Idul Adha Di Hari Selasa, Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso Menyembelih Ribuan Hewan Kurban

5b7c2768ba24b.jpg

Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso melaksanakan hari raya Idul Adha pada hari selasa, tanggal 21 Agustus 2018. Hal ini mengikuti Mekkah yang juga melaksanakan Idul Adha hari ini.

“Berdasarkan fatwa Syaikhul Azhar dan Rabitah Alam Islami tahun 1975, menetapkan bahwa patokan awal Dzulhijah adalah rukyah ahlul Mekkah,” kata Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso K.H. Thoha Yusuf Zakaria.

Karena wukuf di Arafah telah dilakukan pada hari senin, maka hari selasa adalah Hari Raya Idul Adha.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur Abi K.H. Muhammad Ma'shum.jpg
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur Abi K.H. Muhammad Ma’shum

“Saya cari yang gampang. Nabi itu ber-Idul Adha pada 10 Dzulhijjah-nya Mekkah. Nanti benar salahnya, biar Allah yang memberi nilai. Yang penting kita harus saling menghormati,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso K.H. Muhammad Ma’shum.

Setelah Shalat Id, di Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso juga dilaksanakan penyembelihan hewan kurban. Pada tahun ini hewan yang disembelih ada 107 sapi dan 1530 kambing.

5b7c2704054d9.jpg

Semua hewan kurban ini adalah bantuan dari kaum Muslim dari Singapura yang diketuai oleh H. Noordin. Saat ini adalah tahun ke 21, kerjasama Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso dengan Muhibbah Singapura. “Banyak kemajuan penyembelihan di Al-Ishlah, para petugas dilatih dan ditingkatkan kemahirannya. Sehingga pelaksanaan penyembelihan, pengulitan, pencacahan dan seterusnya dapat dilakukan dengan cepat dan lancar,” kata Ustadz Suhaimi, salah satu rombongan dari Muhibbah Singapura.

Dalam pelaksanaan penyembelihan kurban kali ini, ada 400 petugas terdiri dari jama’ah, wali santri dan asatidz. Penyembelihan dimulai pukul 08.00 pagi dan selesai pukul 18.00.

Wakil Pimpinan Pondok K.H. Thoha Yusuf Zakaria LC dan Ketua Muhibbah Singapura H. Noordin.jpg
Wakil Pimpinan Pondok K.H. Thoha Yusuf Zakaria LC dan Ketua Muhibbah Singapura H. Noordin

Hadir juga drh. Cendy Herdiawan , Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kemvet, P2HP, Dinas Pertanian Bondowoso beserta petugas lainnya guna memeriksa hewan yang akan disembelih. “Kami akan memeriksa hewan-hewan sebelum disembelih dan ketika telah disembelih akan memeriksa dan menyeleksi mana daging yang bisa dikonsumsi dan mana yang diafkir (dibuang),” ungkap dokter Cendy.

Daging kurban akan dibagikan kepada pemilik kupon. Sebanyak 25.000 kupon telah dibagikan sejak tiga hari sebelum hari H. Kupon-kupon dibagikan kepada masyarakat di sekitar Desa Dadapan, wali santri, dan juga pondok pesantren sejawat yang mengajukan proposal. (mrr)

Rilis berita ini dimuat di:

1. Republika Online (dengan sedikit sentuhan editor)

2. Antaranews.com (rilis ditulis ulang oleh wartawan)

*Satu Frekuensi* (Ngobrol Santai Dengan dr. Rasmono 2)

Screenshot_2018-04-09-13-06-31-320_com.instagram.android.png

Hidup adalah pertemuan dan perpisahan. Hari ini bertemu, esok berpisah. Anugerah pertemuan terkadang penuh misteri. Begitu juga dengan perpisahan.

Suatu ketika dokter Rasmono bercerita tentang misteri pertemuan. Dokter Rasmono ingin sekali bertemu dengan Abi K.H. Muhammad Ma’shum. Dokter ingin sharing tentang keinginan dan harapannya.

