Membaca dan Menulis Adalah Suami Istri Yang Tidak Bisa Dipisahkan

IMG_20170830_112315.jpg
alhamdulillah.

Alhamdulillah, pagi menjelang siang tadi saya diberi kesempatan untuk berbagi tentang membaca dan menulis kepada adik-adik SMAN 2 Bondowoso. Salah satu SMA favorit di kota saya. Sebenarnya saya diminta oleh Bu Olif (Guru SMAN 2) untuk memberi materi tentang literasi, ya literasi sekolah.

Saya pun meminta maaf, kalau tentang literasi sekolah yang pernah diadakan literasi oleh Kemendikbud untuk guru-guru saya tidak punya ilmunya. Karena saya bukan guru dan tidak pernah mengikuti seminar  literasi sekolah. Saya bisa jika berbicara tentang sedikit motivasi tentang membaca dan menulis sesuai pengalaman saya.

Bu Olif pun mengiyakan. Maka jadilah tadi saya berbicara tentang membaca dan menulis. Saya memulai bahasan dengan minat baca di negeri kita tercinta ini yang masih sangat rendah, bahkan dalam penelitian dari 61 negara, negara kita peringkat 60 dalam membaca. Begitu rendahnya. Begitu mirisnya.

WhatsApp Image 2017-08-30 at 13.30.32.jpeg
bersama Bu Olif dan sebagian panitia

Kemudian saya membahas tentang bahwa tak cukup kita merasa miris dan bahkan mengutuk permasalahan ini. Tapi, mari kita buat solusi, jadilah solusi. Meminjam kata Pak Anies Baswedan, “Jangan hanya mengutuk kegelapan, tetapi jadilah lili (penerang)!” Tak bermaksud riya, hanya ingin memotivasi, saya pun membuat taman baca di car free day dan di rumah, walau seorang diri. Dengan niat untuk mengajak masyarakat Bondowoso, utamanya menstimulus anak-anak kecil seumuran TK dan SD untuk merasakan nikmatnya membaca.

Selanjutnya saya membahas tentang bahwasanya membaca dan menulis itu tidak bisa dipisahkan. Seperti kata Pak Hernowo, bahwa membaca dan menulis bagaikan suami istri yang tidak bisa dipisahkan. Itu kenapa pula saya memberi judul slide materi yang ditampilkan dengan Membaca itu Hot, Menulis itu Cool.

Saya mengambil ungkapan ini dari pembatas buku yang diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media. Saya memaknainya, bahwa kedua kegiatan ini hot dan cool yang berarti keren! Selain itu, juga bermakna bahwa membaca dan menulis itu saling berkaitan seperti panas dan dingin. Keduanya harus ada, agar bisa merasakan rasa perbedaanya.

WhatsApp Image 2017-08-31 at 22.02.30(1)

Bila membaca saja, terasa kurang rasanya. Karenanya, harus ada upaya mengikat makna, seperti teori Pak Hernowo. Mengikat makna itu bertujuan, agar membaca ini benar-benar menghasilkan. Selain bermanfaat untuk lebih mudah mengingat isi yang dibaca, juga bisa menjadi sebuah hasil yaitu sebuah karya.

Sederhananya mengikat makna itu, bisa mengungkapkan apa yang dirasakan dan didapatkan ketika membaca suatu buku, atau lebih luasnya adalah menjadi sebuah review buku yang juga diniatkan untuk berbagi pengalaman membaca kepada orang lain. Selain itu saya juga membahas, bagaimana cara agar mau membaca.

Saya mengungkapkan pengalaman saya sendiri, yaitu dengan cara menumbuhkan rasa penasaran, merasa tidak tahu dan bodoh. Dengan begitu, maka ketika melihat sebuah buku, maka akan mencoba untuk membaca dan mengambil manfaatnya. Selain itu, saya juga mengungkapkan teori Pak Hernowo lagi, yaitu AMBAK. AMBAK adalah Apa Manfaatnya Bagiku. Nah, ketika melihat beberapa buku. Kita bisa menggunakan AMBAK untuk memilih yang mungkin lebih kita butuhkan manfaatnya saat ini. Bisa juga memilih yang ada manfaatnya, meski mungkin manfaatnya untuk masa depan. Karena, sejatinya tidak ada buku yang tidak bermanfaat, baik itu di masa kini atau di masa datang. Sama halnya dengan tidak ada buku lama atau bekas, tetapi adanya adalah buku yang belum pernah dibaca.

