustadz Rastiadi, DNA dan MC
Ustadz Rastiadi, DNA dan MC
qori
qori
santriwan
santriwan
DNA in action
DNA in action
DNA
DNA
DNA
DNA
Shoutul Ishlah Junior In Action
Shoutul Ishlah Junior In Action
SI Junior
SI Junior
SI Junior
SI Junior
santri yang mendapatkan album perdana DNA gratis
santri yang mendapatkan album perdana DNA gratis
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA dan Ustadz Azhar
DNA dan Ustadz Azhar
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di harian surya selasa 24 februari 2015