Karena Abi Ma’shum sibuk sekali, beberapa kali ingin sowan namun belum berjodoh. Beberapa kali menghubungi juga Abi Ma’shum sibuk.

“Mungkin karena saya belum dikenal ya Om,” kata dokter.

Asa untuk bertemu pun tetap dijaga. Karena bukan tidak mungkin akan ada waktu semainya pertemuan. Meski tidak harus berharap yang memaksa.

Tiba-tiba ada orang yang menghibungi Dokter Rasmono. Ternyata Ustadzah Afifah, anak Abi Ma’shum. Dokter Rasmono diminta untuk membantu pengobatan Abi.

“Ketika saya sudah tidak ‘mengejar’, Abi ‘datang’ ke saya juga. Itu karena saya masih menjaga harapan Om.”

Maka, sejak itu hingga acara Reuni 212 di Bondowoso tepatnya Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso, Dokter Rasmono menjadi Dokter yang merawat Abi Ma’shum. Abi Ma’shum waktu itu dapat ‘cuti’ dari Dokter rumah sakit untuk pulang dan hadir dalam acara yang beliau gelar di pondoknya, untuk menghormati para tamu.

Hari-hari itu, Dokter Rasmono bisa berbicara cukup intens dengan Abi Ma’shum. Dokter Rasmono pun didukung oleh Abi Ma’shum segala harapan dan gerakannya saat ini.

“Meski berupa ucapan dukungan, tetapi hal ini cukup bagi saya Om. Saya semakin semangat,” ucap Dokter dengan wajah berseri.

Ini yang dinamakan satu frekuensi. Ada kalanya harapan-harapan yang tetap dijaga akan bertemu jua.

“Seperti saya bertemu Om. Saya memiliki gagasan, saya memiliki harapan, ingin saya tulis, kadang langsung lupa, kadang sulit mau menulisnya gimana. Akhirnya, bertemu Om Ridho yang punya kemampuan menulis. Saya bersyukur sekali,” suatu ketika dalam perjalanan ke klinik untuk senam Chi (cek https://penulispembelajar.wordpress.com/2017/07/20/sehat-dengan-terapi-senam-chi/ ) setiap Jum’at.

Pertemuan adalah berkah. Silaturrahim menjaganya agar tidak terlupa bisa jadi tidak mudah. Namun, harus tetap diusahakan.

Rasa kagum, suka, cinta, termasuk satu frekuensi yang kadang membuat keajaiban. Ayah saya termasuk kagum sekali dengan pemikiran dan kebiasaan Islami Pak Amien Rais. Beberapa kali Ayah saat bertemu Pak Amien di Jakarta- di Bondowoso beberapa tahun lalu, selalu berfoto bersama ( Ketika Mbak Hanum mengirim surel ke saya karena menulis resensi atas buku beliau yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2016/08/08/bulan-terbelah-di-langit-amerika-karya-hanum-salsabiela-rais-rangga-almahendra/ saya pun melampirkan foto-foto tersebut ketika saya balas surel Mbak Hanum). Dan kemarin saat Reuni 212 di Pondok pesantren Al-Ishlah Bondowoso Ayah tanpa sengaja bisa mudah bertemu dengan Pak Amien dan lagi-lagi foto bareng.

Begitulah, pun halnya keinginan kelak bertemu Sang Maha Terindah Allah Subhanahu wa ta’ala dan kekasihnya Muhammad ShallaAllahu ‘Alaihi Wa Sallam, sudah wajib dimulai dengan mencintai dan taat kepada seluruh perintah dan ajaran-Nya. Semoga Allah menolong kita semua. Aamiin.