Saya juga bercerita tentang asyiknya menulis, tentang teori teko yang saya dapatkan dari  salah satu guru menulis saya seorang dosen dan penulis produktif Pak Nurudin, tentang seorang yang sakit juga tentang pengalaman saya yang bisa terbang ke Jakarta disebabkan menulis. Harapannya, sedikit itu bisa memotivasi adik-adik SMAN 2 Bondowoso, untuk mau memulai untuk membudayakan membaca dan menulis.

Di akhir, acara setelah pertanyaan, saya memberi para peserta tantangan untuk menulis minimal satu paragraf berdasarkan satu gambar. Dan, hasilnya, ternyata banyak di antara peserta memiliki ide unik dan mampu mengekplorasi gambar menjadi sebuah cerita yang unik, tidak hanya satu paragraf. Bahkan, ada yang awalnya hanya bercerita dulu, tanpa menuliskannya. Ternyata, kisahnya lucu dan mampu membuat semua peserta tertawa. Akhirnya saya memaksa dia untuk menuliskan ceritanya. Setidaknya ini membuktikan bahwa ada banyak potensi di SMAN 2 Bondowoso, selain Ayu yang memang pernah menerbitkan KKPK-nya sejak di bangku SD Plus Al-Ishlah Bondowoso. Tinggal memoles, memotivasi dan membimbing mereka, semoga ada yang jadi penulis yang karyanya menghiasi Indonesia. Semoga!

 

Mengenalkan Buku Kepada Adik

16423142_10208249064809261_5347814824651514378_o.jpg

Alhamdulillah, hari ini usianya sudah 5 tahun. Semoga menjadi anak shalihah, sehat dan barakah ya adik Arfa Nazihah Ashri.

Sebagai seorang kakak, saya mengenalkan dia kepada buku. sejak dia hanya didongengkan oleh Ummi, sampai sekarang saat dia sudah mulai bisa mengeja huruf. Beberapa buku anak, biasanya saya dapat dari request kepada penerbit sebagai reward dari menulis resensi, tidak hanya bermodal resensi jika ada rezeki pun saya membeli buku anak juga. Selain untuk dibaca oleh adik saya, juga untuk saya bawa ketika membuka taman baca di Car Free Day Alun-alun Bondowoso (wah, jadi kangen buka taman baca lagi). Alhamdulillah, dia sudah mengenal buku, dan bahkan kadang minta dibelikan,  “Mas Adik belikan buku Naura-seri Naura Penerbit NouraBooks- yang ini ya, buku ini dan itu ya, dan bahkan salah satu permintaannya dari beberapa permintaannya ketika doa setelah shalat adalah meminta buku baru

Alhamdulillah, sebelum 6 februari, request saya atas buku anak karya Mbak Tethy  Ezokanzo dikabulkan oleh penerbit dan sampai. Jadilah ini buku baru di hari lahirnya. Semoga semakin mencintai buku dan ilmu ya Dik. Menjadi ahli ilmu yang mengamalkan menyebarkannya, aamiin… 🙂

(Mudah) Menulis

13041142_10206142837714900_1587209896193752929_o

Seperti kata Mbak Afra, “Menulis adalah menuangkan isi kepala.” Agar mudah dalam menulis, kepala harus diisi dulu dengan membaca. Selain memberitahu dasar-dasar menulis yang saya tahu, saya juga memotivasi adik-adik kelas menulis di Sdmuhammadiyah Bondowoso untuk semangat membaca.

Karenanya, setiap pertemuan saya selalu membawa buku dan majalah anak yang saya punya. Kebetulan paginya baru datang buku anak terbaru terbitan Penerbit Indivamedia Kreasikarya Mas Saleh Khana dan juga karya Kharissa Nurmanita Fayanna Ailisha Davianny dkk, jadi saya bawa juga ke pertemuan mingguan untuk foto bareng dengan dua buku tersebut.