#drrasmono #satufrequensi #menulis #senamqi #senamchi #khmuhammadmashum #amienrais #hanumrais #pondokpesantrenalishlahbondowoso #reuni212 #menjagaasa

Tunas Cahaya

IMG_7599
Kita adalah tunas
yang disiram di sepertiga malam
dengan air bak zam-zam
mata air tercurah nan berkhasiat

Kita adalah bebunga
yang tumbuh di kebun cahaya
berkembang merekah indah
mewangi mewarnai dunia

: terima kasih atas
segala siram yang tak terhingga

semoga Allah curahkan berkah tak terkira

*oleh-oleh temu alumni nasional Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso 15-17 Juli 2016, credit:Abdurrahman Abdullah

 

Toko Gadget Tumbuh Bak Jamur, Toko Buku Runtuh Bak Dibom

sumber: http://www.fardelynhacky.com/
sumber: http://www.fardelynhacky.com/

Selalu saja saya menemukan hal baru, termasuk renungan baru, ketika membuka taman baca di Car Free Day Alun-Alun Bondowoso yang digagas oleh Bondowoso Writing Community. Pagi itu, tikar yang digelar sudah dipenuhi oleh banyak pengunjung dari anak-anak hingga orang tua.

Ada seorang bapak yang saya merasa pernah bertemu entah di mana, dia membaca buku Ayah Edy Punya Cerita. Setelah meregangkan otot tubuh, dan memotret pengunjung, saya duduk di salah satu tikar yang masih kosong. Kebetulan berdekatan dengan bapak yang membaca buku Ayah Edy itu.

“Nggak bisa dipinjam buku ini ya mas?” tanyanya.

“Belum boleh pak” saya jawab sambil tersenyum.

Kemudian kami mengobrol.

Dia mengatakan bahwa buku Ayah Edy yang dia baca itu sangat bagus. Menurutnya, menjadi orangtua juga perlu ilmu. Nggak ujug-ujug sudah bisa, karena merasa sudah dewasa. Padahal, ada banyak ilmu tentang parenting yang perlu diketahui, utamanya untuk mengatasi problem anak-anak masa kini.

“Nggak bisa habis nih mas, kalau Cuma baca-baca di sini,” ujarnya lagi.

“Iya sih Pak, tapi ya memang belum bisa dipinjam. Kalau ingin menghabiskan buku itu, kalau bisa minggu depan datang lagi aja ya Pak. Insya Allah tiap hari minggu kamu buka taman baca di sini,” saya menyarankan.

Bapak itu melanjutkan bacanya lagi.

“Buku mas semua ini ya?” Tanyanya lagi.

“Kebetulan iya Pak, biasanya ada buku teman-teman BWC yang lain,”

“Wah banyak ya buku koleksi mas. Mas Siapa tadi?”

“Saya Ridho Pak. Iya Pak, Alhamdulillah saya dapat buku-buku ini dari penerbit. Sebagai imbalan meresensi buku-buku yang mereka terbitkan.”

“Wah, enak ya mas.”

“Iya pak, Alhamdulillah.”

Diam sejenak.

Semenit kemudian bapak itu, memperkenalkan diri dan ternyata dia adalah pemilik Toko Dian. FYI, Toko Dian adalah toko yang menjual buku, majalah, koran, dan berbagai perlengkapan sekolah. Tapi sayangnya kini, Toko Dian harus menggulung tikar. Dulu, saat masih SD, saya biasa mengumpulkan uang saku untuk membeli Majalah Mentari. Salah satu toko buku tempat saya beli majalah ya Toko Dian itu. Aha! Ya, akhirnya saya ingat pernah melihat bapak itu ketika membeli Majalah Mentari beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, bertemu dengan salah satu pemilik toko buku yang berjasa membuat saya cinta membaca, meski saat ini tokonya sudah tidak buka lagi.

“Sudah lama nutupnya mas. Bertambah tahun, pelanggan semakin berkurang, padahal selain laba menjual buku itu lumayan, bagi saya membaca itu sangat bermanfaat.

“Saya merasakan sendiri kalau membaca itu sangat bermanfaat, keluarga saya terbiasa membaca buku semua, Majalah Intisari selalu langganan, bahkan maaf, saat buang air besar saja disediakan buku bacaan,” katanya sambil tertawa.

Bapak itu pun melanjutkan membacanya lagi.

Diam. Senyap.

sumber: fanspage Bondowoso Writing Community
sumber: fanspage Bondowoso Writing Community

Saya terkenang dengan masa lalu. Nostalgia. Ya, ada banyak toko buku, majalah dan koran di Bondowoso. Toko Doni, Sumber Ilmu, Samson, Ayu Media, UD. Siswa, Toko Dian, dan ada satu lagi saya lupa namanya. Tapi, saat ini hampir semuanya sudah gulung tikar. Sampai saat ini yang masih eksis adalah Toko Doni, Sumber Ilmu, Ayu Media, UD. Siswa, itupun hidup segan mati tak mau. Toko Doni setahu saya buku-bukunya rata-rata buku yang sudah lama dan jarang terbitan baru. Ayu Media pun sama, tetapi untuk majalah, koran, tabloid, masih lancar. UD. Siswa kini menjadi semacam rumah makan tetapi tetap menjual koran, tabloid satu dua. Sebenarnya ada toko buku baru selepas saya menjadi pengabdian di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Saya juga sempat nitip buku dan majalah di sana, namun ternyata toko buku tersebut hanya bertahan sekitar dua tahun.

Ada apa ini? Fenomena apa ini? Apa hal semacam ini tidak meresahkan?

Sudah lama saya memikirkan ini. Toko buku di kotaku ini sepi bahkan mati, sedangkan toko gadget semakin banyak bak jamur. Apa permasalahannya? Kalau saya amati, gadget bagi semua orang sangat digemari, sedangkan membaca dan buku sangat kurang digemari. Hal ini berarti ada orang yang membaca, tapi itu pun sangat sedikit (tanpa menafikan mereka yang membaca versi digital via ponsel pintar). Sehingga, beginilah jadinya, toko buku sedikit atau bahkan tidak ada, sedangkan toko gadget terus bertambah. Seharusnya, kedua toko ini tumbuh bersama. Karena, saya kira keduanya bisa saling mendukung dan itu bisa menjadi corong kemajuan. Tetapi kalau hanya gadget saja yang semakin digemari, maka akan menimbulkan beberapa efek negatif, seperti kebergantungan anak pada Google sehingga malas membuka kamus atau buku, padahal dengan membuka kamus dan membaca buku ada pembelajaran di sana. Selain itu, ada efek negatif yang sangat tidak baik jika sejak kecil anak-anak sudah mengenal gadget, seperti mudah marah, labil dll. Hal ini berdasarkan penelitian Yee Jin-Shin seorang psikiater asal Korea. Bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Mendidik Anak di Era Digital, dan sudah saya buat resensinya https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/03/11/mendidik-anak-di-era-digital/.

Jujur saja, apa yang saya tulis ini bukan sok peduli. Ya, karena memang passion saya di dunia ini. Saya merasa dunia pendidikan tidak akan maju tanpa buku, Karena buku adalah salah satu media belajar. Saya ingin Indonesia maju, saya ingin Bondowoso maju. Maju dengan tetap beriman kepada Tuhan. Itu saja. Sangat lucu bukan, jika kita hanya  pandai menggunakan karya orang (gawai atau gadget), tetapi kita tidak bisa berkreasi sendiri. Kita sebenarnya bisa. Ya bisa, jika mau belajar salah satunya dengan membaca. Karena tanpa membaca, kita bukan siapa-siapa. Tanpa membaca kita akan kalah. Semoga taman baca dan kegiatan literasi lainnya yang diadakan Bondowoso Writing Community, bisa memberikan sumbangsih bagi kemajuan Bondowoso. Walaupun hanya sedikit, setidaknya memberikan stimulus agar orang tergerak untuk membaca dan belajar. Semoga ke depan semakin banyak orang di Bondowoso akan pentingnya literasi 🙂