Namun, dua buku tersebut belum boleh mereka pinjam, karena saya belum baca. Dua buku anak ini sangat bagus, karena tidak hanya menghibur namun ada nilai-nilai yang berusaha ditanamkan kepada pembaca anak. Recommended! 🙂

Toko Gadget Tumbuh Bak Jamur, Toko Buku Runtuh Bak Dibom

sumber: http://www.fardelynhacky.com/
sumber: http://www.fardelynhacky.com/

Selalu saja saya menemukan hal baru, termasuk renungan baru, ketika membuka taman baca di Car Free Day Alun-Alun Bondowoso yang digagas oleh Bondowoso Writing Community. Pagi itu, tikar yang digelar sudah dipenuhi oleh banyak pengunjung dari anak-anak hingga orang tua.

Ada seorang bapak yang saya merasa pernah bertemu entah di mana, dia membaca buku Ayah Edy Punya Cerita. Setelah meregangkan otot tubuh, dan memotret pengunjung, saya duduk di salah satu tikar yang masih kosong. Kebetulan berdekatan dengan bapak yang membaca buku Ayah Edy itu.

“Nggak bisa dipinjam buku ini ya mas?” tanyanya.

“Belum boleh pak” saya jawab sambil tersenyum.

Kemudian kami mengobrol.

Dia mengatakan bahwa buku Ayah Edy yang dia baca itu sangat bagus. Menurutnya, menjadi orangtua juga perlu ilmu. Nggak ujug-ujug sudah bisa, karena merasa sudah dewasa. Padahal, ada banyak ilmu tentang parenting yang perlu diketahui, utamanya untuk mengatasi problem anak-anak masa kini.

“Nggak bisa habis nih mas, kalau Cuma baca-baca di sini,” ujarnya lagi.

“Iya sih Pak, tapi ya memang belum bisa dipinjam. Kalau ingin menghabiskan buku itu, kalau bisa minggu depan datang lagi aja ya Pak. Insya Allah tiap hari minggu kamu buka taman baca di sini,” saya menyarankan.

Bapak itu melanjutkan bacanya lagi.

“Buku mas semua ini ya?” Tanyanya lagi.

“Kebetulan iya Pak, biasanya ada buku teman-teman BWC yang lain,”

“Wah banyak ya buku koleksi mas. Mas Siapa tadi?”

“Saya Ridho Pak. Iya Pak, Alhamdulillah saya dapat buku-buku ini dari penerbit. Sebagai imbalan meresensi buku-buku yang mereka terbitkan.”

“Wah, enak ya mas.”

“Iya pak, Alhamdulillah.”

Diam sejenak.

Semenit kemudian bapak itu, memperkenalkan diri dan ternyata dia adalah pemilik Toko Dian. FYI, Toko Dian adalah toko yang menjual buku, majalah, koran, dan berbagai perlengkapan sekolah. Tapi sayangnya kini, Toko Dian harus menggulung tikar. Dulu, saat masih SD, saya biasa mengumpulkan uang saku untuk membeli Majalah Mentari. Salah satu toko buku tempat saya beli majalah ya Toko Dian itu. Aha! Ya, akhirnya saya ingat pernah melihat bapak itu ketika membeli Majalah Mentari beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, bertemu dengan salah satu pemilik toko buku yang berjasa membuat saya cinta membaca, meski saat ini tokonya sudah tidak buka lagi.

“Sudah lama nutupnya mas. Bertambah tahun, pelanggan semakin berkurang, padahal selain laba menjual buku itu lumayan, bagi saya membaca itu sangat bermanfaat.

“Saya merasakan sendiri kalau membaca itu sangat bermanfaat, keluarga saya terbiasa membaca buku semua, Majalah Intisari selalu langganan, bahkan maaf, saat buang air besar saja disediakan buku bacaan,” katanya sambil tertawa.

Bapak itu pun melanjutkan membacanya lagi.

Diam. Senyap.

sumber: fanspage Bondowoso Writing Community
sumber: fanspage Bondowoso Writing Community

Saya terkenang dengan masa lalu. Nostalgia. Ya, ada banyak toko buku, majalah dan koran di Bondowoso. Toko Doni, Sumber Ilmu, Samson, Ayu Media, UD. Siswa, Toko Dian, dan ada satu lagi saya lupa namanya. Tapi, saat ini hampir semuanya sudah gulung tikar. Sampai saat ini yang masih eksis adalah Toko Doni, Sumber Ilmu, Ayu Media, UD. Siswa, itupun hidup segan mati tak mau. Toko Doni setahu saya buku-bukunya rata-rata buku yang sudah lama dan jarang terbitan baru. Ayu Media pun sama, tetapi untuk majalah, koran, tabloid, masih lancar. UD. Siswa kini menjadi semacam rumah makan tetapi tetap menjual koran, tabloid satu dua. Sebenarnya ada toko buku baru selepas saya menjadi pengabdian di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Saya juga sempat nitip buku dan majalah di sana, namun ternyata toko buku tersebut hanya bertahan sekitar dua tahun.

Ada apa ini? Fenomena apa ini? Apa hal semacam ini tidak meresahkan?

Sudah lama saya memikirkan ini. Toko buku di kotaku ini sepi bahkan mati, sedangkan toko gadget semakin banyak bak jamur. Apa permasalahannya? Kalau saya amati, gadget bagi semua orang sangat digemari, sedangkan membaca dan buku sangat kurang digemari. Hal ini berarti ada orang yang membaca, tapi itu pun sangat sedikit (tanpa menafikan mereka yang membaca versi digital via ponsel pintar). Sehingga, beginilah jadinya, toko buku sedikit atau bahkan tidak ada, sedangkan toko gadget terus bertambah. Seharusnya, kedua toko ini tumbuh bersama. Karena, saya kira keduanya bisa saling mendukung dan itu bisa menjadi corong kemajuan. Tetapi kalau hanya gadget saja yang semakin digemari, maka akan menimbulkan beberapa efek negatif, seperti kebergantungan anak pada Google sehingga malas membuka kamus atau buku, padahal dengan membuka kamus dan membaca buku ada pembelajaran di sana. Selain itu, ada efek negatif yang sangat tidak baik jika sejak kecil anak-anak sudah mengenal gadget, seperti mudah marah, labil dll. Hal ini berdasarkan penelitian Yee Jin-Shin seorang psikiater asal Korea. Bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Mendidik Anak di Era Digital, dan sudah saya buat resensinya https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/03/11/mendidik-anak-di-era-digital/.

Jujur saja, apa yang saya tulis ini bukan sok peduli. Ya, karena memang passion saya di dunia ini. Saya merasa dunia pendidikan tidak akan maju tanpa buku, Karena buku adalah salah satu media belajar. Saya ingin Indonesia maju, saya ingin Bondowoso maju. Maju dengan tetap beriman kepada Tuhan. Itu saja. Sangat lucu bukan, jika kita hanya  pandai menggunakan karya orang (gawai atau gadget), tetapi kita tidak bisa berkreasi sendiri. Kita sebenarnya bisa. Ya bisa, jika mau belajar salah satunya dengan membaca. Karena tanpa membaca, kita bukan siapa-siapa. Tanpa membaca kita akan kalah. Semoga taman baca dan kegiatan literasi lainnya yang diadakan Bondowoso Writing Community, bisa memberikan sumbangsih bagi kemajuan Bondowoso. Walaupun hanya sedikit, setidaknya memberikan stimulus agar orang tergerak untuk membaca dan belajar. Semoga ke depan semakin banyak orang di Bondowoso akan pentingnya literasi 🙂

*reportase tentang taman baca Bondowoso Writing Community dimuat di Harian Surya

https://penulispembelajar.wordpress.com/2015/04/27/baca-buku-gratis-di-taman-baca-bwc/

Yuk, Dukung Ketika Mas Gagah Pergi Jadi Film!