*reportase tentang taman baca Bondowoso Writing Community dimuat di Harian Surya

https://penulispembelajar.wordpress.com/2015/04/27/baca-buku-gratis-di-taman-baca-bwc/

Roadshow Mas Gagah Di Al-Ishlah

Siapa yang tidak kenal Helvy Tiana Rosa, salah satu penulis nasional dengan segudang penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak 7-10 Mei 2015, dia berkeliling ke beberapa kota Jawa Timur. Di antaranya, Malang, Jember dan Bondowoso. Hal ini dalam rangka roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), yang dibuat berdasarkan novelet karya Helvy dengan judul yang sama.

Pada 10 Mei 2015 sore, Helvy bersama rombongan  mendatangi Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Dia berbicara di depan 300-an santriwan dan santriwati kelas takhasus, 4-6 KMI (Kulliyatul Muballighien Al-Islamiyah) Mahasantri STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), dan santri pesantren kilat PSPUP.

Bondowoso adalah kota keempat yang Helvy datangi untuk keperluan roadshow bakal film Ketika Mas Gagah Pergi, dan berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Ishlah auntuk pertama kalinya. Sejak masuk ke kawasan Al-Ishlah, Helvy mengaku langsung merasakan kesejukan pondok yang ada di bawah bukit Patirana.

Helvy mengatakan bahwa pondok pesantren adalah benteng terakhir Umat Islam. Karenanya, harus ada santri yang menulis. Karena saat ini Islam kekurangan penulis yang menuliskan kebenaran. Maka, harapannya dari santrilah yang melawan tulisan-tulisan yang mengerikan (berisi pergaulan bebas, sex dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama).

“Menulis itu persoalan disiplin dan tekad. Meskipun bapak kalian adalah petani, kakek kalian adalah petani, buyut kalian petani, bapak buyut kalian petani, kalian tetap bisa menjadi penulis. Bagaimana caranya? Teruslah, berlatih!,” ucap dosen UNJ dan juga pendiri Forum Lingkar Pena tersebut.

“Tulisan yang ditulis dengan hati, akan sampai kepada hati-hati lainnya. Tulisan yang ditulis dengan nurani, akan sampai kepada nurani-nurani lainnya,” tambah Helvy. Selain memotivasi santri untuk menulis, Helvy juga menceritakan perjuangannya untuk memfilmkan noveletnya (KMGP) agar tidak hilang ruh dakwahnya.

Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya "Mata Ketiga Cinta"
Mba Helvy membaca puisi dalam bukunya “Mata Ketiga Cinta”

Ada PH yang akan memfilmkan KMGP dan membayar 100 juta, tetapi cerita tentang jilbab dan Palestina harus dihapus. Dengan penuh idealisme, Helvy tidak menyetujui hal tersebut. Akhirnya, dia memilih untuk berkeliling Indonesia, bahkan ke luar negeri untuk mencari dukungan dan donasi, untuk bersama-sama membuat film Ketika Mas Gagah Pergi. Bagi anda yang merindukan film dengan nilai-nilai positif dan sangat meng-Indonesia tayang di bioskop. Yuk dukung KMPG, menjadi film!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di Harian Surya 2 Juni 2015

DNA: Mencari Bibit-Bibit Unggul Munsyid

Hujan tetap turun setia sejak siang hari di sekitar Bondowoso. Meski selepas isya hujan pun tunai, malam yang dingin semakin menjadi. Karena kegiatan adalah napas hidup di pondok pesantren, maka malam yang dingin bukan penghalang. 12 Februari 2015, selepas Isya gedung serba guna (GSG) Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso hingga di luar gedung dipenuhi oleh santriwan dan santriwati.