cover baru ketika mas gagah pergi
cover baru ketika mas gagah pergi

Saya sejak kecil, alhamdulillah sudah kenal dunia buku, biasa di dongengi oleh Ummi. Akhirnya, saya pun suka membaca. Apapun itu, majalah aku anak Soleh, majalah mentari, komik Dragon Ball saya tamat, majalah bahasa inggris FUN dll. Awal masuk pondok saya hanya suka membaca buku-buku Islam non fiksi, cukup sering beli Majalah Sabili. Saya juga biasa mengingat nama-nama penulis buku, kebetulan saya mendapat tugas menjaga wartel untuk santri yang juga menjual buku-buku Islami. Kemudian sekitar kelas 3 KMI saya mencoba untuk membaca Ayat-Ayat Cinta kang Abik, Habiburrahman El Shirazy. Saya tertarik karena cukup banyak yang bilang novel ini bagus. Padahal sewaktu masih kelas 2 KMI ada ustadz yang suka membaca merekomendasikan novel karya alumni Al-Azhar Mesir itu. Tapi, waktu itu saya belum tertarik.

Setelah selesai membaca ‪#‎AAC‬, pandangan bahwa buku-buku fiksi memiliki manfaat dan bisa bernilai dakwah di dalamnya. Sejak itu saya mencoba menyukai karya fiksi. Langganan Majalah Annida dan membeli buku-buku fiksi Islami yang dimotori FLP. Cukup telat ternyata saya menyukai karya-karya FLP. Banyak buku-buku FLP yang belum saya baca, tetapi sudah jarang di pasaran. Waktu itu saya hanya dapati serial Marabunta Mba Afifah Afra Satu, di beberapa seri saja. Kemudian yang lain saya hanya dapat karya FLP yang terbaru saja.

Beberapa tahun kemudian saya membaca ada sebuah buku fiksi Islami yang memiliki banyak pengaruh bagi pembacanya. Salah satu pengaruhnya, pembaca akhirnya mau memakai jilbab. Buku itu berjudul‪#‎KetikaMasGagahPergi‬ nantinya disingkat ‪#‎KMGP‬, karya Bunda Helvy Tiana Rosa. Saya mencoba cari tahu tentang apa buku tersebut. Saya menemukan beberapa pdf tentang cerpen #KMGP tetapi tidak lengkap ceritanya. Mencari bukunya juga sudah tidak ada di pasaran. Saya cari-cari karya Bunda Helvy yang lain, hanya menemukan ‪#‎Bukavu‬

Saya penasaran. Dan akhirnya setelah saya kuliah di Malang dan mengetahui #KMGP telah diterbitkan ulang di Penerbit milik mba Asma Nadia, Penerbit Asma Nadia. Ketika ada Islamic Book Fair, saya membeli buku tersebut. Dengan adanya penambahan dalam cerpen #KMGP yang kemudian berjudul ‪#‎KetikaMasGagahPergiDanKembali‬.

Meski telat membaca full dan ada tambahan cerita. Kumpulan cerpen ini tidak mengecewakan saya. Saya sangat suka malah dan menjadi salah satu buku yang saya sukai. Semua cerpen di dalamnya bagus-bagus, menginspirasi, memotivasi. Bahkan saya sempat membuat resensinya dan dimuat di koran kampus.

Ketika ada kabar #KMGP akan dibuat film, wah saya senang sekali dan tak sabar untuk menonton. Terakhir kabar yang tersiar, sudah ada casting. Namun, ternyata pembuatan film #KMGP menunggu waktu yang tepat, waktu yang lebih indah-kata anak sekarang

Nah, bagi Anda pembaca buku-buku Bunda Helvy Tiana Rosa (HTR)khususnya #KMGP dan ingin sekali #KMGP difilmkan. Yuk, gabung di Grup Fb KMGPKita https://www.facebook.com/groups/kmgpkita/, untuk menyuarakan dukungan kita dan membantu proyek film ini semampu kita.

Yang mau baca resensi #KMGPhttp://ridhodanbukunya.wordpress.com/2012/03/25/inspirasi-dari-ketika-mas-gagah-pergi-new-edition/ semoga bermanfaat.

Yuk dukung #KMGP jadi film!