Mereka menghadiri acara roadshow salah satu tim nasyid (lagu islami) dari Kota Jember, yaitu DNA. DNA, bukan apa yang dipelajari dalam pelajari dalam biologi, tetapi DNA adalah singkatan dari Djember Nasyid Accapella. Roadshow DNA dilakukan dibeberapa kota di Jawa Timur khususnya se eks-karisidenan Besuki, di Bondowoso DNA memilih Pondok Pesantren Al-Ishlah tempatnya.

Kehadiran DNA disambut meriah. Ada sekitar 500an santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Ishlah yang mengikuti acara ini. Acara dibuka oleh Ustadz Rastiadi S.Pdi selaku wakil Majelis Pengasuhan Santri (MPS) Putra. “Berdakwah tidak hanya dilakukan dengan berbicara (ceramah), tetapi juga bisa dilakukan dengan seni musik. Salah satunya nasyid accapella yang dilakukan oleh kakak-kakak dari DNA ini.”

DNA digawangi oleh 6 personil, yaitu Jaka, Kamal, Yanuar, Agus, Didin, dan Syaifuddin. Nama terakhir tidak hadir karena sedang co-ass FKG Unej. Setelah memperkenalkan diri, Kamal mengatakan bahwa accapella itu no instrument mouth only. Accapella musiknya semua memakai mulut, karena unik dan murah inilah salah satu alasan kenapa DNA memilih mensyiarkan Islam melalui accapella.

DNA diketuai oleh Jaka, yang sudah pernah menelurkan album nasyid accapella di daerahnya dulu, Samarinda. Setelah menetap di Jember, Jaka mengajak teman-teman di pengajiannya yang berminat di dunia nasyid. Setelah sepakat personilnya, maka jadilah DNA. “Jika ada yang bilang accapella identik dengan salah satu agama, saya mengatakan tidak. Karena yang menemukan not (musik) itu ilmuwan muslim. Karenanya dalam not ada pengucapan “fa”, yang orang Barat tidak mampu mengucapnya dengan fasih,” tambah Jaka.

Tujuan diadakannya roadshow nasyid ini, DNA berharap akan lahir bibit-bibit generasi munsyid (penyanyi nasyid) accapella yang luar biasa dari Pondok Pesantren Al-Ishlah. Selain itu sebagai follow up, DNA akan mengadakan lomba nasyid se eks-karisidenan Besuki. Acara tidak hanya dilakukan talkshow semata, tetapi diselingi dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh grup nasyid yang sudah menelurkan satu album ini dan grup nasyid Pondok Pesantren Al-Ishlah, Shoutul Ishlah Junior, yang menyanyikan cover dua lagu Rhoma Irama dengan accapella.

Ada lima lagu nasyid yang dinyanyikan oleh DNA, salah satunya sebagai lagu terakhir yaitu cover lagu Goyang Dumang dengan pengubahan syair dan judulnya menjadi Ayo Baca Qur’an! Lagu yang nge-beat namun bisa di-accapellakan dengan baik oleh DNA. Penonton  semua antusias menonton dan mendengarkan. Karena selain menghibur dengan lirik yang bermakna, sepulang dari acara mereka pun akan terinspirasi dan ingin mengikuti jejak DNA. Semoga!

Ustadz Rastiadi, DNA dan MC
Ustadz Rastiadi, DNA dan MC
qori
qori
santriwan
santriwan
DNA in action
DNA in action
DNA
DNA
DNA
DNA
Shoutul Ishlah Junior In Action
Shoutul Ishlah Junior In Action
SI Junior
SI Junior
SI Junior
SI Junior
santri yang mendapatkan album perdana DNA gratis
santri yang mendapatkan album perdana DNA gratis
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA, Shoutul Ishlah Senior dan Junior
DNA dan Ustadz Azhar
DNA dan Ustadz Azhar
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*dimuat di harian surya selasa 24 februari 2015